Matahari terlihat mulai meninggi. Hari itu Sena baru saja terbangun
di sebuah kamar. Terlihat seseorang mengetuk pintu kamar Sena.
“Ma...maaf, apa kau sudah bangun?”(Unknow). “Oh, ya.”(Sena).
“Itu...kamar mandinya...bisa kau pakai sekarang, la...lalu setelah itu
ayo kita sarapan bersama.”(Unknow). “Baiklah.”(Sena). Sena pun beranjak
keluar dan menuju kamar mandi. Rumah bergaya sederhana yang ditempati
Sena saat ini adalah rumah Reo dan adik perempuannya Azrea Larchcriel
yang tadi membangunkan Sena. Selesai mandi, Sena pun menuju ke ruang
makan. “Pagi, Sena.”(Reo). “Pagi.”(Sena). “Bagaimana istirahatmu?”(Reo).
“Ya, aku tertidur cukup pulas juga.”(Sena). Azrea yang sedari tadi
memasak akhirnya menghidangkan makanan. “Ini, sarapannya sudah
siap.”(Azrea). “Iya, terima kasih.”(Sena). “Ngomong-ngomong, Sena,
pakaian yang dibuatkan Azrea pas juga denganmu.”(Reo). “Ya begitulah,
aku juga suka dengan modelnya, terlihat cocok denganku. Terima kasih ya,
Azrea.”(Sena). Azrea terlihat agak malu. “I...iya...bukan apa-apa
kok...”(Azrea). “Kalau begitu, ayo kita makan sekarang, selagi masih
hangat.”(Reo). Mereka terlihat menikmati sarapan mereka. “Hei Azrea,
sedari tadi aku perhatikan, kau menunduk terus, memang ada apa?”(Sena).
“Ah...dia itu memang seperti itu, kalau ada orang asing berkunjung ke
rumah, dia pasti jadi malu begitu.”(Reo). “Kakak! Jangan katakan yang
tidak-tidak, ah! A...aku kan cuma...”(Azrea). “Tuh kan...apa yang
kubilang.”(Reo) “Kakak...!”(Azrea).

Sena yang melihat Reo dan
Azrea jadi teringat dengan saat dia dulu bercanda bersama Yuki. Tanpa
sadar, Sena meneteskan air mata. “Hei Sena, kau kenapa?”(Reo). “Eh,
tidak, hanya saja...melihat kalian berdua yang bisa bercanda seperti
itu, benar-benar membuatku rindu dengan kakakku.”(Sena). Reo pun menepuk
pundak Sena. “Bukannya sudah kubilang, mulai sekarang, aku dan Azrea
adalah keluargamu juga, begitu pun teman-temanmu yang sekarang sedang
menunggumu di dunia sana. Benar kan, Azrea?”(Reo).
“Ah...i...iya...”(Azrea). Sena terlihat tersenyum sambil mengusap air
matanya. “Terima kasih...Reo...Azrea...”(Sena). “Nah, bagaimana kalau
setelah ini, kita jalan-jalan? Aku akan mengenalkan dunia ini lebih
dekat.”(Reo). “Kedengarannya menarik. Azrea, bagaimana kalau kau juga
ikut?”(Sena). “Ah...itu...aku harus pergi untuk mencari bahan makanan
untuk nanti malam.”(Azrea). “Begitu ya...”(Sena). “Baiklah, ayo kita
berangkat!”(Reo). Sena dan Reo terlihat pergi menjelajahi banyak tempat.
“Benar-benar berbeda dari tempatku.”(Sena). “Tenang, ini masih belum
seberapa. Masih banyak hal yang menarik kok.”(Reo).
Sena dan Reo
terlihat menuju hutan tempat di mana mereka pertama bertemu. Reo
terlihat mencari sesuatu. “Kau sedang mencari apa?”(Sena). “Itu...aku
sedang mencari ranting yang cukup besar dan kuat.”(Reo). Sena pun
memperhatikan ke segala arah dan terlihat menemukannya. “Hei Reo, di
sini ada.”(Sena). “Di mana?”(Reo). Reo pun mengambil dua belah ranting.
“Bagus, dengan ini kita bisa mencari umpan.”(Reo). “Umpan? Untuk
apa?”(Sena). “Nanti akan kuberitau. Ayo, sekarang ikut aku.”(Reo). Sena
dan Reo terlihat pergi mengelilingi hutan. Reo terlihat sedang mencari
sesuatu di tanah. “Mana ya?”(Reo). “...”(Sena). Reo terlihat menemukan
seseuatu, seperti gundukkan tanah. “Ketemu!”(Reo). Reo pun melumuri
ranting tersebut dengan sesuatu lalu menancapkannya ke dalam gundukkan
tanah itu. “Kau sedang apa?”(Sena). “Ssssttt...jangan beriisik dulu,
nanti bisa kabur.”(Reo). “Kabur?”(Sena). Reo terlihat merasakan sesuatu
dan menarik dengan cepat ranting itu. “Kena!”(Reo). Reo terlihat
mendapatkan semacam binatang aneh mirip serangga dan setengah tikus
tanah. “Makhluk apa itu?”(Sena). “Hehehe...ini adalah umpan kita untuk
berburu.”(Reo). “Dengan makhluk ini? Memang kita akan berburu
apa?”(Sena). “Monster...”(Reo). “Eh?”(Sena). “Kalau segini tidak akan
cukup, ayo kita cari lebih banyak!”(Reo). “Apa?”(Sena:Dalam Hati).
Mereka berdua mulai mencari makhluk itu lebih banyak. Petualang bersama
sahabat baru di dunia yang asing. Perburuan monster dimulai!
Reo mengajak Sena melakukan perburuan monster. Mereka terlihat
berjalan menyusuri hutan. Reo terlihat membawa sekarung penuh umpan.
“Dengan umpan sebanyak itu, memangnya seperti apa monster yang akan kita
tangkap itu?”(Sena). “Ya, aku sendiri juga belum terlalu tau
sih.”(Reo). “Hah? Jadi itu artinya, kau sama sekali belum tau makhluk
apa yang akan kita buru?”(Sena). Reo terlihat tertawa. “Bisa dibilang
begitu.”(Reo). “Lalu, bagaimana kau bisa berburu makhluk yang sama
sekali belum kau tau dengan seyakin itu?”(Reo). “Sebenarnya, banyak
orang yang telah membicarakan makhluk itu, namun konon katanya, tidak
ada satu pun yang berhasil menangkapnya, bahkan melihat rupa makhluk itu
pun sampai saat ini belum ada yang tau.”(Reo). “Kalau begitu, kenapa
kau juga ikut-ikutan?”(Sena). Reo terlihat berpikir. “Aku hanya
penasaran saja. Orang-orang bilang, dia itu makhluk yang luar biasa,
karena itulah aku memutuskan untuk menjadi orang pertama yang berhasil
menangkapnya.”(Reo). “Seperti itu ya...”(Sena). Sena memperhatikan Reo,
dan perlahan teringat dengan sifat Tora yang sama dengan Reo. “Walau
belum lama aku di sini...rasanya...seperti di rumah...aku jadi
kangen...”(Sena:Dalam Hati). Setelah berjalan cukup lama, Sena dan Reo
pun sampai di depan sebuah gua yang cukup besar. “Kita sampai.”(Reo).
“Wah, gua ini besar juga. Kau yakin dia ada di sini?”(Sena). “Tidak
salah lagi, aku bisa merasakannya kok.”(Reo). “Percaya diri sekali
dia...”(Sena:Dalam Hati).
Reo terlihat menyiapkan umpan. “Baik,
sekarang tinggal tunggu hasilnya saja. Ayo kita sembunyi.”(Reo).
“Iya.”(Sena). Sena dan Reo terlihat bersembunyi di balik semak-semak
sambil memperhatikan umpan mereka dari kejauhan. “Kau yakin akan
berhasil?”(Sena). “Setidaknya sih begitu, soalnya beberapa orang yang
menggunakan umpan itu, kebanyakan hampir bisa mendapatkannya.”(Reo).
“Kalau bisa seperti itu, kenapa tidak ada yang bisa menangkapnya? Kan
itu berarti umpannya bekerja dan dia pasti akan lengah kan? Bukannya
akan jadi mudah kalau menangkapnya dalam kesempatan itu?”(Sena). “Kau
memang benar, tapi ada masalahnya kenapa mereka tidak bisa
menangkapnya...”(Reo). “Eh?”(Sena). Terlihat ada sesuatu yang bergerak
dari dalam gua. “Maksudmu apa?”(Sena). “Maksudku adalah...”(Reo). Sebuah
makhluk aneh campuran antara harimau, srigala, dan musang yang memiliki
tubuh yang cukup besar dan taring yang panjang akhirnya keluar dari gua
itu. “Mereka tidak akan pernah bisa menangkapnya, karena mereka pasti
akan mati setelah melihat makhluk itu.”(Reo). “Apa?!”(Sena). Monster itu
terlihat merasakan keberadaan Reo dan Sena yang bersembunyi dibalik
semak-semak. “Wah, kelihatannya mulai gawat.”(Reo). Reo terlihat tenang,
sedangkan Sena terlihat sangat panik. “Mulai? Ini sudah sangat gawat
tau! Dia sudah tau keberadaan kita!”(Sena).
Dengan kecepatan yang
luar biasa, monter itu berlari ke arah Sena dan Reo. “Sial!!”(Sena). Reo
terlihat tertawa kecil. Monter itu pun langsung menyerang, namun Reo
dan Sena mampu menghindarinya dengan cepat. “Hampir saja.”(Reo). “Ini
gawat! Dia kelihatannya bukan hanya besar, tapi juga cepat.”(Sena).
“Pengamatanmu boleh juga, ya.”(Reo). Monster itu kembali menyerang,
namun lagi-lagi Reo dan Sena mampu menghindarinya. “Reflek yang
bagus.”(Reo). “Ini bukan waktunya untuk memuji!”(Sena). Monster itu
terus menyerang berkali-kali. “Hei Sena, tolong kau urus bagian kanan,
ya. Biar aku yang akan menjadi umpan. Kalau ada kesempatan, segera
lumpuhkan dia.”(Reo). Sena terlihat panik bercampur kesal. “Jangan
bicara seenaknya! Lagipula, umpan yang sudah kita cari sedari tadi itu
berarti tidak ada gunanya, kan?”(Sena). Reo dengan cepat memancing
perhatian monster itu menuju ke arahnya. “Hei! Reo!”(Sena). Reo terlihat
tersenyum, lalu berhasil menyerang bagian leher monster itu hingga
tersungkur mundur. “Sekarang Sena! Gunakan talinya!”(Reo). Sena yang
melihat itu hanya bisa terperangah. “Eh, ba...baik...”(Sena). Dengan
cepat, Sena berhasil mengikat monster itu. Reo pun mendekati Sena dan
menepuk pundaknya. “Kerja bagus!”(Reo). Sena terlihat setengah tidak
percaya. “I..iya...”(Sena). “Nah, dengan ini...kita telah berhasil
menangkapnya!”(Reo). Perburuan monster hutan yang misterius telah
berhasil. Kerjasama tim yang kompak telah membuahkan hasil.
Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 6 : We Are Your Family"
Posting Komentar