Sena benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.
“Ka...kau...bisa bicara?”(Sena). “Tidak seperti itu, aku hanya
menyesuaikan diriku agar bisa bertelepati denganmu.”(Monster).
“Tapi...kenapa?”(Sena). “Karena ada banyak hal yang ingin aku ketaui
darimu.”(Monster). Sena dan Monster itu pun berbincang-bincang. “Kalau
boleh aku tau, kenapa kau tidak suka padaku waktu itu? Dan memang apa
yang kau katakan pada Reo, sampai dia seperti itu padaku?”(Sena).
“Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan manusia.”(Monster). “Apa itu
sebabnya kau membunuh setiap manusia yang berusaha menangkapmu?”(Sena).
“Tidak semuanya...”(Monster). “Maksudnya?”(Sena).
“Memang ada banyak
orang di luar sana yang berusaha menangkapku, tapi ada beberapa yang
benar-benar aku benci dan membuatku terpaksa membunuh mereka.”(Monster).
“Beberapa? Memang tipe manusia seperti apa yang paling kau benci
itu?”(Sena). Monster itu terdiam sejenak. “Manusia yang memiliki
kemampuan istimewa.”(Monster). Sena terlihat bingung sekaligus terkejut.
“Apa?”(Sena). “Aku sangat membenci mereka, karena kemampuan mereka itu
selalu saja digunakan untuk merusak dan membunuh satu sama lain tanpa
mempedulikan akibat dari itu semua.”(Monster). Sena terlihat memikirkan
sesuatu. “Sudah banyak aku melihat hal seperti itu, karena itu aku tidak
bisa memaafkan mereka, terlebih lagi aku bisa merasakan hawa perasaan
manusia dan juga dapat memanfaatkan energi alam. Karenanya, aku pasti
tau jika ada sesuatu yang sedang terjadi.”(Monster). Sena sontak
menyadari sesuatu. “Energi alam...apa jangan-jangan...”(Sena).
Sena
terlihat teringat akan sesuatu. “Itu artinya, kau sudah tau jika aku
dan Reo sedang mengincarmu waktu itu?”(Sena). “Tepat sekali, aku bisa
dengan jelas merasakan hawa kalian berdua.”(Monster). “Dan alasan kenapa
kau menyerang kami...karena kau tau kalau kami juga berusaha
menangkapmu seperti orang-orang lainnya?”(Sena). “Pada awalnya begitu,
tapi saat anak itu mendekatiku, aku tau kalau dia sama sekali tidak
punya niat buruk dan dia juga punya hawa yang tenang dan ramah. Jadi aku
tidak keberatan dengan itu.”(Monster). “Lalu, soal aku bagaimana?
Kenapa kau justru mengamuk dan membuat Reo menjadi curiga seperti itu
padaku?”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak-semak.
“Karena, kau punya sesuatu yang benar-benar ku benci.”(Unknow). Sena pun
terkejut. “Siapa itu?”(Sena). Ternyata suara itu adalah Reo.
“Re...Reo...”(Sena). “Sudah kuduga kau menguping. Aku sudah yakin sejak
awal, jika kau pasti akan memastikan apa yang akan aku katakan
padanya.”(Monster). “Begitulah...”(Reo). Reo perlahan mendekati Sena.
“Ke...kenapa? Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang aku punya sampai kau
membenciku?”(Reo). “Sebenarnya itu belum terlihat sekarang, tapi kelak
kau pasti akan tau. Dan aku tidak akan membiarkan sesuatu itu kembali
merusak segalanya.”(Reo). Sena perlahan mulai kesal. “Aku sama sekali
tidak mengerti dengan apa yang kau maksud. Tolong jelaskan
padaku.”(Sena). “Sesuatu itu...adalah dirimu.”(Monster).
Sena
benar-benar bingung dengan apa yang dikatakan monster itu.
“Diriku...kenapa?”(Sena). “Memang terasa samar, karena itu, aku belum
tau jelas, tapi yang aku rasakan darimu seperti ada hawa lain dibalik
hawamu yang sekarang. Hawa lain yang sangat kelam.”(Monster). “Apa
maksudmu?”(Sena). “Hawa itu, sama dengan hawa yang telah membawa
kerusakan total pada dunia ini di masa lalu, tidak, mungkin sampai
sekarang. Dan aku tidak ingin hal itu terus memburuk dan merusak semua
lebih dari ini.”(Reo). “Tunggu dulu, kenapa aku? Aku sama sekali tidak
melakukan apapun, kan?”(Sena). “Tidak, aku rasa yang lebih tepat itu
belum. Karena itu, jika itu terjadi...aku tidak akan segan untuk
mengakhirimu, Sena.”(Reo). “!!!”(Sena). Sena hanya bisa terdiam dalam
kebingungan ini. Kegelapan yang bersemayam dibalik terangnya cahaya,
perlahan membawa kehancuran pada Sena.
Keesokkan harinya, Sena terlihat berjalan di keramaian pasar.
“Sebenarnya, hal apa yang membuat Reo begitu membenciku? Apa benar, ada
sesuatu dalam diriku?”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat-lihat sekitar, dan
akhirnya berhenti di sebuah toko roti. Sena mendekati si penjual dan
mencoba membeli sebuah roti. “Maaf, aku mau membeli satu roti
manis.”(Sena). “Oh ya...sebentar ya, biar aku ambilkan.”(Penjual). Si
penjual mengambilkan sebuah roti. “Ini roti manisnya.”(Penjual). “Terima
kasih...tapi aku...”(Sena). “Ada apa?”(Penjual). “Begini, bukan
maksudku tidak mau membayar, tapi aku tidak tau mata uang di sini,
jadi...”(Sena). Sena terlihat mengeluarkan uang yang dia miliki. “Begitu
ya...apa kau masih baru di sini?”(Penjual). “Seperti itulah...”(Sena).
“Tapi, selama ini aku belum pernah melihat mata uang ini. Memang kau
berasal dari mana?”(Penjual). “Mmmm...bagaimana menjelaskannya
ya...”(Sena). Tiba-tiba ada seseorang yang datang, dan ternyata adalah
Azrea. “Eh, Se...Sena??”(Azrea). “A...Azrea...”(Sena). “Oh, jadi kau
mengenalnya ya, Azrea?”’(Penjual). “Ya...bisa dibilang begitu sih...tapi
memang ada apa, ya? Anda kok terlihat bingung?”(Azrea). “Ini...dia mau
membeli roti manis, tapi dia tidak punya mata uang daerah ini, jadi dia
bingung untuk membayarnya.”(Penjual). “Begitu ya...”(Azrea). “Kalau
begitu, biar aku bayar dengan bekerja di sini. Aku tidak keberatan
bekerja di sini tanpa dibayar.”(Sena). “Bagaimana ya? Sebenarnya tempat
ini sudah penuh...”(Penjual).
Tiba-tiba Azrea mengeluarkan
uang dan memberikannya pada penjual. “Hoi, Azrea?”(Sena). “Ini cukup
kan?”(Azrea). “Tu...tunggu dulu, bukan maksudku untuk memaksa,
sebenarnya tidak apa-apa jika dia tidak bayar, tapi...”(Penjual). “Tidak
apa-apa kok, lagipula dia ini teman baik kakak dan juga aku, jadi sudah
sewajarnya saja, kan?”(Azrea). “Baiklah...terima kasih.”(Penjual). Sena
hanya bisa terdiam sementara Azrea menatap Sena sambil tersenyum ramah.
Sena dan Azrea pun terlihat duduk di sebuah air mancur. “Maaf...karena
aku, kau yang jadi harus membayar.”(Sena). “Tidak usah dipikirkan kok,
lagipula harganya juga tidak terlalu mahal.”(Azrea). “Tapi...”(Sena).
Mereka berdua terdiam untuk sejenak. “Sebenarnya, kakak tidak punya
maksud untuk mengatakan hal itu padamu.”(Azrea). “Eh?”(Sena). “Waktu
kakak pulang kemarin. Dia menceritakan semuanya padaku, dan saat itu aku
tau...dia sebenarnya juga sangat berat untuk mengusirmu seperti
itu.”(Azrea). Sena terlihat bingung. “Lalu...kenapa dia sangat
membenciku? Apa sesuatu dalam diriku seburuk itu, sampai dia benci
padaku?”(Sena). Azrea terlihat teringat dengan sesuatu. “Dulu...dunia
ini adalah dunia yang damai tanpa adanya pertikaian, tapi...lima tahun
yang lalu...”(Azrea). “lima tahun lalu?”(Sena). “Dia datang dan membawa
perubahan besar pada dunia ini...”(Azrea). “Dia? Siapa yang kau
maksud?”(Sena).
Dengan ekspresi berat Azrea melanjutkan
ceritanya. “Dia...namanya adalah Lucifer, dia adalah seseorang yang
datang entah dari mana.”(Azrea). Sena terlihat agak terkejut.
“Maksudmu, ada orang lain yang datang ke dunia ini selain aku?”(Sena).
“Aku juga tidak tau, tapi dia sangat mengerikan. Dia telah mengancurkan
dan menguasai sistem kerajaan di dunia ini, dan pada akhirnya
mendominasi segalanya sampai sekarang.”(Azrea). “Sampai seperti itu?
Memang sehebat apa dia?”(Sena). “Sangat hebat...mungkin lebih tepatnya
mengerikan. Dia telah membunuh semua raja di seluruh daerah dunia ini
dan menjadikan seluruh kerajaan menjadi satu dan menguasainya. Dia
sangat kejam dan telah membunuh banyak orang juga.”(Azrea). “Jadi,
itukah alasannya kenapa Reo membenci orang itu yang kemungkinan sama
denganku, begitu?”(Sena). “Sebenarnya lebih dari itu...”(Azrea).
“Lalu...”(Sena). “Kakak sangat membenci orang itu, karena dia telah
membunuh kedua orang tua kami dan telah melukaiku.”(Azrea).
“Hah!”(Sena). Azrea dengan perlahan menunjukkan bekas luka di lengan
kirinya pada Sena. Sena hanya bisa terpaku melihat itu. Mereka sama-sama
kehilangan orang tua mereka, tapi mereka telah berjalan di jalan yang
berbeda.
Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 8 : What Do You Have"
Posting Komentar