
Cahaya yang sangat terang muncul dari arah monster tersebut.
Reo, Putri Alice, dan Naria yang berencana akan menyerang monster itu
langsung berhenti. “Terang sekali! Apa kau yang melakukannya?”(Naria).
“Tidak! Kali ini bukan aku.”(Reo). Saat cahaya tersebut mulai pudar.
Terlihat monster itu diam tak bergerak seakan membatu. Tiba-tiba,
terdengar suara seseorang yang tidak asing dari arah monster itu.
“Kelihatannya aku datang tepat waktu, ya?”(Unknow). Putri Alice dan
Naria yang mendengarnya langsung terkejut. “Suara ini...”(Putri Alice).
“Bisakah sekali-kali kau tidak membuat masalah? Kau benar-benar
membuatku kewalahan, tau.”(Reo). Tak lama berselang, tubuh monster itu
langsung terbelah jadi dua dan terlihat Sena berada di belakang monster
itu sambil menghunuskan pedangnya. “Iya...aku tau...”(Sena). Sena
menyarungkan kembali pedangnya dan perlahan berjalan mendekati Reo dan
yang lainnya. Putri Alice yang mengetaui itu Sena langsung berjalan
mendekatinya. “Pu...putri...”(Naria). Putri Alice lalu berhenti tepat di
depan Sena. “Maaf, aku jadi...”(Sena). Putri Alice langsung memukul
kepala Sena. “Addduuhhh!! Kau ini ke...”(Sena). Terlihat Putri Alice
meneteskan air mata. “Kau benar-benar bodoh...kau tau...”(Putri Alice).
Sena langsung bangkit dan berusaha menenangkan Putri Alice. “Hei, hei,
hei...Sudahlah, aku kan baik-baik saja, aku tidak mungkin mati di
sini.”(Sena).
Putri Alice perlahan mengusap air matanya.
“Bukan itu...”(Putri Alice). “Eh?”(Sena). “Aku hanya takut...jika harus
kehilangan lagi orang yang berharga bagiku...hanya itu...”(Putri Alice).
Sena yang mendengarnya hanya tersenyum dan mengusap kepala Putri Alice.
“Terima kasih, ya...kau sudah mengkhawatirkanku...”(Sena). Putri Alice
terkejut dan langsung terlihat malu. “Ada ap...”(Sena). Putri Alice
langsung memukul perut Sena sampai tersungkur. “Ap...apa yang kau
lakukan! Dasar mesum!”(Putri Alice). Reo dan Naria yang melihatnya hanya
bisa tertegun. “Apa mereka berdua selalu begitu?”(Reo). “Entahlah, ini
juga pertama kalinya aku melihat mereka seperti ini.”(Naria). “Begitu
ya...”(Reo). Sena terlihat duduk bersila sambil menggaruk-garuk
kepalanya. “Haaahhh...aku benar-benar tidak tau masalah
perempuan...”(Sena). Reo dan Naria mendekati Sena dan Putri Alice.
“Ngomong-ngomong bagaimana caranya kau bisa keluar dari jebakan
itu?”(Naria). “Soal itu...”(Sena). Sena melihat ke arah Reo dan teringat
jika dia sebelumnya bertemu dengan dirinya yang lain. “Tidak ada
kok...aku hanya berusaha sekuatku saja.”(Sena). “Hebat juga kau, ku kira
kau tadi tidak akan bisa kembali.”(Naria). “Kau ini...aku kan sudah
janji, mana mungkin aku kalah dengan hal seperti ini.”(Sena).
Reo
terlihat menyadari sesuatu, namun hanya terdiam sambil melihat Sena.
“Oh ya, kenapa kau bisa ada di sini?”(Sena). “Ya...lagi-lagi hanya
kebetulan saja...mungkin aku memang tidak bisa jauh dari kalian.”(Reo).
“Yang benar...”(Sena). “Ya begitulah...”(Reo). “Mmmmm...ku kira kau
kesepian dan berusaha mencari kami.”(Sena). “Hoi!”(Reo).
“Ngomong-ngomong, bagaimana cara kita keluar dari sini? Kalau tidak
cepat, kita bisa gagal dalam babak ini.”(Putri Alice). “Benar juga, aku
sampai lupa.”(Naria). Terlihat Reo mengeluarkan kartunya. “Sepertinya di
sini juga tidak ada petunjuk.”(Reo). “Lalu, bagaimana ini?”(Naria).
Sena terlihat berpikir. “Kalau aku sih punya ide, tapi aku rasa ini
bukan ide yang bagus.”(Sena). “Benarkah? Memang ide seperti apa?”(Putri
Alice). “Mmmmm...agak sulit juga sih untuk menjelaskannya...”(Sena).
“Kenapa?”(Putri Alice). “Soalnya...”(Sena). Tiba-tiba, monster yang
tadi, terlihat bergerak kembali. “Kita masih akan berurusan lagi dengan
dia...”(Sena). Putri Alice dan yang lainnya langsung terkejut melihat
monster itu. Kembali, namun masih banyak hal yang harus diselesaikan
sebelum keluar dari labirin ini.
Monster tersebut terlihat bangkit kembali. “Kenapa bisa
begini? Seharusnya dia sudah kalah, kan?”(Naria). Dengan tenang, Sena
terlihat memperhatikan monster itu. “Kalian ingat tidak, sewaktu babak
penyisihan. Waktu itu kita juga harus berhadapan dengan monster,
kan?”(Sena). Putri Alice langsung teringat dengan kejadian saat di babak
penyisihan. “Benar juga...”(Putri Alice). “Jadi artinya...petunjuk agar
kita bisa keluar dari labirin ini, ada pada monster itu? Sama seperti
yang terjadi di babak penyisihan?”(Reo). “Ya...itu masih perkiraan sih,
tapi masalah benar tidaknya, kan bisa dipikir belakangan...”(Sena). Sena
terlihat kembali menarik pedangnya. “Yang penting sekarang, kalau kita
memang ingin selamat, kita harus menghancurkan dia dulu.”(Sena). Reo
terlihat tersenyum dan berdiri di samping Sena. “Kalian berdua...”(Putri
Alice). “Aku rasa memang ada benarnya juga. Lagipula prioritas kita
sekarang adalah menjatuhkan monster itu. Ya, kita lakukan saja.”(Reo).
Monster tersebut terlihat marah dan perlahan mulai mengeluarkan aura
yang sangat pekat. “Ku rasa cara biasa tidak akan mempan
melawannya.”(Sena). “Kalau begitu, kita pancing perhatiannya dan serang
dari dua arah berlawanan.”(Reo). Sena terlihat mempelajari monster itu.
“Sebenarnya
ada hal yang ingin aku coba, bisakah kau melakukan sesuatu untuk
ku?”(Sena). “Memang apa yang ingin kau lakukan? Jangan bilang kau akan
mencoba hal yang aneh-aneh?”(Reo). “Mana mungkin aku melakukan hal yang
aneh-aneh di saat begini.”(Sena). “Lalu, apa yang ingin kau
lakukan?”(Reo). “Kalian berdua, awas!!”(Naria). Tiba-tiba, monster itu
sudah ada di hadapan Sena dan Reo dan langsung menyerang, namun Sena dan
yang lainnya berhasil menghindar. “Hampir saja...”(Sena). “Gerakannya
jadi jauh lebih cepat dari sebelumnya.”(Putri Alice).
“Baiklah...”(Sena). Sena langsung dalam posisi siaga dengan kuda-kuda
yang berbeda dari sebelumnya. “Apa kau yakin bisa menggunakannya,
Sena?”(Putri Alice). “Mau bagaimana lagi? Kita sudah hampir kehabisan
cara. Selain itu, monster itu jauh berbeda dari monster-monster yang
pernah kita temui selama ini.”(Sena). “Maksudnya?”(Naria). “Monster kali
ini...bukanlah tipe monster yang bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan
biasa...”(Reo). Reo juga terlihat dalam posisi siaga. “Kau perlu
kekuatan khusus untuk menjatuhkannya.”(Reo). “Ternyata kau juga sudah
menyadarinya, ya?”(Sena). “Aku baru terpikir hal itu saat dia berusaha
menyerang kita tadi.”(Reo). “Kalau begitu, kau sudah tau rencananya,
kan?”(Sena). “Iya...”(Reo).
Monster tersebut kembali berusaha menyerang. “
Hitotsuboshi...”(Sena).
Tiba-tiba, muncul cahaya beserta tekanan yang kuat dari Sena yang
langsung membuat monster itu mundur. Dengan cepat, Sena melompat tepat
di hadapan monster itu. “
Kagerou!!”(Sena). Sena langsung
menebaskan pedangnya. Tebasan pedang Sena berubah menjadi cahaya yang
besar seperti pilar yang langsung mengarah ke monster itu. Tubuh monster
tersebut terlihat hampir hancur, tapi masih bisa bergerak. “Dia masih
begerak!”(Naria). Sena hanya tersenyum. “Kau sudah tamat,
kawan...”(Sena). Terlihat Reo melompat dan telah berada tepat di atas
monster itu. “
Bakuhatsu...”(Reo). Dalam sekejap, Reo langsung menerjang monster itu. “
Raiden No Kiba!!”(Reo).
Ledakan yang sangat besar pun menghempaskan semuanya. Saat kabut asap
perlahan mulai menghilang, Putri Alice terlihat memperhatikan ke arah di
mana monster tersebut tadi berada. “Apa mereka berhasil?”(Putri Alice).
“Semoga saja...”(Naria). Saat kabut asap benar-benar menghilang,
terlihat Sena dan Reo berdiri melihat ke arah Putri Alice.
“Rencana...”(Sena). “Sukses...”(Reo). Dengan kerjasama dan kekuatan yang
baru. Perlahan mereka melangkah ke tahap yang lebih tinggi.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : From The Light and New Combination"
Posting Komentar