Keesokkan harinya. Sena terlihat sedang berkemas untuk pergi ke suatu tempat. Sena keluar lalu terlihat menuju stasiun. “Kalau ini memang ada kaitannya dengan ayah dan ibu, maka hanya ada satu tempat yang mungkin akan jadi sumber petunjuk.”(Sena:Dalam Hati). Sena melanjutkan perjalanannya dengan kereta. Kereta itu terlihat menempuh perjalanan cukup jauh. Setelah cukup lama, kereta itu pun berhenti di stasiun di kota yang agak jauh. Sena pun terlihat turun dan melanjutkan perjalanan. “Baiklah, dari sini tinggal sedikit lagi.”(Sena). Sena pun berjalan sambil melihat sekeliling. “Sudah lama juga...aku bahkan sampai hampir lupa.”(Sena:Dalam Hati). Setelah agak lama, Sena pun terlihat sampai di sebuah rumah yang bergaya sederhana. “Sama sekali tidak berubah rupanya.”(Sena). Sena pun membuka pintu dan perlahan masuk ke dalam. Ternyata rumah yang di datangi Sena adalah rumah yang dulu pernah di tinggali Yuki dan Sena saat masih kecil. Sena pun menjelajahi setiap sudut rumah dan dia teringat kembali dengan saat-saat di mana dulu dia tinggal di sana dan menghabiskan waktu bersama dengan Yuki. Sena melihat sebuah foto yang terpajang di atas lemari ruang tamu. “Kakak, selama ini pasti kesepian...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun perlahan meneteskan air mata. Foto yang di pegang Sena adalah foto Yuki bersama dia saat masih kecil dulu.
Saat Sena tengah menangis, dia tiba-tiba melihat sesuatu di belakang foto itu. “Apa ini?”(Sena). Sena pun membuka bingkai dan mengeluarkan foto sebelumnya, dan terlihat ada sebuah foto lain bersama secarik kertas. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Sena memperhatikan foto itu, dan Sena perlahan mulai mengingat sesuatu. “Siapa mereka??”(Sena:Dalam Hati). Sena pun membalik foto itu, dan terdapat sebuah tulisan yaitu Miyazaki Hyuso dan Kurikawa Haruka. Sena sontak terkejut, karena dia selama ini tidak pernah tau seperti apa sosok kedua orangtuanya sewaktu masih remaja dulu bersama seorang anak kecil yang kemungkinan adalah Yuki. “Jadi ini...ayah dan...ibu...”(Sena). Sena pun jatuh bersimpuh. “Ayah...ibu...”(Sena:Dalam Hati). Air mata Sena semakin tidak terbendung mengetaui itu. “Tapi...tapi kenapa? Kenapa kakak tidak pernah memperlihatkannya padaku?”(Sena). “Karena dia tidak ingin kau mengetauinya.”(Unknow). Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat ada seseorang masuk. Sena pun melihat seseorang yang terlihat tidak asing buatnya. “Kau...jangan-jangan...”(Sena). Ternyata orang tersebut adalah seorang nenek yang tidak lain adalah tetangga samping rumah itu yaitu Nenek Tayu. “Nenek!”(Sena). “Sudah lama sekali, ya? Kau bahkan sudah lebih besar sekarang.”(Nenek Tayu). Sena pun berlari dan memeluk Nenek Tayu sambil menangis. “Aku yakin, kau pasti akan ke mari lagi...”(Nenek Tayu). Sena perlahan mulai tenang dan melepaskan pelukkannya. “Iya...”(Sena). “Yuki...dia juga percaya...dengan hal itu.”(Nenek Tayu).
Sena dan Nenek Tayu pun duduk dan mulai bercerita. “Bagaimana dengan keadaan nenek? Kelihatannya nenek baik-baik saja, ya?”(Sena). “Iya...semua di sini juga sama sekali tidak ada yang berubah.”(Nenek Tayu). Sena terdiam sejenak. “Ya, itu benar juga.”(Sena). “Yuki, selama ini dia terus merawat tempat ini.”(Nenek Tayu). “Walau begitu, tidak terasa juga, ya? Sudah sangat lama sekali sejak aku meninggalkan rumah ini, namun tidak banyak yang berubah.”(Sena). “Iya...namun saat kabar tentang kematian Yuki sampai, aku sangat terkejut. Namun, banyak juga teman-temannya yang datang untuk mendoakannya.”(Nenek Tayu). “Begitu rupanya, dia pasti sangat berharga di mata mereka, ya?”(Sena). Nenek Tayu terlihat teringat sesuatu. “Sejak kepergianmu, setiap malam dia selalu datang ke rumahku dan menceritakan banyak hal.”(Nenek Tayu). “Banyak hal?”(Sena). “Iya, seperti apa yang dia rasakan dan apa yang ingin dia lakukan.”(Nenek Tayu). “Kalau begitu, saat di mana kakak...”(Sena). “Untuk yang satu itu, dia sama sekali tidak mengatakannya padaku.”(Nenek Tayu). “Apa?”(Sena). “Tidak seperti malam biasanya, malam itu...”(Nenek Tayu). Nenek Tayu teringat pada malam sebelum kejadian itu. “Dia hanya membicarakan hal tentang dirimu.”(Nenek Tayu). Sena terlihat penasaran. “Dia bilang, dia sangat tidak ingin kau terluka, tapi dia tau, kau pasti akan tetap menghadapi hal seperti itu meskipun dia tutupi sekali pun, dan cepat atau lambat kau pasti akan menjadi seorang Hyper meski dia mencoba melarangmu seperti apapun.”(Nenek Tayu). “...”(Sena). “Dia bilang, dia ingin menebus semua kesalahannya karena telah menutupi tentang kebenaran dirimu yang sebenarnya. Lalu dia pergi dan bilang padaku untuk membantumu saat kau membutuhkannya.”(Nenek Tayu). “Kakak...”(Sena:Dalam Hati). “Dia...selalu percaya...padamu...Sena...”(Nenek Tayu). Orangtua yang selama ini tidak dia mengerti, sekarang telah tergambar jelas dalam memori.
Nenek Tayu mengungkap segala hal yang telah disembunyikan Yuki dari Sena. Sena melihat secarik kertas yang tadi bersama foto itu. “Lalu, ini apa?”(Sena). “Bukalah, kau pasti akan mengetauinya.”(Nenek Tayu). Dengan penuh rasa penasaran, Sena membuka dan membaca isinya. “Ini...”(Sena). Sena terlihat terkejut melihat kertas itu yang ternyata sebuah surat dari kedua orangtuanya. “Kurasa, ini sudah waktunya untukmu mengetaui segalanya yang seharusnya kau tau.”(Nenek Tayu). Sena terdiam sejenak. “Kalau begitu...”(Sena). Sena terlihat pergi meninggalkan rumah itu. Nenek Tayu memperhatikan Sena yang terus pergi. “Dia memang sudah dewasa sekarang...”(Nenek Tayu:Dalam Hati). Nenek Tayu melihat ke arah langit biru. Di tempat lain terlihat Hana yang datang ke apartement Sena. Hana mengetuk pintu. “Percuma...dia tidak ada.”(Tora). Tora datang dan mendekati Hana. “Apa?”(Hana). “Sudah sejak tadi pagi dia pergi, mungkin dia ke suatu tempat.”(Tora). “Lalu, apa kau tau dia ke mana?”(Hana). “Tidak, tapi dia semalam berpesan padaku untuk memberitaumu seandainya kau datang.”(Tora). “Begitu ya...”(Hana). “Tapi kau tak perlu cemas...”(Tora). Tora terlihat tenang. “Dari ekspresi dan sikapnya saat pergi tadi, dia sudah terlihat bersemangat seperti biasanya, jadi aku yakin, dia pasti akan baik-baik saja.”(Tora). Hana terlihat memperhatikan Tora. “Ya, semoga saja begitu...”(Hana). “Tapi aku masih bingung, soalnya saat kutanya ke mana dan ada urusan apa, dia hanya bilang kalau dia pasti akan pulang secepatnya. Memang kau tau, apa yang sedang dia cari?”(Tora). “Tidak, aku juga tidak tau.”(Hana).
Di tempat yang berbeda, Sena terlihat sedang berjalan di sebuah jalan setapak di daerah terpencil di dekat hutan. Dia terus berjalan menembus tebalnya rerumputan dan alang-alang yang menutupi sepanjang jalan. Setelah berjalan cukup jauh, Sena sampai di sebuah tempat. “Jadi di sini...”(Sena). Sena terlihat sampai di sebuah rumah yang bergaya kuno khas zaman dulu. Sena dengan perlahan memasuki rumah itu. “Permisi...”(Sena). Tiba-tiba Sena mendengar suara seseorang. “Bukankah tidak sopan, jika masuk ke sebuah tempat tanpa izin?”(Unknow). “Siapa itu?”(Sena). Terlihat seorang kakek tua mendekati Sena. “Kau sendiri siapa?”(Kakek Tua). “Aku, Sena...Miyazaki Sena, aku ke sini untuk mencari tau tentang rumah ini. Kalau kakek sendiri?”(Sena). “Aku adalah penjaga tempat ini.”(Kakek Tua). “Begitu ya...”(Sena). Kakek itu terlihat memperhatikan Sena. “Miyazaki ya...kedengarannya tidak asing...”(Kakek Tua). “Tentu saja, karena rumah ini adalah milik orangtuaku jadi kau pasti kenal namaku.”(Sena). Kakek itu terlihat teringat sesuatu. “Oh, ya...Miyazaki...ya benar juga...”(Kakek Tua). “Haaahhh...aku jadi curiga dengan kakek ini.”(Sena:Dalam Hati). “Ngomong-ngomong, kenapa kau kemari?”(Kakek Tua). “Kan sudah kubilang, aku ingin mencari tau semua hal tentang rumah ini.”(Sena). “Oh ya...aku lupa...”(Kakek Tua). Sena terlihat agak kesal. “Benar-benar parah...”(Sena:Dalam Hati). Kakek itu mengajak Sena menyusuri rumah itu. “Kakek bilang, kakek adalah penjaga tempat ini, kalau begitu kakek pasti tau tentang pemiliki tempat ini, kan?”(Sena). Kakek itu hanya diam seolah mengacuhkan Sena. “Hei...kakek...”(Sena). Kakek itu tetap tidak menggubris. “Kakek!”(Sena). “Eh iya, ada apa ya?”(Kakek tua). “Kakek dengar yang barusan kutanyakan tidak?”(Sena). Kakek itu terlihat berpikir. “Memang apa ya?”(Kakek Tua).
Sena benar-benar dibuat kesal oleh kakek itu. Tiba-tiba, kakek itu berhenti. “Ada apa sekarang, Kek?”(Sena). Kakek itu hanya diam. “Lagi-lagi...”(Sena:Dalam Hati). Namun, kakek tua itu perlahan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sesuatu. Sena yang kebingungan memperhatikan ke arah yang ditunjuk kakek tua itu. Kakek itu terlihat menunjuk ke sebuah ruangan. “Ruangan ini ya? Memang ini...”(Sena). Saat Sena menoleh dan baru akan bertanya pada kakek tua itu, ternyata kakek tua itu sudah menghilang. “!!!”(Sena). Sena terlihat terkejut. “Ke mana perginya kakek tadi?”(Sena). Sena memperhatikan ke ruangan yang sebelumnya ditunjuk oleh kakek tua tadi. “Apa di sana ada sesuatu?”(Sena). Dengan penuh rasa penasaran Sena pun perlahan mendekati ruangan itu. Menguak misteri siapa dirinya, Sena terus menghadapi teka-teki yang bermunculan.

Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 4 : It’s Been A While"
Posting Komentar