Tiba-tiba
terdengar suara keributan dari arah dek kapal. “Sepertinya ada yang
ribut?”(Naria). “Kelihatannya begitu.”(Sena). Sena, Putri Alice serta
Naria pun bergegas menuju dek kapal. Sena berusaha bertanya pada salah
satu di sana. “Hei, apa yang terjadi?”(Sena). “Sena...coba lihat
itu...”(Putri Alice). “Ada ap...”(Sena). Saat Sena menoleh, terlihat
jelas mayat salah satu peserta tergantung di salah satu tiang kapal
dengan keadaan yang sangat mengenaskan dan tubuhnya masih mengalirkan
darah. “Apa-apaan ini?”(Sena). “Siapa yang kira-kira
melakukannya?”(Naria). Semua peserta terlihat terkejut melihat
pemandangan mengerikan itu. “Bukankah dia peserta yang curang
kemarin?”(Unknow 1). “Kelihatannya memang dia.”(Unknow 2). “Sebenarnya
apa yang terjadi di sini?”(Unknow 3). Tak lama berselang terlihat Ketua
Panitia dan panitia yang lainnya datang ke kerumunan peserta. “Semuanya
harap tenang! Dan jangan ada yang pergi dari dek kapal!”(Ketua Panitia).
Semua peserta terlihat tegang. “Kami akan memeriksa mayat korban, dan
sampai ada keputusan lebih lanjut, seluruh peserta dilarang meninggalkan
dek kapal.”(Ketua Panitia). Para panitia menurunkan dan membawa mayat
peserta itu ke dalam kabin kapal, sementara seluruh peserta terlihat
kebingungan. “Sepertinya ada peserta yang sengaja melakukannya.”(Unknow
4). “Tapi siapa?”(Unknow 5). “Jangan-jangan setelah ini akan ada korban
lainnya...”(Unknow 6).Sena terlihat memperhatikan seluruh peserta. “Ini mulai memburuk, semua peserta mulai curiga satu sama lain.”(Naria). “Kalau seperti ini terus, situasinya bisa kacau.”(Putri Alice). Sena terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa rasanya sangat aneh...ini bukan lagi main-main, pasti ada maksud dibalik semua ini...”(Sena:Dalam Hati). “Hei, Sena! Kau dengar tidak?”(Putri Alice). “Eh! Maaf, aku tadi tidak dengar.”(Sena). “Kau ini...sebenarnya apa yang kau pikirkan?”(Putri Alice). “Tidak ada...hanya saja aku sedang terpikirkan sesuatu.”(Sena). “Sesuatu?”(Naria). Tak lama berselang, Ketua Panitia keluar dari kabin dan menghampiri para peserta. “Kami sudah menyelidikinya, dan kami menemukan sebuah barang bukti yang ada di mayat korban...”(Ketua Panitia). Seluruh peserta menjadi semakin tegang. Ketua Panitia menunjukkan sebuah sobekkan baju yang berada di tangannya. “Siapa pun yang memakai baju seperti ini, dia lah pelakunya...”(Ketua Panitia). Sena yang melihat itu langsung terkejut. “Tidak mungkin...kenapa bisa...”(Sena:Dalam Hati). Sedikit demi sedikit, mereka mulai mengincar target mereka.
Semua orang terlihat terkejut dengan apa yang ditunjukkan oleh Ketua Panitia. Putri Alice terlihat gemetar. “Hei...bukankah itu...”(Naria). Ternyata sobekkan baju itu adalah milik Putri Alice. “Itukan...”(Unknow 1). “Tidak salah lagi...”(Unknow 2). Seluruh peserta langsung memandang ke arah Putri Alice. “Mustahil...”(Putri Alice). Putri Alice semakin gemetar hingga jatuh tersipu. Naria menatap Alice yang berada disampingnya dengan tatapan seolah-olah tidak percaya. “Alice...”(Naria:Dalam Hati). “Itu tidak benar! Semua itu sama sekali salah!”(Sena). Sena langsung berdiri di depan Putri Alice. “Hei, bocah! Sudah jelas-jelas ada buktinya, bagaimana kau masih bisa percaya dengannya?”(Unknow 3). “Karena aku tau dia itu manusia seperti apa!”(Sena). Putri Alice yang mendengar Sena, sontak tercengang. “Hoi...jangan bilang kalian ini bekerjasama untuk melakukannya, ya?”(Unknow 4). “Itu benar, dalam keadaan kacau seperti semalam, mungkin saja mereka sudah memanfaatkannya sehingga tidak ada orang yang curiga.”(Unknow 2). Sena mulai terlihat marah. “Dia ini putri dari kerajaan yang dulu pernah menaungi kalian semua...bisa-bisanya kalian berkata begitu padanya!”(Sena). “Lalu, kami harus percaya pada siapa? Sudah jelas bukti itu ada ditangan Ketua Panitia yang jelas-jelas berada pada korban, jadi bagaimana mungkin kami bisa percaya pada pembelaan yang sama sekali tidak ada buktinya?”(Unknow 4). Sena benar-benar tidak bisa menahan emosinya dan perlahan mulai melangkah.
“Tidak secepat itu...”(Reo). Tiba-tiba, Reo sudah ada di samping Sena dan menepuk bahu Sena. “Apa kau juga sama, Reo?”(Sena). “Tidak juga, aku hanya tidak ingin kau dan Putri Alice dapat masalah yang lebih serius, jadi biarkan Panitia yang menyelesaikannya.”(Reo). Sena terlihat menggeritkan giginya sambil menahan emosi. “Sebaiknya tenangkan emosimu. Saat ini Putri Alice butuh seseorang yang bisa menyemangatinya, jadi lebih baik kau temani saja dia.”(Reo). Ketua Panitia terlihat mendekati Sena dan yang lainnya. “Sebaiknya kalian ikut denganku, ada hal yang ingin kami pastikan dari kalian.”(Ketua Panitia). Naria perlahan menepuk bahu Putri Alice. “Tenang saja, aku juga percaya denganmu, jadi sebaiknya kita sekarang menjelaskan apa yang kita ketahui.”(Naria). Putri Alice perlahan meneteskan air mata dan mulai berdiri. “Tak kan kubiarkan ini berlanjut. Aku pasti akan membongkar keanehan ini.”(Sena). Sena, Naria, dan Putri Alice perlahan berjalan mengikuti Ketua Panitia menuju kabin kapal. Semua peserta terlihat memandang Putri Alice dengan tatapan penuh curiga. “Sial! Aku pasti akan membongkarnya! Pasti!”(Sena:Dalam Hati). Setelah memakan waktu yang cukup lama, terlihat Ketua Panitia serta Sena dan yang lainnya berada di dek kapal di mana seluruh peserta telah menunggu. “Setelah kami selidiki...tidak ada keterangan lain jika dia bersalah, jadi kami putuskan dia masih bisa ikut dalam event ini.”(Ketua Panitia). Semua peserta yang mendengar itu sontak terkejut dan melayangkan berbagai macam protes. “Apa-apaan ini?!”(Unknow 1). “Yang benar saja! Kami harus bermain dengan pembunuh keji seperti dia?!”(Unknow 3). “Keputusan macam apa itu?!”(Unknow 4). “Semuanya tenang! Ini adalah keputusan panitia, jadi tidak bisa diganggu gugat!”(Ketua Panitia).
Semua peserta terlihat kesal. “Cih! Tidak disangka masih ada rasa pilih kasih di antara peserta.”(Unknow 1). Sena yang mendengarnya terlihat benar-benar menahan emosinya. “Sekarang semua peserta diharap bersiap, karena kita sudah dekat dengan tujuan kita!”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat menjauh. “Kalian juga sebaiknya juga bersiap.”(Ketua Panitia). Sena, Naria, dan Putri Alice terlihat sedang bersiap-siap. “Kau yakin sudah baikkan?”(Naria). “Iya, aku sudah tidak apa-apa.”(Putri Alice). “Impianmu adalah jalan hidupmu, bukan mereka...”(Sena). Putri Alice terlihat memperhatikan Sena. “Kalau kau jatuh hanya karena hal ini, kau sama saja menyia-nyiakan satu bulan penuh perjuangan itu dengan air mata...”(Sena). Naria terlihat tersenyum. “Karena itu jangan pernah jatuh! Karena kami akan menuntunmu menuju impianmu itu!”(Sena). Putri Alice teringat dengan perjuangan Sena saat berusaha menembus hutan pulau dulu, hingga Putri Alice mulai meneteskan air mata. “Terima kasih, Sena...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice perlahan terlihat mengusap air matanya yang sekarang berganti dengan wajah semangat. “Iya!”(Putri Alice). Semangat dibalik hinaan dan cacian telah membuat mahkotanya semakin bercahaya. Sang Putri akan terus berjalan, tanpa takut terjatuh lagi.
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 27 Incident and The Wake Up!"
Posting Komentar