Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

WRONG LIFE CHAPTER 10 : Not Fair


Azrea terkejut dengan yang dilakukan Krozen kepada Sena. “Tenang saja, dia itu mahir berenang.”(Krozen). Sena pun muncul ke permukaan. “Hei! Apa-apaan itu tadi? Aku belum siap tau!”(Sena). “Belum, ya? Tapi, aku rasa kau harus siap sekarang...”(Krozen). Krozen menunjuk ke arah belakang Sena. Sena berbalik dan melihat ke belakang. Terlihat ada sesuatu yang bergerak menuju ke arah Sena. “Apa itu?”(Sena). “Itu ujian pertamamu, berusahalah ya!”(Krozen). Sena terlihat panik. “Hei! Tunggu dulu!”(Sena). Krozen membawa Azrea menaiki sebuah perahu. “Sayangnya ini perahu terakhir dan hanya cukup untuk berdua, jadi kami putuskan untuk menunggumu di pulau, ya?”(Krozen). “Apa-apaan itu! Jangan seenak...”(Sena). Tiba-tiba seekor ikan monster muncul dari belakang Sena dengan mulut terbuka lebar. Sena hanya bisa terpaku. “Sudah kuduga...”(Sena). Monster itu pun melahap Sena dengan cepat, sedangkan Azrea yang melihat Sena dari kejauhan langsung terkejut. “!!!”(Azrea). “Tidak...dia masih hidup, tenang saja.”(Krozen). Dengan cepat, Sena membuka dan menahan rahang monster itu. “Sial! Aku belum siap tau!”(Sena). “Eh?”(Azrea). “Tuh kan...”(Krozen). Sena dengan keras berusaha lepas dari monster itu. “Bagaimana ini? Mana mungkin aku bisa menahan rahangnya seperti ini?”(Sena:Dalam Hati).


Sena sontak teringat dengan kata-kata Reo saat berburu monster dulu. “Oh iya!”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat memperhatikan mulut monster itu. “Ketemu!”(Sena). Sena langsung menendang salah satu taring monster itu. “Makan ini!”(Sena). Seketika monster itu merasa kesakitan dan membuka mulutnya lebar-lebar hingga akhirnya Sena bisa keluar. “Hehehe...bagaimana rasanya? Makanya kau harus rajin sikat gigi tau!”(Sena). Dengan cepat monster itu kembali berusaha menyerang Sena. “Cara yang sama tidak akan mempan.”(Sena). Sena berhasil menghindarinya. “Tapi, aku tidak mungkin bisa bertahan lama di air, apa lagi aku juga harus segera ke pulau.”(Sena:Dalam Hati). Monster itu kembali menyerang, dan Sena terlihat memejamkan mata. Saat monster itu akan melahap Sena untuk kedua kalinya, Sena langsung membuka matanya dan terlihat air bergejolak dahsyat. Di pulau, setelah cukup lama, Krozen dan Azrea akhirnya sampai. Azrea yang tadi melihat gelombang ledakan air itu sudah menghilang hanya bisa terdiam. “Dari setiap orang yang aku temui, dia adalah orang yang paling unik.”(Krozen). “Apa maksudnya?”(Azrea). “Dia itu, punya sesuatu...walau belum terlihat jelas, tapi dia punya potensi yang besar.”(Krozen). “Potensi?”(Azrea). “Iya...memang aku melihat ada dua hal yang berlawanan ada dalam dirinya, tapi jika kedua hal itu bisa bersatu, dia tidak akan terkalahkan.”(Krozen). “...”(Azrea).

Kembali ke danau, gelombang besar sebelumnya sudah lama menghilang, namun tidak ada tanda-tanda dari Sena mau pun monster itu. Tiba-tiba terlihat ada gelembung-gelembung air yang bergerak mendekati pulau dan Azrea menyadarinya. “Apa itu?”(Azrea). “Mungkin dia sedikit diluar perkiraanku...”(Krozen:Dalam Hati). Gelembung-gelembung air itu terus mendekat dan tiba-tiba Sena muncul dengan menaiki monster yang sebelumnya berusaha menyerangnya. “Hei! Jangan seenaknya meninggalkan orang begitu dong! Itu tidak adil tau!”(Sena). “Sena!”(Azrea). Krozen terlihat tersenyum melihat Sena. “Wah...boleh juga ternyata, kau ternyata bisa menaklukkan monster danau dengan mudah, ya?”(Krozen). Sena pun sampai di pinggir pulau dan turun dari monster itu.

 “Mudah bagaimana? Aku hampir mati tau.”(Sena). “Kan baru hampir...”(Krozen). Sena mendekati monster itu. “Terima kasih ya, sekarang kau bisa pulang.”(Sena). Monster itu pun perlahan berenang menjauh dan menghilang. “Enak sekali bicaramu, kalau aku tidak bisa menaklukkannya bagaimana?”(Sena). “Ya kau mati.”(Krozen). Sena terlihat agak kesal. “Ringannya dia bicara begitu...”(Sena:Dalam Hati). “Kau tidak apa-apa, kan?”(Azrea). “Tidak apa-apa, monster itu sebenarnya baik kok, aku bahkan mau diajak ke rumahnya. Ya...tapi, mana mungkin aku bisa ke sana, benar kan?”(Sena). Azrea teringat dengan Reo dulu. “Begitu ya...mungkin sekarang...aku mulai mengerti, apa yang dikatakan kakak.”(Azrea:Dalam Hati). Sena akhirnya mampu melewati ujian pertama, namun pulau misterius itu telah menantinya.

Sena kembali melanjutkan ujian yang diberikan Krozen. Kali ini Krozen mengajak Sena dan juga Azrea menuju ke hutan. Saat mereka baru sampai di tepi hutan, Krozen tiba-tiba berhenti. “Aku hampir lupa, tapi mulai dari sini akan lebih berbahaya, jadi aku rasa aku harus mengantarmu pulang.”(Krozen). “Tapi...”(Azrea). “Krozen benar, aku juga merasakan kalau ada banyak hal yang akan terjadi, lagipula Reo pasti akan khawatir jika kau tidak segera pulang.”(Sena). Azrea terlihat agak kecewa. “Benar juga...”(Azrea). “Tidak perlu cemas. Aku pasti akan kembali, jadi kau tunggulah bersama Reo, ya.”(Sena). “Baiklah...kalau begitu, semoga berhasil.”(Azrea). “Iya, terima kasih.”(Sena). “Kalau begitu, biarku antar.”(Krozen). “Lalu, apa yang akan aku lakukan?”(Sena). “Ada sebuah menara tepat di tengah pulau. Pergilah, dan akan kutunggu kau di sana.”(Krozen). “Menunggu...bukannya kau akan ke sini lagi? Lagipula, kalau aku duluan sementara kau pergi, itu artinya yang sampai duluan kan aku.”(Sena). “Jangan besar kepala dulu, hutan ini jauh lebih ekstrim dari yang kau kira. Selain itu...”(Krozen).

  Dari kejauhan, terlihat ada sesuatu yang mendekat dari langit. “Apa itu?”(Sena). “Sepertinya burung.”(Azrea). “Itu adalah patnerku sekaliguskendaraanku.”(Krozen). “Kendaraan?”(Sena). Burung itu mendarat, yang ternyata seekor burung garuda raksasa berwarna emas dengan pita dikedua kakinya. Sena dan Azrea terlihat terkejut. “Besar sekali!”(Sena). “Ya tentu saja, dia adalah penghuni asli hutan ini, namanya Sila. Aku sudah lama bersamanya, jadi aku sudah menganggapnya bagian dari diriku”(Krozen). “Hebat...”(Azrea). Tiba-tiba burung itu berbicara. “Jadi...siapa mereka?”(Sila). Sena dan Azrea jadi tambah terkejut. “Dia bisa bicara!!”(Sena dan Azrea). “Mereka adalah teman-temanku, aku bermaksud untuk mengenalkan mereka pada hutan ini, tapi anak perempuan ini harus segera pulang. Jadi, tolong ya.”(Krozen). Garuda itu memandangi wajah Sena dengan dekat. “Kau...sepertinya cukup menarik.”(Sila). “A...aku?”(Sena). “Di mana kau temukan anak ini?”(Sila). “Kebetulan saja, jadi kau sudah tau alasannya, kan?”(Krozen). Sila terdiam sejenak. “Ya...aku tau, tapi sebelum itu akan kuberi tau dia sesuatu.”(Sila). “Sesuatu? Apa itu?”(Sena). “Kalau kau berada dalam kabut, tutuplah matamu, jika kau melihat sungai, tutuplah mulutmu, jika kau merasakan angin, tutuplah hidungmu, dan jika kau melewati gua, tutuplah telingamu.”(Sila). Sena terlihat bingung. “Apa maksudnya?”(Sena). “Kau akan tau saat kau masuk lebih dalam ke hutan itu.”(Krozen).

 “Mungkin juga...”(Sila). Krozen pun menaiki punggung Sila. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”(Krozen). “Tidak apa-apa, kan?”(Azrea). “Tenang saja...ayo naik.”(Krozen). Azrea pun ikut naik ke punggung Sila. “Ingatlah apa yang dikatakan Sila. Setelah mengantar Azrea, aku dan Sila akan menunggumu di menara pulau.”(Krozen). “Ya!”(Sena).

  Sila pun terbang membawa Krozen dan Azrea. Sementara itu, Sena sendirian di dalam hutan. “Baiklah, pertama-tama, tentukan lokasi menara itu.”(Sena). Sena pun naik ke atas pohon. “Nah, dari sini pasti terlihat.”(Sena). Sena memperhatikan ke semua penjuru. “Mana ya...kok tidak kelihatan...”(Sena). Sementara itu, Azrea sedang bertanya pada Krozen. “Sebelumnya maaf, tapi kalau tidak salah...hutan itu kan...”(Azrea). “Kau sudah tau, ya?”(Krozen). “Sebenarnya hanya sebatas rumor.”(Azrea).

 Krozen terlihat tersenyum. “Ya...kurang lebih seperti itu kejadiannya.”(Krozen). “Jadi, kabar angin itu benar?”(Azrea). “Bisa dibilang begitu, dan sampai saat ini, belum ada yang tau tentang kebenarannya...”(Krozen). Kembali ke hutan, Sena benar-benar kebingungan mencari menara itu. “Sebenarnya menaranya setinggi apa sih? Dari pohon setinggi ini saja masa tidak kelihatan? Padahal dari sini, hampir keseluruhan pulau kelihatan, tapi yang ada hanya pepohonan saja.”(Sena). Sena pun turun dari pohon. “Kalau begitu, memang benar-benar harus dicari dengan berjalan.”(Sena). Sena pun mulai berjalan menembus lebatnya pepohonan hutan. Dari kejauhan, terlihat ada sesuatu yang memperhatikan Sena dari balik pepohonan. Pohon-pohon ini telah menyembunyikan rahasianya. Hutan lebat yang penuh tantangan telah menanti di depan mata.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 10 : Not Fair"

Posting Komentar