Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

WRONG LIFE CHAPTER 8 : What Do You Have


Sena benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi. “Ka...kau...bisa bicara?”(Sena). “Tidak seperti itu, aku hanya menyesuaikan diriku agar bisa bertelepati denganmu.”(Monster). “Tapi...kenapa?”(Sena). “Karena ada banyak hal yang ingin aku ketaui darimu.”(Monster). Sena dan Monster itu pun berbincang-bincang. “Kalau boleh aku tau, kenapa kau tidak suka padaku waktu itu? Dan memang apa yang kau katakan pada Reo, sampai dia seperti itu padaku?”(Sena). “Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan manusia.”(Monster). “Apa itu sebabnya kau membunuh setiap manusia yang berusaha menangkapmu?”(Sena). “Tidak semuanya...”(Monster). “Maksudnya?”(Sena).

 “Memang ada banyak orang di luar sana yang berusaha menangkapku, tapi ada beberapa yang benar-benar aku benci dan membuatku terpaksa membunuh mereka.”(Monster). “Beberapa? Memang tipe manusia seperti apa yang paling kau benci itu?”(Sena). Monster itu terdiam sejenak. “Manusia yang memiliki kemampuan istimewa.”(Monster). Sena terlihat bingung sekaligus terkejut. “Apa?”(Sena). “Aku sangat membenci mereka, karena kemampuan mereka itu selalu saja digunakan untuk merusak dan membunuh satu sama lain tanpa mempedulikan akibat dari itu semua.”(Monster). Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Sudah banyak aku melihat hal seperti itu, karena itu aku tidak bisa memaafkan mereka, terlebih lagi aku bisa merasakan hawa perasaan manusia dan juga dapat memanfaatkan energi alam. Karenanya, aku pasti tau jika ada sesuatu yang sedang terjadi.”(Monster). Sena sontak menyadari sesuatu. “Energi alam...apa jangan-jangan...”(Sena).

Sena terlihat teringat akan sesuatu. “Itu artinya, kau sudah tau jika aku dan Reo sedang mengincarmu waktu itu?”(Sena). “Tepat sekali, aku bisa dengan jelas merasakan hawa kalian berdua.”(Monster). “Dan alasan kenapa kau menyerang kami...karena kau tau kalau kami juga berusaha menangkapmu seperti orang-orang lainnya?”(Sena). “Pada awalnya begitu, tapi saat anak itu mendekatiku, aku tau kalau dia sama sekali tidak punya niat buruk dan dia juga punya hawa yang tenang dan ramah. Jadi aku tidak keberatan dengan itu.”(Monster). “Lalu, soal aku bagaimana? Kenapa kau justru mengamuk dan membuat Reo menjadi curiga seperti itu padaku?”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak-semak. “Karena, kau punya sesuatu yang benar-benar ku benci.”(Unknow). Sena pun terkejut. “Siapa itu?”(Sena). Ternyata suara itu adalah Reo. “Re...Reo...”(Sena). “Sudah kuduga kau menguping. Aku sudah yakin sejak awal, jika kau pasti akan memastikan apa yang akan aku katakan padanya.”(Monster). “Begitulah...”(Reo). Reo perlahan mendekati Sena. “Ke...kenapa? Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang aku punya sampai kau membenciku?”(Reo). “Sebenarnya itu belum terlihat sekarang, tapi kelak kau pasti akan tau. Dan aku tidak akan membiarkan sesuatu itu kembali merusak segalanya.”(Reo). Sena perlahan mulai kesal. “Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau maksud. Tolong jelaskan padaku.”(Sena). “Sesuatu itu...adalah dirimu.”(Monster).

Sena benar-benar bingung dengan apa yang dikatakan monster itu. “Diriku...kenapa?”(Sena). “Memang terasa samar, karena itu, aku belum tau jelas, tapi yang aku rasakan darimu seperti ada hawa lain dibalik hawamu yang sekarang. Hawa lain yang sangat kelam.”(Monster). “Apa maksudmu?”(Sena). “Hawa itu, sama dengan hawa yang telah membawa kerusakan total pada dunia ini di masa lalu, tidak, mungkin sampai sekarang. Dan aku tidak ingin hal itu terus memburuk dan merusak semua lebih dari ini.”(Reo). “Tunggu dulu, kenapa aku? Aku sama sekali tidak melakukan apapun, kan?”(Sena). “Tidak, aku rasa yang lebih tepat itu belum. Karena itu, jika itu terjadi...aku tidak akan segan untuk mengakhirimu, Sena.”(Reo). “!!!”(Sena). Sena hanya bisa terdiam dalam kebingungan ini. Kegelapan yang bersemayam dibalik terangnya cahaya, perlahan membawa kehancuran pada Sena.

Keesokkan harinya, Sena terlihat berjalan di keramaian pasar. “Sebenarnya, hal apa yang membuat Reo begitu membenciku? Apa benar, ada sesuatu dalam diriku?”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat-lihat sekitar, dan akhirnya berhenti di sebuah toko roti. Sena mendekati si penjual dan mencoba membeli sebuah roti. “Maaf, aku mau membeli satu roti manis.”(Sena). “Oh ya...sebentar ya, biar aku ambilkan.”(Penjual). Si penjual mengambilkan sebuah roti. “Ini roti manisnya.”(Penjual). “Terima kasih...tapi aku...”(Sena). “Ada apa?”(Penjual). “Begini, bukan maksudku tidak mau membayar, tapi aku tidak tau mata uang di sini, jadi...”(Sena). Sena terlihat mengeluarkan uang yang dia miliki. “Begitu ya...apa kau masih baru di sini?”(Penjual). “Seperti itulah...”(Sena). “Tapi, selama ini aku belum pernah melihat mata uang ini. Memang kau berasal dari mana?”(Penjual). “Mmmm...bagaimana menjelaskannya ya...”(Sena). Tiba-tiba ada seseorang yang datang, dan ternyata adalah Azrea. “Eh, Se...Sena??”(Azrea). “A...Azrea...”(Sena). “Oh, jadi kau mengenalnya ya, Azrea?”’(Penjual). “Ya...bisa dibilang begitu sih...tapi memang ada apa, ya? Anda kok terlihat bingung?”(Azrea). “Ini...dia mau membeli roti manis, tapi dia tidak punya mata uang daerah ini, jadi dia bingung untuk membayarnya.”(Penjual). “Begitu ya...”(Azrea). “Kalau begitu, biar aku bayar dengan bekerja di sini. Aku tidak keberatan bekerja di sini tanpa dibayar.”(Sena). “Bagaimana ya? Sebenarnya tempat ini sudah penuh...”(Penjual).

Tiba-tiba Azrea mengeluarkan uang dan memberikannya pada penjual. “Hoi, Azrea?”(Sena). “Ini cukup kan?”(Azrea). “Tu...tunggu dulu, bukan maksudku untuk memaksa, sebenarnya tidak apa-apa jika dia tidak bayar, tapi...”(Penjual). “Tidak apa-apa kok, lagipula dia ini teman baik kakak dan juga aku, jadi sudah sewajarnya saja, kan?”(Azrea). “Baiklah...terima kasih.”(Penjual). Sena hanya bisa terdiam sementara Azrea menatap Sena sambil tersenyum ramah. Sena dan Azrea pun terlihat duduk di sebuah air mancur. “Maaf...karena aku, kau yang jadi harus membayar.”(Sena). “Tidak usah dipikirkan kok, lagipula harganya juga tidak terlalu mahal.”(Azrea). “Tapi...”(Sena). Mereka berdua terdiam untuk sejenak. “Sebenarnya, kakak tidak punya maksud untuk mengatakan hal itu padamu.”(Azrea). “Eh?”(Sena). “Waktu kakak pulang kemarin. Dia menceritakan semuanya padaku, dan saat itu aku tau...dia sebenarnya juga sangat berat untuk mengusirmu seperti itu.”(Azrea). Sena terlihat bingung. “Lalu...kenapa dia sangat membenciku? Apa sesuatu dalam diriku seburuk itu, sampai dia benci padaku?”(Sena). Azrea terlihat teringat dengan sesuatu. “Dulu...dunia ini adalah dunia yang damai tanpa adanya pertikaian, tapi...lima tahun yang lalu...”(Azrea). “lima tahun lalu?”(Sena). “Dia datang dan membawa perubahan besar pada dunia ini...”(Azrea). “Dia? Siapa yang kau maksud?”(Sena).

Dengan ekspresi berat Azrea melanjutkan ceritanya. “Dia...namanya adalah Lucifer, dia adalah seseorang yang datang entah dari mana.”(Azrea). Sena terlihat agak terkejut. “Maksudmu,  ada orang lain yang datang ke dunia ini selain aku?”(Sena). “Aku juga tidak tau, tapi dia sangat mengerikan. Dia telah mengancurkan dan menguasai sistem kerajaan di dunia ini, dan pada akhirnya mendominasi segalanya sampai sekarang.”(Azrea). “Sampai seperti itu? Memang sehebat apa dia?”(Sena). “Sangat hebat...mungkin lebih tepatnya mengerikan. Dia telah membunuh semua raja di seluruh daerah dunia ini dan menjadikan seluruh kerajaan menjadi satu dan menguasainya. Dia sangat kejam dan telah membunuh banyak orang juga.”(Azrea). “Jadi, itukah alasannya kenapa Reo membenci orang itu yang kemungkinan sama denganku, begitu?”(Sena). “Sebenarnya lebih dari itu...”(Azrea). “Lalu...”(Sena). “Kakak sangat membenci orang itu, karena dia telah membunuh kedua orang tua kami dan telah melukaiku.”(Azrea). “Hah!”(Sena). Azrea dengan perlahan menunjukkan bekas luka di lengan kirinya pada Sena. Sena hanya bisa terpaku melihat itu. Mereka sama-sama kehilangan orang tua mereka, tapi mereka telah berjalan di jalan yang berbeda.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 8 : What Do You Have"

Posting Komentar