Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 28 Labyrinth and True Target

Sebuah pulau mulai terlihat dari kejauhan. Terlihat Reo sedang memandang ke arah pulau itu. “Akhirnya terlihat juga.”(Reo). “Kau tegang, ya?”(Fiona). “Ya, bisa dibilang begitu...”(Reo). “Aku rasa ketegangan yang sebenarnya akan dimulai di sini.”(Fiona). “Aku juga berharap begitu.”(Reo). Di sudut lain, terlihat Sena juga sedang memperhatikan pulau itu. “Kau sedang apa?”(Naria). “Tidak ada. Aku hanya ingin melihat pulau tujuan kita.”(Sena). “Pulau itu, ya? Pulau itu memang sudah jadi seperti arena gladiator sejak tiga tahun yang lalu.”(Naria). “Gladiator?”(Sena). “Di sana lah tempat event yang sebenarnya. Karena setiap tahun sistemnya berbeda, maka tidak ada yang tau apa yang diselenggarakan di sana.”(Naria). “Begitu ya...”(Sena). “Selain itu, tahun ini terdapat rumor bahwa hadiah utamanya adalah sebuah benda misterius yang dapat mengabulkan segala hal yang kita inginkan, jadi tidak heran bahwa peserta tahun ini jauh lebih banyak dan lebih kuat dari tahun-tahun yang lalu.”(Naria). “Memang benda seperti itu ada di dunia ini?”(Sena). “Ada...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat mendekati Sena dan Naria. “Benda itu adalah benda yang dulu pernah aku ceritakan padamu, kau masih ingat?”(Putri Alice). “Dulu...apa maksudmu saat...”(Sena).

Sena teringat saat Putri Alice menceritakan masa lalu kerajaan pada Sena dulu. “Benda itu adalah benda yang diambil oleh orang itu, karenannya benda itu memang benar adanya.”(Putri Alice). “Kalau itu benar, kenapa dia menjadikan benda berharga seperti itu sebagai hadiah utama event ini?”(Naria). “Karena dia mungkin sedang mengincar sesuatu, dan apa pun itu, pasti bukan sesuatu yang bagus.”(Sena). “Jadi, kita hanya harus memenangkan event ini dan mengambil benda itu darinya untuk mengembalikan dunia ini.”(Putri Alice). “Tidak semudah itu juga. Kalau dia memang mengincar sesuatu, maka kemenangan di event ini mungkin akan jauh lebih sulit daripada event-event sebelumnya.”(Sena). “Benar juga...jadi apa yang harus kita lakukan?”(Naria). “Jangan terlalu terfokus pada event ini. Kita juga harus memperhatikan setiap detail kecil yang terasa mencurigakan.”(Sena). “Baik!”(Naria). “Aku mengerti.”(Putri Alice). Kapal pun akhirnya sampai dan mulai menepi. “Baiklah, semua peserta segera menuju ke area yang telah ditentukan, di sanalah akan dijelaskan tentang penyelenggaraan babak kedua.”(Ketua Panitia). Seluruh peserta mulai turun dari kapal dan menuju ke area yang ditentukan. “Setelah insiden semalam, jumlah peserta sekarang jadi sembilan puluh sembilan orang. Apa akan diberlakukan peraturan khusus?”(Reo:Dalam Hati).

Setelah berjalan cukup jauh, seluruh peserta akhirnya sampai di sebuah tempat mirip pelataran kuil tua. “Kami akan menjelaskan tentang peraturan babak kedua ini. Jadi, setiap peserta akan berdiri di simbol ini, lalu kami akan mengirimnya ke arena babak kedua. Di sana peserta hanya perlu mencari jalan keluar yang berada di tengah arena. Untuk denah arenanya bisa dilihat dari kartu yang telah kalian pegang masing-masing...”(Ketua Panitia). Seluruh peserta melihat ke kartu masing-masing. “Di kartu tersebut terdapat denah dan penunjuk posisi di mana si pemegang kartu berada. Sistem arena kali ini adalah labirin yang dindingnya akan bergerak setiap sepuluh menit sekali secara acak. Peraturan bebas dan enam puluh empat peserta pertama yang berhasil lolos, maka berhak melaju ke babak selanjutnya.”(Ketua Panitia). Seluruh peserta terlihat serius. “Untuk mempersingkat waktu, satu per satu peserta bisa berdiri di atas simbol ini dan babak kedua akan dimulai setelah peserta terakhir sampai di arena.”(Ketua Panitia). Satu per satu peserta mulai maju dan pergi menuju arena. “Sampai bertemu di babak berlikutnya, Sena.”(Putri Alice). “Ya, kau juga.”(Sena). Sena melihat ke arah Reo yang berada agak jauh darinya. Seluruh peserta akhirnya sampai di arena dan Sena adalah urutan yang terakhir. Sena teringat dengan perkataan kakek tua yang mengirimnya ke dunia ini. “Kalau memang benda itu ada kaitannya dengan ayah dan ibu...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat menggenggam pecahan artefak yang diberikan oleh Ryuto dulu. “Maka pasti akan aku dapatkan!”(Sena:Dalam Hati). Babak Kedua dimulai. Labirin yang penuh tanda tanya telah ada dihadapannya.

 Pembatas yang berada dihadapan Sena mulai terbuka. Sena perlahan melangkah menyusuri jalur dihadapannya. Sena melihat sekeliling, lalu melihat ke kartu miliknya. “Jadi, semua peserta dipisah ke setiap sudut labirin, ya?”(Sena). Saat Sena memperhatikan kartunya dengan teliti, dia melihat sebuah simbol aneh. “Simbol apa ini?”(Sena). Sena pun menekan simbol itu, dan tiba-tiba muncul seperti sebuah proyeksi dari kartunya. Sena mengamati tulisan yang terproyeksi dari kartunya. “Saat bayangan bersembunyi, cahaya akan membutakan dengan kesedihannya. Apa maksudnya sebuah teka-teki, ya?”(Sena). Tak lama kemudian, proyeksi itu pun menghilang. “Mungkin maksudnya seperti yang terjadi di babak pertama. Setiap peserta harus mencapai tujuan sambil memecahkan teka-teki. Tapi, untuk kali ini teka-tekinya berupa kalimat, jadi mungkin tidak terlalu sulit.”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat lurus ke jalur di hadapannya. “Kalau begitu, aku hanya harus menyusuri jalur ini sebelum dindingnya bergerak sambil memecahkan teka-tekinya, boleh juga.”(Sena). Sena pun mulai berjalan meyusuri jalurnya. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Saat Sena berjalan cukup jauh, terdapat sebuah persimpangan di hadapannya. “Ini dia bagian yang paling menyusahkan...”(Sena). Terlihat seseorang berjalan dari jalur di sebelah Sena. “Ternyata kau di sini rupanya...”(Unknow). Sena pun menoleh ke arah orang itu. “Siapa di situ?”(Sena).

Ternyata orang yang datang adalah orang yang sekamar dengan Sena sewaktu di kapal. “Kau...”(Sena). “Lama tidak bertemu, ya?”(Unknow). “Rasanya agak juga aneh bisa bertemu lagi denganmu di sini...”(Sena). “Tidak juga, karena takdir memang selalu begitu.”(Unknow). “Maksudmu, ini karena takdir, begitu?”(Sena). “Singkatnya begitu.”(Unknow). “Ngomong-ngomong, kita sama sekali belum berkenalan, kan? Bahkan, saat di kapal kau tidak mengenalkan dirimu. Jadi, siapa namamu?”(Sena). “Benar juga. Namaku adalah Stevan Rogue...senang bisa berkenalan denganmu, Miyazaki Sena.”(Stevan). “Eh? Kau sudah mengenalku?”(Sena). “Tentu saja. Semua peserta di sini sudah mengenalmu, karena...”(Stevan). Dalam sekejap, Stevan sudah ada di belakang Sena. “Kau adalah incaran utama mereka...Sena...”(Stevan). “!!!”(Sena). Sena sontak langsung terkejut mendengarnya. “Kenapa bisa begitu?”(Sena). “Entahlah, tapi tenang saja, aku masih belum terlalu berminat untuk menyerangmu sekarang...”(Stevan). “Lalu, apa maksudnya?”(Sena). “Sama seperti yang dikatakan temanmu di kapal tadi...sampai saatnya tepat, sebaiknya kau jangan terlalu membuat masalah, itu saja.”(Stevan).

Sena mulai terlihat tegang. “Kau ini...sebenarnya siapa?”(Sena). “Aku hanyalah orang yang bergerak dibalik layar, tidak lebih.”(Stevan). Sena hanya bisa terdiam. “Baiklah kalau kau sudah paham. Aku akan mengambil jalur yang ini, jadi semoga beruntung, Sena.”(Stevan). Stevan pun pergi menyusuri salah satu jalur di persimpangan itu. “Apa itu artinya...yang diinginkan dari event ini...adalah aku?”(Sena:Dalam Hati). Sena pun menoleh ke arah jalur yang dipilih Stevan tadi. “Kalau begitu...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun melangkah ke jalur yang juga dipilih oleh Stevan tadi. “Semuanya sudah jelas...dan tinggal satu hal lagi...”(Sena:Dalam Hati). Sena terus melangkah ke dalam labirin tersebut. “Lucifer...sebenarnya siapa dia?”(Sena:Dalam Hati). Tak berselang lama, dinding di sekitar Sena mulai bergerak. “Dindingnya bergerak.”(Sena). Saat dinding-dinding tersebut berhenti bergerak, terlihat sebuah jalur di belakang Sena. “Jalurnya jadi berubah...”(Sena). Sena pun melihat sekeliling. “Akhirnya ketemu juga...”(Unknow 1). Sena pun menoleh ke arah jalur di belakangnya. “...”(Sena). Orang yang sebelumnya berada di belakangnya, tiba-tiba berusaha menyerang Sena. “Rasakan ini!!”(Unknow 1). Serangan mendadak. Dialah target utama di balik kebrutalan ini.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 28 Labyrinth and True Target"

Posting Komentar