Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

WRONG LIFE CHAPTER 9 : As A Brother


Azrea mengungkap masa lalu dunia ini. “Jadi...”(Sena). “Kakak...selama ini dia telah menanggung segalanya sendirian...”(Azrea). Azrea menceritakan kehidupannya dan Reo yang sebenarnya. “Semenjak saat itu...aku belum pernah melihat kakak bisa tertawa lepas sepert dulu...”(Azrea). Sena terlihat bingung. “Apa? Tapi bukannya saat itu...”(Sena). “Itu hanya kebohongan.”(Azrea). “!!!”(Sena). Sena tampak terkejut. “Kakak tau, saat kau bilang kau berasal dari dunia lain, dia berpikir untuk mencari tau hal yang berkaitan dengan orang itu. Kakak sebenarnya tidak bermaksud mencurigaimu, karena baginya, kau sudah seperti saudaranya sendiri, tapi...”(Azrea). Azrea teringat saat dia bersama Reo di rumah setelah pertengkaran dengan Sena kemarin. “Kakak...kenapa? Kenapa jadi seperti ini?”(Azrea). “Aku tidak tau...hanya saja, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kita, terutama kau.”(Reo). “Lalu, Sena bagaimana? Apa kakak harus berlaku seperti itu padanya? Dia belum tentu ada kaitannya dengan semua ini, kan?”(Azrea). Reo terdiam sejenak. “Dia adalah sahabat, bahkan saudara bagiku...Aku hanya tidak ingin dia mengalami hal yang sama seperti kita. Sudah cukup dengan apa yang sudah kita alami. Aku hanya tidak ingin dia terlibat lebih jauh lagi.”(Reo). “Kakak...”(Azrea). Reo meteskan air matanya. “Mungkin dia memang punya kegelapan itu, tapi...jauh dalam kegelapan itu, dia masih memiliki hati...sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang itu. Karenanya...aku tidak mau Sena menderita lebih dari ini.”(Reo).

  Sena terlihat sangat bingung. “Lalu, masalah saat di hutan itu?”(Sena). “Kakak memang sudah tau itu akan terjadi. Dan saat monster itu tertangkap, kakak sengaja memanfaatkan kondisi itu untuk membuat kalian bertengkar, sehingga kau tidak perlu terlibat apapun.”(Azrea). Sena yang mendengar cerita Azrea hanya bisa terdiam. “Namun, saat kakak mendengar tujuanmu, dia tau kau pasti akan tetap terlibat, entah itu cepat atau lambat...”(Azrea). Azrea teringat saat Reo dulu terlihat ceria. “Walau hanya sebentar...tapi, kakak tau...bahwa kau adalah orang yang baik...walau pun kau mungkin punya kegelapan yang sama dengan orang itu, tapi jauh dalam dirimu, kau punya hal yang sangat berharga...sesuatu yang kakak yakini, akan membawa perubahan, karenanya dia percaya padamu...bukan sebagai orang yang dia benci...tapi sebagai saudaranya...”(Azrea). “Azrea...apa aku boleh tanya satu hal?”(Sena). “Iya...”(Azrea). Sena menatap Azrea dengan serius. “Di mana...orang itu berada?”(Sena). Azrea terlihat bingung. “Tu...tunggu dulu...apa kau bermaksud...”(Azrea). “Aku benar-benar tidak bisa memaafkannya! Dia harus merasakan, rasa sakit dari orang-orang yang sudah dia permainkan seenaknya! Aku...pasti akan menghancurkannya!”(Sena). “Tapi...dia itu sangat kuat. Belum pernah ada seorang pun yang mampu melawannya.”(Azrea). “Kalau begitu...akulah yang akan jadi orang pertama yang mengalahkannya!”(Sena). Azrea terlihat tercengang melihat ekspresi Sena yang serius. “Sena...”(Azrea:Dalam Hati).

  Tiba-tiba ada seseorang yang datang mendekati Sena dan Azrea. “Jadi...kau punya tujuan seperti itu juga rupanya?”(Unknow). Sena dan Azrea menoleh ke arah asalnya suara itu. “Ternyata, satu orang lagi...sepertinya tahun ini akan jadi menarik.”(Unknow). “Siapa kau?”(Sena). Azrea terlihat terkejut dengan kehadiran orang itu. “Ka...kau kan...”(Azrea). “Azrea, kau kenal dengannya?”(Sena). “Iya, tapi aku tidak menyangka dia akan kembali...”(Azrea). “Lalu, siapa dia?”(Sena). “Namaku...Krozen, Krozen Fralakh...mantan panglima daerah Kerajaan Pusat, senang bertemu dengan kalian.”(Krozen). Sena terlihat agak terkejut. “Mantan...panglima?”(Sena). “Benar, dia dulu adalah salah satu dari sepuluh panglima terkuat di dunia ini. Dia sangat hebat, sampai dia pernah mendapat gelar kehormatan karena kemampuannya.”(Azrea). “Sehebat itu? Tapi apa yang kau lakukan di sini?”(Sena). Krozen terlihat tersenyum. “Itu dulu...lama sekali...sampai aku hampir melupakannya.”(Krozen). “Kenapa? Kau kan kuat, sebenarnya apa yang terjadi?”(Sena). “Tepat setahun setelah kedatangannya, Lucifer telah mengubah seluruh sistem tatanan semua kerajaan di dunia ini, dan merombaknya lalu mengganti dengan yang dia inginkan.”(Krozen). “Itu artinya kau...”(Sena). “Seluruh prajurit sampai Raja berhasil dikalahkannya bahkan dibunuhnya seorang diri.”(Krozen). “!!!”(Sena). “Itu benar...tak ada bedanya dengan orang biasa seperti kami, dia telah mengubah segalanya.”(Azrea). Krozen menatap Sena. “Tadi kau bilang, kau ingin mengalahkannya, benarkan?”(Krozen). “Iya...itu benar...”(Sena). “Apa motivasimu? Kenapa kau ingin melakukan hal yang bisa dianggap bunuh diri seperti itu?”(Krozen). “Aku...aku ingin melindungi semua orang! Aku juga ingin tau kebenaran tentang orangtuaku, karena itu, dengan mengalahkannya, mungkin aku bisa melakukan sesuatu.”(Sena). “Begitu ya...”(Krozen). Krozen tersenyum mendengar kata-kata Sena tadi. “Kalau begitu, akan aku uji...seberapa kuat tekadmu itu!”(Krozen). Sang panglima telah mengakuinya. Ujian kali ini akan memperlihatkan, seberapa kuatnya tekad Sena.
Sena, Azrea, dan Krozen terlihat berjalan ke suatu tempat. Sena yang penasaran bertanya pada Azrea. “Hei, kira-kira kau tau, ke mana kemungkinan dia akan membawa kita?”(Sena). “Itu...aku juga tidak tau. Kami yang hanya masyarakat biasa tidak di perkenankan menemui warga kerajaan, kecuali jika ada hal penting atau acara khusus.”(Azrea). “Seperti itu ya...”(Sena). “Tapi, bukan berarti pihak kerajaan ingin merahasiakan sesuatu, mereka hanya ingin menjaga otoritas sekaligus hubungan baik dengan rakyatnya, walau dalam jangkauan terbatas.”(Azrea). “Kalau begitu, dulu daerah ini pasti sangat berjaya, ya? Kerajaannya saja punya sistem sebaik itu?”(Sena). “Tidak juga, kerajaan daerah ini masih terbilang kecil dan muda, karena baru terbentuk setelah adanya pemecahan wilayah dari kerajaan tetangga sekitar 15 tahun lalu.”(Azrea). Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Oh ya, memang sistem kerajaan seperti apa yang di anut oleh dunia ini?”(Sena). “Itu...”(Azrea). “Sistem serikat mungkin lebih cocok.”(Krozen). Sena terlihat agak bingung. “Serikat?”(Sena). Krozen pun menceritakan sistem di dunia itu. “Iya, dulu dunia ini hanya dijalankan oleh satu kerajaan utama, tapi seiring berjalannya waktu, peradaban yang terus maju akhirnya membuat kerajaan utama memecah dunia ini menjadi wilayah-wilayah independent dengan kerajaan kecil sebagai penggeraknya. Meski bisa dibilang seperti pemerintahan bebas, tapi tetap ada hubungan diplomasi dan kerjasama erat antara semua wilayah dengan kerajaan utama, jadi kehidupan di dunia ini bisa berjalan dengan baik.”(Krozen). “Begitu...dunia ini memang benar-benar hebat.”(Sena). “Kalau di duniamu sendiri seperti apa, Sena?”(Azrea). “Mmmm...rumit. Aku sendiri juga tidak tau cara untuk menjelaskannya.”(Sena).

Sena, Azrea, dan Krozen terlihat sampai di suatu tempat. “Kita sudah sampai.”(Krozen). “Ini kan...”(Azrea). Mereka sampai di depan sebuah tempat yang mirip dengan sebuah danau yang sangat besar dan luas yang di tengahnya terdapat sebuah pulau. “Ini kan...Urteil?”(Azrea). “Urteil? Apa itu?”(Sena). “Itu adalah pulau terisolasi yang dikeliling Danau Trauer. Di sanalah aku akan mengujimu.”(Krozen). Sena terlihat bingung. “Tunggu dulu, sebenarnya ini tempat macam apa? Kenapa bisa ada pulau di tengah danau begini?”(Sena). “Dulu, di danau dan pulau itu pernah ada mitos misterius tentang kekuatan supranatural. Banyak orang yang menjauhi pulau itu karena takut jika ada sesuatu yang menakutkan. Karenanya pulau itu jadi misterius.”(Azrea). Mendengar itu, Sena seketika mulai merinding. “Maksudmu...itu pulau berhantu, begitu?”(Sena). “Kurang lebih...”(Azrea). Sena sontak terperangah. “Tapi itu hanya mitos zaman dulu, sejak sistem independent itu dibentuk, tempat ini menjadi pusat acara utama yang diadakan setiap tahun untuk mempererat hubungan antar kerajaan.”(Krozen). “Jadi...bukan pulau hantu?”(Sena). “Bukan kok, aku cuma bercanda. Ternyata kau takut dengan hal seperti itu ya?”(Azrea). “Tidak lucu tau...”(Sena). “Setiap tahun, masing-masing kerajaan memilih orang-orang yang menurut mereka mampu berpartisipasi dalam Olympic Union, yaitu sebuah acara seperti halnya turnamen perlombaan yang diadakan untuk memilih siapa orang terhebat di dunia ini.”(Krozen). “Ada acara seperti itu, ya? Wah, pasti seru!”(Sena). Sena terlihat bersemangat. “Ya, hampir setiap tahun, pasti muncul orang-orang baru yang hebat, dan akan ada banyak orang yang melihat turnamen ini.”(Krozen). “Itu artinya, kau juga pernah ikut?”(Sena). “Tidak, warga kerajaan wilayah mana pun tidak boleh ikut, karena mereka sudah punya tugas sendiri, yaitu selaku panitia pelaksana.”(Krozen). “Mmmm...begitu ya...”(Sena). “Namun, sejak pemerintahan Lucifer, pulau ini kembali menjadi pulau tak berpenghuni seperti dulu. Ya, tentu saja aku juga sudah tidak mungkin jadi panitia lagi...”(Krozen). Sena terlihat terdiam.

Krozen menepuk pundak Sena. “Karena itulah, aku akan mengujimu di sini. Kalau kau memang ingin mengalahkan Lucifer, kau harus bisa lulus dari setiap ujianku, mengerti?”(Krozen). Sena langsung tersenyum dengan penuh semangat. “Baiklah! Aku pasti akan lulus dari ujianmu! Lihat saja!”(Sena). “Kalau begitu, ujian pertama kita mulai sekarang saja, ya?”(Krozen). Tiba-tiba Krozen menarik dan melempar Sena ke danau. “Eh?”(Sena). Sena langsung tercebur dalam danau itu. “Sena!”(Azrea). Ujian pertama, langkah awal melawan tirani.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 9 : As A Brother"

Posting Komentar