Sena yang penasaran perlahan mendekati ruangan itu. “Sebenarnya
ruangan apa ini? Dan terlebih lagi, kakek tua aneh itu tiba-tiba
menghilang. Apa jangan-jangan dia hantu?”(Sena). Sena terlihat mulai
agak ketakutan. “Ah, mana mungkin. Lagipula siapa yang peduli. Tujuanku
ke sini sejak awal adalah untuk mencaritau tentang rumah ini.”(Sena).
Sena memperhatikan setiap sudut ruangan itu dengan seksama. “Sama sekali
tidak ada yang aneh.”(Sena:Dalam Hati). Saat Sena tengah serius
mencari, dia menemukan sebuah album foto. “Mungkin ini...”(Sena:Dalam
Hati). Sena membuka album itu. Di dalam album itu, tersimpan foto-foto
kedua orangtua Sena. Saat Sena sedang serius mengamati album itu,
tiba-tiba kakek tua itu sudah berada di belakangnya. “Mereka di saat
muda terlihat mirip denganmu, ya?”(Kakek Tua). Sena pun dibuat terkejut
setengah mati oleh kakek itu. “Wuuuaaa!!!”(Sena). “Ada apa?”(Kakek Tua).
“Kakek ini sebenarnya manusia atau apa sih? Sekejap menghilang, sekejap
sudah di sini.”(Sena). “Memang aku tadi hilang, ya?”(Kakek Tua). Sena
justru menjadi bingung. “Haaahhh...”(Sena:Dalam Hati). “Album itu memang
milik mereka berdua sejak mereka masih muda.”(Kakek Tua). “Jadi itu
artinya, kakek tau tentang orangtuaku?”(Sena). “Ya...bisa dibilang
begitu.”(Kakek Tua). “Kalau begitu, tolong kakek ceritakan semua tentang
kedua orangtuaku yang kakek tau.”(Sena). “Mmmm...”(Kakek Tua). Kakek
tua itu terlihat tengah berpikir serius sambil memejamkan mata. Sena
terus memperhatikan kakek itu. “Bagaimana, kek?”(Sena). Ternyata kakek
tua itu tertidur. “Kenapa kakek malah tidur?!!”(Sena). Kakek itu pun
terbangun. “Oh, sudah pagi, ya?”(Kakek Tua). Sena semakin dibuat
kewalahan oleh kakek itu. “Benar-benar sulit mencari informasi dari
orang seperti kakek ini.”(Sena:Dalam Hati).Kakek tua itu terlihat memandang Sena dengan seksama. “Kau punya benda itu, kan?”(Kakek Tua). “Eh? Benda apa?”(Sena). Kakek itu menunjuk saku baju Sena. “Di situ.”(Kakek Tua). “Di sini, bagaimana dia tiba-tiba bisa tau kalau aku menaruh pecahan Artefak peninggalan ayah dan ibu di saku ini?’(Sena:Dalam Hati). Sena pun mengeluarkannya. “Apa ini yang kakek maksud?”(Sena). Kakek itu memperhatikan dengan seksama benda itu. “Ikut aku.”(Kakek Tua). Kakek tua itu mengajak Sena ke sebuah ruangan lain. “Ke mana, ya? Semoga saja kali ini aku bisa mendapatkan petunjuk.”(Sena:Dalam Hati). Mereka sampai di sebuah ruangan mirip dojo yang cukup luas. Kakek itu pun berhenti. “Nah, coba pegang benda itu dengan kedua tanganmu.”(Kakek Tua). “Kenapa?”(Sena). “Lakukan saja.”(Kakek Tua). “Sikap kakek ini benar-benar berbeda dari yang tadi. Sebenarnya apa yang dia rencanakan?”(Sena:Dalam Hati). Sena pun menggenggam pecahan Artefak itu dengan kedua tangannya. “Begini?”(Sena). “Arahkan kedua tanganmu lurus ke depan.”(Kakek Tua). Sena pun mengangkat tangannya ke depan tepat ke arah kakek itu. Kakek itu pun memegang kedua tangan Sena. “Sebenarnya apa yang ingin kakek lakukan?”(Sena). “Kau akan tau setelah kau mempelajari semuanya...”(Kakek Tua). Sena hanya terdiam karena masih bingung.
Tiba-tiba lantai dojo itu mengeluarkan semacam pola simbol yang bercahaya tepat di bawah kaki Sena. “Hei, apa yang terjadi, kek?”(Sena). “Semuanya...kau pasti akan mengetauinya di sana.”(Kakek Tua). Cahaya itu semakin terang hingga menyilaukan mata Sena. “Kakek?”(Sena). “Temui aku saat kau telah mengetauinya...”(Kakek Tua). Semuanya benar-benar lenyap dalam cahaya itu. Di saat itu, Sena perlahan melihat sesuatu, seperti sebuah gambaran ingatan. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Cahaya itu pun mulai memudar dan Sena terlihat tergeletak di atas rerumputan yang luas. Cahaya yang telah membawanya menuju ke tempat yang asing. Terdampar dan tersesat dalam hembusan angin.
Di atas rerumputan yang bergoyang tertiup angin, Sena perlahan mulai terbangun. “Apa yang terjadi?”(Sena). Sena memperhatikan sekelilingnya dan dia tampak terkejut karena sama sekali tidak tau di mana dia berada sekarang. “Tempat ini? Di mana?”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan berdiri dan mulai berjalan sambil memperhatikan ke segala arah. “Kenapa aku bisa di sini? Dan sebenarnya di mana ini?”(Sena:Dalam Hati). Sena mengingat-ingat kejadian saat di dojo dengan kakek tua tadi. “Apa sebenarnya yang dia rencanakan? Apa ini adalah semacam perangkap?”(Sena:Dalam Hati). Dengan perasaan masih bingung, Sena terus berjalan tanpa arah. Sena pun berjalan hingga ke dalam sebuah hutan. “Hutan ini...walau pun hutan, tapi ini bukan hutan yang ada di pegunungan pinggir kota. Benar-benar berbeda...”(Sena:Dalam Hati). Sena mengamati segala hal yang dia lihat di hutan itu. “Bahkan aku juga tidak tau tentang jenis tanaman di hutan ini.”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat ke atas. “Sebenarnya ini di mana?”(Sena:Dalam Hati). Saat Sena tengah mencaritau apa yang terjadi, terlihat ada sesuatu yang bergerak cepat dari kejauhan. “!!!”(Sena). Ternyata, seekor hewan aneh sedang berusaha menyerang Sena, namun Sena yang sudah mengetaui hal itu langsung menghindar. “Kali ini apa?!”(Sena). Hewan itu kembali berusaha menyerang Sena. “Hei! Tunggu dulu! Kau ini sebenarnya makhluk apa?”(Sena). Hewan itu terus berusaha menyerang Sena. “Sial! Kalau begini, apa boleh buat...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat mengeluarkan pedangnya. “Rasakan ini!!”(Sena). Sena maju dengan cepat untuk menyerang hewan itu.
Saat Sena dan hewan itu hampir berhantaman, tiba-tiba ada seseorang yang memukul mundur hewan itu sekaligus menangkis serangan pedang Sena. “!!!”(Sena). Hewan itu tersungkur mundur, begitu pula dengan Sena. “Hei, Siapa kau?”(Sena). Orang itu berpaling dari Sena dan melihat ke arah hewan itu yang kembali menyerang. Orang itu hanya menjentikkan jarinya, lalu tiba-tiba hewan itu tersungkur tak berdaya. “...”(Sena). “Tak perlu kau lukai...dia itu bukan makhluk buas kok...”(Unknow). “Eh?”(Sena). Orang itu mendekati hewan yang tersungkur tak berdaya itu dan membelainya lembut. “Dia ini hanya tidak suka jika wilayahnya diganggu oleh orang lain.”(Unknow). “Kau siapa?”(Sena). “Namaku Reo Larchcriel, kau bisa memanggilku Reo. Kalau kau sendiri?”(Reo). “Aku...namaku Miyazaki Sena, kau bisa memanggilku Sena.”(Sena). “Sena ya...kelihatannya kau baru di wilayah ini. Kau berasal dari daerah mana?”(Reo). “Mmmm...itulah yang aku tidak tau.”(Sena). “Maksudmu?”(Reo). “Aku...kurasa aku terdampar di dunia atau di dimensi lain.”(Sena). “Apa? Mana ada hal seperti itu.”(Reo). “Aku juga tidak tau. Tapi semua yang ada di sini, sangat jauh berbeda dari apa yang aku ketaui selama ini.”(Sena). “Aku rasa kau benar. Kalau pun kau orang dari wilayah lain, kau tidak mungkin tidak tau cara untuk menjinakkan hewan ini.”(Reo). “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan pada hewan itu?”(Sena). “Oh tenang saja, dia hanya pingsan semetara, cepat atau lambat dia pasti akan bangun dan kembali normal.”(Reo). “Bukan itu, bagaimana caranya kau bisa menundukkan hewan seperti ini hanya dengan cara seperti itu?”(Sena). “Oh...aku tadi menggunakan bius khusus yang aku buat dari tanaman di hutan ini.”(Reo). “Begitu rupanya.”(Sena).
Mereka terlihat berjalan menyusuri hutan sambil berbincang-bincang. “Begitu ya...yah, memang aneh juga ada hal semacam itu.”(Reo). “Ya, aku juga tidak tau apa maksud kakek itu membawaku ke dunia ini.”(Sena). “Kalau begitu, ikutlah denganku sampai kau menemukan cara untuk kembali ke duniamu, bagaimana?”(Reo). “Memang tidak apa-apa?”(Sena). “Tidak apa-apa kok, lagipula aku ingin tau banyak hal tentang duniamu itu, kelihatannya menarik.”(Reo). “Ya, aku rasa aku juga, aku juga harus tau semua tentang dunia ini dan mulai beradaptasi.”(Sena). Mereka berdua berjalan menuju dunia baru. Lembaran baru Sena, akhirnya mulai terbuka.
Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 5 : You Will Know"
Posting Komentar