Sena dan Reo berhasil mendapat buruan yang luar biasa. “Nah, kita
sekarang sudah menangkapnya, lalu mau di apakan?”(Sena). “Mmmm...aku
juga belum tau.”(Reo). Sena memperhatikan Reo dan kembali teringat saat
Reo berhasil mengalahkan monster itu. “Hei, Reo...”(Sena).
“Kenapa?”(Reo). “Itu...tadi, bagaimana caranya...kau bisa mengalahkan
monster itu?”(Sena). “Oh, aku rasa tidak terlalu sulit.”(Reo).
“Maksudmu?”(Sena). “Saat dia mengamuk tadi, aku terus mengawasi perilaku
dan pola gerakannya. Saat itu aku tau kalau dia punya titik lemah yang
fatal pada lehernya. Jadi, aku hanya perlu mencari waktu yang tepat
untuk memanfaatkan celah itu.”(Reo). “Begitu ya...ternyata kau jeli juga
rupanya.”(Sena). “Ya begitulah...”(Reo). Sena masih merasa penasaran
dengan kemampuan Reo. “Mana mungkin itu mudah? Untuk melakukan hal
seperti itu butuh konsentrasi dan kemampuan pengamatan yang sangat
bagus. Selain itu, ketepatan waktu, akurasi, dan besaran tenaga serta
pola gerakan yang digunakannya tidaklah sembarangan. Seorang yang
terlatih bahkan
Hyper pun belum tentu bisa sebagus itu.
Sebenarnya, dia itu orang macam apa?”(Sena:Dalam Hati). “Hei Sena,
jangan melamun terus.”(Reo). “Ma...maaf...”(Sena).

Mereka berdua
perlahan mendekati monster itu. “Hei, dia masih sadar. Kalau dia
tiba-tiba lepas bagaimana?”(Sena). “Tenang saja, tali ini sangat kuat,
lagipula ikatanmu juga bagus dan kuat, jadi aku yakin dia tidak akan
menyerang.”(Reo). Saat Reo akan memegang monster itu, tiba-tiba monster
itu bergerak seperti berusaha untuk menggigit tangan Reo. “Tuh kan, dia
itu masih berbahaya.”(Sena). Reo memperhatikan mata monster itu. “Tidak
kok...dia tidak bermaksud begitu...”(Reo). “Eh?”(Sena). Reo kembali
berusaha memegang monster itu dengan lembut. Monster itu yang sedari
tadi memperhatikan Reo terlihat buas, seketika langsung tenang dan
membiarkan kepalanya dipegang oleh Reo. “Lihat, dia baik, kan?”(Reo).
Sena terlihat bingung. “Kenapa bisa?”(Sena). “Ya beginilah, sepertinya
dia tau kalau aku tidak bermaksud jahat, jadi dia membolehkanku
memegangnya.”(Reo). “Maksudnya?”(Sena). “Sebenarnya aku seperti punya
kemampuan khusus untuk bisa memahami dan bertelepati dengan alam, begitu
juga sebaliknya, tapi itu pun hanya kadang-kadang saja.”(Reo). Sena
terlihat kagum dengan Reo. “Wah, ada juga ya kemampuan seperti
itu?”(Sena). “Mungkin saja sih, tapi aku kurang berminat dengan hal
itu.”(Reo). “Kenapa? Bukannya itu luar biasa?”(Sena). “Memang benar,
tapi aku hanya menggunakannya jika ada saat seperti ini. Lagipula itu
terlalu merepotkan, aku hanya senang saja bisa menyatu dengan alam, itu
saja kok.”(Reo). “Begitu ya.”(Sena).
Sena melihat Reo yang dengan
senangnya membelai monster itu yang juga terlihat senang saat dibelai.
“Kalau saja aku juga punya kemampuan khusus seperti itu?”(Sena:Dalam
Hati). “Reo, apa aku boleh memegangnya juga?”(Sena). “Kalau aku sih
boleh-boleh saja, tapi semua tergantung dengan dia sendiri, kan?”(Reo).
“Benar juga.”(Sena). Sena perlahan berusaha mendekatkan tangannya. Namun
tiba-tiba, monster itu mengamuk dan meronta-ronta seakan tidak suka
dengan Sena. Sena terlihat panik. “Apa yang terjadi? Kenapa dia kembali
mengamuk?”(Sena). Reo terlihat menenangkan monster itu dan monster itu
perlahan kembali tenang. “Kenapa bisa begitu?”(Sena).
“Entahlah, akan
coba kucari tau langsung saja.”(Reo). Reo terlihat seperti sedang
bertelepati dengan monster itu. “Bagaimana?”(Sena). “Aku sudah berusaha
menjelaskan, tapi dia tetap tidak suka dengan keberadaanmu.”(Reo).
“Kenapa begitu?”(Sena). “Biar kutanya lagi...”(Reo). Reo kembali
bertelepati dengan monster itu, tapi kali ini Reo telihat terkejut
dengan sesuatu. “Apa yang dikatakannya?”(Sena). Reo terlihat
memperhatikan Sena dengan teliti. “Hei, kenapa kau menatapku seperti
itu?”(Sena). “Jelaskan padaku...”(Reo). Sena terlihat bingung dengan
sikap Reo. “Apa?”(Sena). “Jelaskan padaku, siapa kau sebenarnya?”(Reo).
“!!!”(Sena). Sena tercengang dengan apa yang dikatakan Reo. Monster itu
telah membawa buah kecurigaan pada mereka.
Reo menanyakan hal yang benar-benar membuat Sena merasa bingung
dengan apa yang terjadi. “Kau ini bicara apa? Aku ini Sena.”(Sena).
“Bukan itu yang kumaksud.”(Reo). “Lalu?”(Sena). Reo terlihat berdiri dan
mendekati Sena. “Memang, pada awalnya aku sedikit curiga dengan
keberadaanmu yang tiba-tiba bisa ada di dunia ini. Tapi, perlahan aku
sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, karena aku yakin kau adalah
orang baik...”(Reo). “Jadi maksudmu, kau curiga padaku?”(Sena). “Aku
sebenarnya tidak mau mengungkit itu lagi, tapi apa yang dirasakan
monster ini darimulah yang membuatku sadar akan sesuatu...”(Reo).
“Reo...kau...”(Sena). “Katakan saja, apa tujuanmu yang sebenarnya datang
ke sini?”(Reo). “Bukankah aku sudah bilang, aku sama sekali tidak tau.
Aku sampai ke dunia ini pun bukan kemauanku, itu seperti kebetulan. Bisa
dibilang, aku seperti dijebak.”(Sena). “Apa aku bisa percaya pada
kata-katamu?”(Reo). “Kau ini kenapa? Semenjak aku sampai di dunia ini,
aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku. Kau juga bilang, bahwa aku
juga bagian dari keluargamu. Kita sudah mengetaui kehidupan kita
masing-masing, tapi kenapa?”(Sena). “Jawab dulu pertanyaanku!”(Reo).
Sena terkejut dengan reaksi Reo. “Memang, kalau pun aku punya tujuan
hingga akhirnya sampai di dunia ini, mungkin hanya ada satu...”(Sena).
“Begitu...ternyata selama ini...”(Reo). “Aku hanya ingin tau tentang
kedua orangtuaku! Hanya itu keinginanku!”(Sena). “!!!”(Reo).
Dengan
terlihat kecewa, Sena hendak pergi meninggalkan Reo. “Kalau aku memang
membebanimu, akan lebih baik kalau aku tidak pernah mengenalmu. Aku rasa
kau juga berpikir begitu kan?”(Sena). Reo terlihat terdiam dan teringat
sesuatu. Dari kejauhan, terlihat Azrea datang. “Kakak...ayo kita
pulang! Ini sudah waktunya makan.”(Azrea). Azrea melihat mereka berdua
dan juga monster itu. “Kakak, jadi kakak berhasil...”(Azrea). “Ayo kita
pulang, Azrea.”(Reo). “Eh...”(Azrea). Reo memutus tali yang mengikat
monster itu, dan monster itu pun perlahan pergi. “Kenapa
dilepas?”(Azrea). “Sudah, ayo kita pulang.”(Reo).
“Ba...baiklah...ayo...”(Azrea). Azrea terlihat mengulurkan tangan ke
Sena. “Maaf ya...”(Sena). “Ke...kenapa?”(Azrea). “Aku ingin melanjutkan
perjalananku sendiri, jadi aku akan segera pergi. Terima kasih karena
telah menerimaku di rumah kalian.”(Sena).
Azrea terlihat bingung dengan
apa yang terjadi. “Ta...tapi...bukankah...”(Azrea). Reo meninggalkan
tempat itu tanpa berkata sepatah kata pun. “Kakak! Tunggu!”(Azrea).
“Sampai jumpa...”(Sena). Sena pun juga pergi, sedangkan Azrea yang masih
bingung akhirnya mengejar Reo. “Kakak? Kakak ini kenapa? Kenapa kakak
biarkan dia pergi?”(Azrea). “Akan lebih baik begini.”(Reo). “Kenapa?
Bukankah kakak sangat senang saat Sena bisa tinggal bersama
kita?”(Azrea). Reo hanya berjalan tanpa menjawab pertanyaan Azrea sambil
memasang raut wajah yang berat.
Sena yang terlihat kecewa
akhirnya memutuskan untuk mengejar monster itu. Monster itu terlihat
tidak senang dengan kehadiran Sena yang secara tiba-tiba ada di
depannya. “Aku memang tidak tau kenapa...tapi sebenarnya apa yang sudah
kau katakan padanya? Kenapa kau membuat kami seperti ini?”(Sena).
Monster itu dengan cepat berusaha menyerang Sena. Sena hanya diam tidak
bergeming. Monster itu menatap mata Sena dalam-dalam, namun tiba-tiba
monster itu menjadi tenang.
“!!!”(Sena). Sena terkejut saat tau bahwa
monster itu tiba-tiba tidak jadi menyerangnya. “Kenapa? Apa maksudnya?
Bukankah kau benci padaku?”(Sena). Tiba-tiba Sena mendengar suara yang
lirih. “Aneh...”(Unknow). “Siapa itu?!”(Sena). Sena yang kebingungan
berusaha mencari sumber suara itu, tapi dia sama sekali tidak menemukan
siapapun. “Kau melihat ke mana? Aku sedang bicara denganmu.”(Unknow).
“Sial! Kalau berani tunjukkan dirimu! Jangan hanya sembunyi!”(Sena).
“Dasar bocah tidak sopan! Kau anggap aku siapa?”(Unknow). Sena perlahan
memperhatikan monster itu. “Ja...jangan-jangan...”(Sena). “Tunjukkan
rasa hormatmu bocah! Kau masih beruntung karena aku tidak jadi
menerkammu.”(Unknow). “Mu...mustahil!!”(Sena). Ternyata yang berbicara
itu adalah monster yang sedari tadi ada di depan Sena. “Dasar bocah
aneh...”(Monster). Sena akhirnya mampu mendengar suara monster itu,
namun perpecahan di antara Sena dan Reo sudah terlihat jelas.
Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 7 : Hackles"
Posting Komentar