Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 30 A Little Memory and Our Pain

Naria terlihat berlari menuju ke tempat Putri Alice. “Semoga saja yang dikatakannya benar...”(Naria:Dalam Hati). Tak lama berselang, terlihat seseorang dari kejauhan. “Itu...”(Naria). Naria mempercepat larinya dan akhirnya sampai. “Ternyata kau memang ada di sini...”(Naria). Ternyata orang yang ditemui Naria memang Putri Alice yang terlihat sedang duduk termenung. “Hei, kau tidak apa-apa?”(Naria). Putri Alice hanya terdiam. “Apa dia melakukan sesuatu padamu?”(Naria). “Naria...apa aku ini terlalu baik?”(Putri Alice). “Apa maksudmu?”(Naria). Putri Alice terdiam sejenak. “Apa mencoba memaafkan orang yang berusaha membunuh kita itu salah?”(Putri Alice). Naria tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Putri Alice. “Itu semua...tergantung pada kata hatimu...”(Naria). Putri Alice menatap Naria. “Kalau hatimu memang bisa memaafkannya tanpa penyesalan...maka menurutku itu tidak salah, karena setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk memperbaiki dirinya.”(Naria). “Begitu ya...”(Putri Alice). Putri Alice pun meraih tangan Naria dan mulai berdiri. “Mungkin sebagai seorang putri...aku sudah gagal...”(Putri Alice). “...”(Naria). “Aku sama sekali tidak bisa memahami rasa sakit dari rakyatku...aku bertindak seolah-olah akulah yang paling menderita, tapi dibalik itu semua...itu hanyalah sebuah keegoisan yang justru membuatku tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan...”(Putri Alice). “Putri...”(Naria:Dalam Hati). “Tolong pertemukan aku padanya sekali lagi. Walau sedikit, aku juga ingin merasakan apa yang kalian semua rasakan.”(Putri Alice). Naria terlihat lega. “Iya...”(Naria).

Kembali ke Sena. Fiona mulai menceritakan masa lalunya bersama Reo. “Sejak dari kecil, aku, Reo, dan juga Azrea selalu bermain bersama. Kami hidup dan dibesarkan dalam lingkungan yang damai...”(Fiona). Fiona kembali teringat saat dia masih kecil dulu. Reo dan Azrea terlihat berdiri di luar rumah Fiona. “Hei, Fiona! Ayo cepat!”(Reo). “Iya sebentar!”(Fiona). “Haaaahhh...dia itu memang lambat.”(Reo). “Tak apa-apa kan, kak? Lagipula acaranya juga belum dimulai.”(Azrea). “Iya...tapi kalau tidak cepat, nanti kita tidak bisa masuk.”(Reo). Tak lama berselang, Azrea terlihat keluar dari rumahnya. “Maaf kalau kalian menunggu lama.”(Fiona). “Kau ini...lain kali lebih cepat sedikit. Kalau tidak, kita pasti tidak akan bisa masuk.”(Reo). “Iya, maaf...”(Fiona). “Baiklah...ayo kita berangkat sekarang!”(Azrea). “Iya!”(Reo). Kembali ke Fiona sekarang. Fiona kembali meneruskan ceritanya. “Kami selalu pergi ke tempat itu untuk melihat pertunjukkan di sana. Karena kami tidak punya uang untuk membeli tiket masuk, kami selalu pergi lebih awal dari penonton lain agar bisa masuk secara diam-diam. Kami sangat takjub dengan penampilan mereka yang sangat hebat.”(Fiona). “Tidak punya uang?”(Sena). “Iya, kami hanyalah anak dari keluarga miskin yang tinggal di pinggir kerajaan. Aku hanya hidup berdua dengan kakekku yang sakit-sakitan, sedangkan kedua orangtuaku pergi untuk berdagang dan pulang hanya satu hari dalam seminggu...”(Fiona).

Sena perlahan teringat kembali dengan kedua orang tuanya. “Namun, hidup Reo jauh lebih menderita dari pada aku...”(Fiona). “Memang...seperti apa kehidupan Reo?”(Sena). “Ibu Reo bekerja sebagai pelayan di salah satu bar di daerah kami sedangkan ayahnya hanya seorang pencari kayu yang suka mabuk-mabukkan. Setiap ayahnya pulang, dia pasti dalam keadaan mabuk dan memukuli mereka sebagai pelampiasan karena kehidupan mereka...”(Fiona). Sena terlihat terkejut mendengar cerita Fiona. “Walaupun seperti itu, Reo tidak pernah sedikit pun lari dari kenyataan dan selalu berusaha melakukan apapun. Dia selalu bekerja dan bekerja demi membantu kehidupan keluarganya. Segala macam pekerjaan dia lakukan demi keluargannya, dengan harapan bahwa suatu hari nanti, dia tidak perlu lagi merasakan penderitaan ini.”(Fiona). Tak lama berselang, terlihat Naria dan Putri Alice datang menghampiri Sena dan Fiona, bersamaan dengan bergeraknya dinding labirin. “Sena! Aku berhasil membawa putri.”(Naria). “Syukurlah...”(Sena). “Maaf sudah membuatmu khawatir.”(Putri Alice). Putri Alice melihat ke arah Fiona. “Kelihatannya kau sudah membaik...Tuan Putri...”(Fiona). Putri Alice terdiam sejenak. “Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu...”(Putri Alice). Masa kecil yang penuh tawa dan tangis. Mereka mencoba melihat ke dalam hati masing-masing.

 Dengan penuh rasa ingin tau, Putri Alice menanyakan sesuatu pada Fiona. “Apa yang ingin kau ketaui dariku, Tuan Putri?”(Fiona). “Rasa sakit itu...aku juga ingin memahaminya. Aku memang gagal sebagai seorang putri, tapi paling tidak aku juga ingin merasakan apa yang kalian semua rasakan. Aku ingin memutuskan keinginanku karena kalian semua. Aku ingin menyelamatkan dunia ini!”(Putri Alice). Fiona memalingkan wajahnya dari Putri Alice. “Rasa sakit kami...tidak akan semudah itu kau bisa memahaminya, Tuan Putri...”(Fiona). “Kenapa?”(Putri Alice). “Karena dengan membaginya...itu sama saja kami memperburuk rasa sakit yang kami miliki, dan membuat kami tidak akan bisa menghapusnya.”(Fiona). Putri Alice hanya bisa diam mendengar perkataan Fiona. “Hidup itu...memang tidak mudah...”(Sena). Sena teringat dengan masa lalunya saat dia kehilangan ayah, ibu, Yuki, dan juga Kira. “Saat kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga, rasa sakit itu pasti ada...dan rasa sakit pasti membawa luka, aku juga mengalaminya...”(Sena). Putri Alice teringat saat Sena pernah menceritakan kehidupannya padanya. “Tapi, dengan memahaminya...setidaknya kau tidak perlu menanggung semua luka itu sendirian, itulah yang aku rasakan...”(Sena). Fiona teringat dengan apa yang dikatakan Reo saat di kapal. “Kau tau...mungkin dia jauh lebih kuat dariku...”(Reo). “Kenapa kau yakin begitu? Kau juga kuat.”(Fiona). “Karena...dia punya satu hal yang tidak ku miliki, hanya itu...”(Reo).

Fiona terlihat tersenyum. “Sekarang aku tau...apa yang membuatnya kuat. Walaupun dia punya sisi gelap dalam dirinya, tapi jauh dari itu, dia punya kekuatan yang besar...”(Fiona:Dalam Hati). Fiona pun berbalik ke arah Putri Alice. “Mungkin itu ada benarnya...”(Fiona). “Jadi...”(Putri Alice). “Walau begitu...aku tetap tidak bisa memaafkan orang itu. Aku akan tetap menghancurkannya dengan tanganku sendiri.”(Fiona). “Maaf...tapi dari pada berpikir begitu, sebaiknya kita harus menyelesaikan babak ini dulu. Kita sudah kehabisan banyak waktu.”(Naria). “Benar juga...”(Sena). Sena pun mengeluarkan kartunya. “Tapi, sejauh ini tidak ada kemajuan. Belum ada satu peserta pun yang berhasil keluar.”(Sena). “Kalau begitu, kita harus pecahkan teka-tekinya terlebih dahulu.”(Fiona). “Tapi, teka-teki ini juga cukup sulit.”(Putri Alice). Sena dan yang lainnya terlihat berpikir. “Saat bayangan bersembunyi...apa maksudnya, ya?”(Naria). “Gerhana matahari...”(Sena). “Eh?”(Naria). “Maksudmu...”(Putri Alice). “Itu benar. Kalau dipikir sekali lagi, matahari dan bulan itu seperti dua sisi mata uang yang berlawanan...”(Fiona). “Dan hanya ada satu momen di mana keduanya muncul secara bersamaan...”(Sena). “Oh iya, saat gerhana matahari, kan?”(Naria). “Tapi, bagaimana bisa kalian yakin kalau yang dimaksud adalah gerhana?”(Putri Alice). “Karena...”(Fiona).

Tiba-tiba langit mulai menjadi gelap. “Hari ini...adalah hari di mana hal itu akan terjadi.”(Fiona). Semua peserta lain terlihat menyadari hal itu. “Saat gerhana...semua jadi gelap, sehingga bayangan tidak mungkin terlihat, dan cahaya matahari berubah menjadi kelam, seakan bersedih. Itulah maksud sebenarnya dari teka-teki ini.”(Sena). “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”(Naria). Sena terlihat memperhatikan kartunya dan teringat sesuatu. “Jangan-jangan...”(Sena:Dalam Hati). Sena mengangkat kartunya ke arah sinar gerhana. “Ada apa, Sena?”(Putri Alice). Tak lama berselang, terlihat sebuah simbol muncul di denah labirin yang ada di kartu Sena. “Ketemu!”(Sena). “Apa yang ketemu?”(Naria). “Kalian cepat ikut aku!”(Sena). Sena mulai berlari. “Hei!”(Naria). “Tunggu dulu!”(Putri Alice). “Dia jadi terlihat semangat sekarang.”(Fiona). Putri Alice, Naria, dan Fiona pun berlari mengikuti Sena. “Ayolah...”(Sena:Dalam Hati). Dinding labirin kembali bergerak. “Gawat! Kenapa di saat begini...”(Sena:Dalam Hati). Jalur yang berada di antara Sena dan Putri Alice mulai tertutup. “Semuanya! Ayo cepat!”(Sena). Putri Alice, Naria, dan Fiona berlari sekuat tenaga. “Tidak akan sempat...”(Putri Alice:Dalam Hati). “Tidak ada pilihan lagi...”(Fiona:Dalam Hati). Fiona tiba-tiba memegang tangan Putri Alice dan Naria. Fiona langsung melempar Putri Alice dan Naria ke arah Sena. “Kalian...menangkanlah event ini!”(Fiona). Tersampaikan, semangat itu telah dia percayakan pada mereka.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 30 A Little Memory and Our Pain"

Posting Komentar