Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 29 Behind Curtain and The Assassin

Dalam sekejap, sebuah serangan telak hampir mengenai Sena, namun Sena berhasil menghindarinya. “Ternyata kau memang sulit untuk dijatuhkan, ya?”(Unknow). “Apa-apaan ini sebenarnya?!”(Sena). “Ada apa? Kenapa kau tidak cari tau saja sendiri?”(Unknow). Orang tersebut kembali berusaha menyerang Sena. “Kalau begitu...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun bersiap untuk melancarkan serangan balik. “Terima ini!!”(Unknow). Dengan sekejap mata, Sena berhasil melempar senjata orang itu dan langsung mengacungkan pedangnya ke arah leher orang itu. “Si...sial...”(Unknow). “Jadi...bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu?”(Sena). Orang itu terlihat terdesak. “Apa yang ingin kau tau dariku?”(Unknow). Sena pun menatap tajam mata orang itu. “Semuannya...semua yang berhubungan dengan event ini.”(Sena). Sementara itu, di sudut lain labirin, terlihat Putri Alice sedang berjalan menyusuri jalur-jalur di dalam labirin. “Bagaimana ini, sama sekali tidak ada petunjuk arah yang jelas.”(Putri Alice). Putri Alice pun terus berjalan, hingga dia berpapasan dengan seseorang. “Kau...”(Putri Alice). Ternyata orang tersebut adalah Fiona. “Oh, Tuan Putri, ya? Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini.”(Fiona). Putri Alice langsung mengambil posisi siaga. “Hei...hei...apa sebegitu takutnya anda padaku, Tuan Putri?”(Fiona). “Aku sudah dengar semua rumor tentangmu. Kau adalah pemburu bayaran yang punya kemampuan tinggi dan sama sekali tidak kenal belas kasih. Semua orang kerajaan sudah tau tentangmu.”(Putri Alice).

Fiona pun melangkah mendekati Putri Alice sambil tersenyum kecil. “Haaaahhh...padahal itu hanya pekerjaan biasa kok. Lagipula mereka itu terlalu melebih-lebihkan saja. Aku sama sekali tidak tertarik dengan bunuh-membunuh atau semacamnya. Aku hanya tertarik dengan pertarungan dan uangnya saja. Kalau pun aku membunuh, itu karena lawanku memang terlalu lemah.”(Fiona). “...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat serius. “Kalau kau ingin tau alasan kenapa aku melakukan semua itu, maka jawabku hanya singkat saja...”(Fiona). Tiba-tiba, terlihat seseorang berlari dari salah satu persimpangan di sebelah kanan Putri Alice. Dengan cepat, Fiona langsung menembak orang tersebut, yang ternyata berusaha ingin menyerang Putri Alice. “!!!”(Putri Alice). “Karena rasa sakitku ini tidak akan pernah hilang sampai aku bisa membunuh dia. Itulah alasanku menjadi kuat dan membunuh orang-orang...”(Fiona). Orang tadi langsung tersungkur tak bernyawa. “Kenapa...kau...”(Putri Alice). “Apa kau berpikir masih bisa memaafkan orang yang berusaha membunuhmu tanpa berpikir? Kuberi tau kau satu pengertian jelas di sini...”(Fiona). Fiona melangkah menuju mayat orang tadi. “Tidak ada yang namanya belas kasihan dalam dendam. Kalau kau tidak mau merasakan dendam, maka jangan pernah menyayangi sesuatu.”(Fiona).

Di sudut lain labirin. Reo terlihat berjalan sambil memikirkan sesuatu. Reo mengeluarkan sebuah kalung yang di dalamnya terdapat fotonya bersama ayah, ibu, dan Azrea. Reo teringat kembali dengan Azrea. “Tidak akan kubiarkan semua itu terulang lagi...”(Reo:Dalam Hati). Reo lalu berhenti dan menutup kalungnya. “Akan kupastikan semua baik-baik saja...”(Reo:Dalam Hati). Reo menoleh ke jalur yang ada di sisi kirinya. “Kakak pasti berhasil...kakak janji.”(Reo:Dalam Hati). Kembali ke tempat Putri Alice. Putri Alice masih terlihat tegang setelah melihat apa yang dilakukan oleh Fiona. “Jangan salah sangka. Aku menolongmu karena kau punya hubungan dengan dia, jadi...”(Fiona). Fiona pun menoleh ke arah Putri Alice dengan tatapan menakutkan. “Mohon bantuannya...Tuan Putri...”(Fiona). Fiona pun beranjak meninggalkan Putri Alice yang masih ketakutan. Di tempat Sena. Sena terlihat terkejut mendengar jawaban dari orang yang tadi berusaha menyerangnya. “Maksudmu...(Sena). “Ya, hanya itu yang aku tau. Terlebih lagi dengan apa yang terjadi di kapal waktu itu, mana mungkin ada peserta yang akan menolongmu.”(Unknow). “Itu artinya...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun melepas orang itu dan langsung berlari menuju suatu tempat. Semakin rumit. Setiap petunjuk itu semakin membawanya dalam labirin kebimbangan.

Dengan penuh kebimbangan, Sena terus berlari melewati setiap sudut labirin. “Jika diingat-ingat lagi...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan kakek tua yang sudah mengirimnya ke dunia ini. “Dia bilang ini ada hubungannya dengan ayah dan ibu...”(Sena:Dalam Hati). Dinding labirin kembali bergerak. “Jika memang target utama event ini adalah aku...”(Sena:Dalam Hati). Dinding labirin akhirnya telah berhenti. Di kejauhan Sena melihat beberapa peserta yang lain. “Maka dengan memenangkan event ini, mungkin saja...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu Sena dari belakang. Sena pun berbalik, dan ternyata orang itu adalah Naria. “Kau kan...”(Sena). “Jadi kau tidak bersama putri, ya?”(Naria). “Iya, itu...”(Sena). Tiba-tiba Sena teringat dengan Putri Alice. “Gawat! Aku lupa jika keadaannya jadi buruk!”(Sena:Dalam Hati). “Ada apa?”(Naria). “Sebaiknya kita cari dia dulu. Setelah kejadian di kapal, bukannya tidak mungkin jika banyak peserta yang dendam dan berusaha untuk membunuhnya.”(Sena). “Ya, tapi kita kan belum tau posisi dia di mana.”(Naria). Sena terlihat bingung. “Kalau dibiarkan saja bisa gawat...”(Sena:Dalam Hati). Dari kejauhan, terlihat seseorang mendekati Sena dan Naria. “Tenang saja...dia tidak apa-apa kok...”(Unknow).

Sena dan Naria menoleh ke arah orang itu yang ternyata adalah Fiona. “Siapa kau?”(Sena). “Jangan-jangan kau...”(Naria). “Aku tadi sempat berbincang-bincang dengannya. Ya, mungkin aku sedikit keras padanya, tapi aku hanya ingin dia mengubah sedikit pola pikirnya sebagai seorang putri...”(Fiona). “Apa maksudmu?”(Sena). “Kalau kau memang ingin menemui dia, dia ada di ujung jalur belakangku ini. Kalau kalian ke sana mungkin kalian masih bisa menemukannya.”(Fiona). Sena terlihat merasakan hawa yang kuat dari Fiona. “Kalau diamati lagi, dia punya hawa tekanan yang hebat...kelihatannya dia bukan peserta biasa.”(Sena:Dalam Hati). “Kalau begitu, kita sebaiknya segera ke tempat putri!”(Naria). “Apa kami bisa percaya dengan kata-katamu?”(Sena). “Aku tidak bilang kalian harus percaya. Aku hanya mengatakan apa yang memang aku tau. Semuanya terserah pada kalian.”(Fiona). Naria terlihat memberikan Sena sesuatu. “Ambil ini. Dengan ini aku bisa berkomunikasi denganmu, jadi kau tunggu saja di sini dan biar aku yang akan memastikannya.”(Naria). “Apa kau yakin?”(Sena). “Putri sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, jadi akan kulakukan apapun untuk menolongnya.”(Naria). “Baiklah, aku percayakan dia padamu. Biar aku yang menyelesaikan sisanya.”(Sena).

Naria pun berlari menuju jalur yang ditunjukkan Fiona tadi. “Dia memang anak yang baik...”(Fiona). Sena terlihat mendekati Fiona. “Aku tidak tau apa rencanamu, tapi aku tidak segan-segan melakukan apapun padamu jika kau berbuat macam-macam.”(Sena) “Hei...tidak sepantasnya laki-laki bersikap seperti itu terhadap perempuan, kan?”(Fiona). Fiona memperhatikan sorot mata Sena. “Matamu bagus...kelihatannya kau cukup hebat juga.”(Fiona). “Kau juga...”(Sena). “Aku tidak tau apa hubunganmu dengan putri, tapi bagiku dia itu putri yang terlalu lembek.”(Fiona). “Lalu?”(Sena). “Sebenarnya aku hanya ingin menggunakannya sebagai jembatan agar aku bisa bertemu langsung dengan orang itu. Kau tau maksudku, kan?”(Fiona). “Kenapa begitu? Memang apa kaitannya hal itu dengan putri?”(Sena). “Aku yakin kau sudah mendengar tentang hubungannya dengan orang itu, jadi...”(Fiona). Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Jadi, dia juga tau tentang hal itu?”(Sena:Dalam Hati). “Orang itu mungkin saja akan segera keluar saat dia tau bahwa putri masih hidup, jadi akan lebih mudah bagiku untuk berhadapan dengannya.”(Fiona). “Jadi, kau juga punya dendam dengan orang itu?”(Sena). “Tidak ada yang tidak dendam padanya. Aku hanya ingin membuatnya merasakan apa yang aku dan yang lainnya rasakan, itu saja...”(Fiona). “Orang ini...”(Sena:Dalam Hati). Fiona terlihat tersenyum. “Sepertinya...aku sudah bicara terlalu banyak padamu, tapi itu sudah cukup bagiku.”(Fiona). “Apa maksudmu?”(Sena). “Saat aku tau kau adalah sahabatnya Reo, aku rasa kau itu mungkin orang yang cukup baik.”(Fiona). “Kau kenal dengan Reo?”(Sena). “Dia itu...jauh lebih menderita dari pada aku...jadi saat aku tau dia punya sahabat sepertimu, aku jadi yakin kalau kau bukanlah orang biasa...”(Fiona). Dibalik dinginnya tubuh yang terbalutkan darah. Hati kecilnya masih menyimpan memori yang penuh kenangan.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 29 Behind Curtain and The Assassin"

Posting Komentar