Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 26 Let’s Sailing and The Executor

Sena hanya terdiam setelah mengetaui yang Reo rasakan selama ini. “Tegakkan kepalamu, Sena. Kau tidak perlu merasa bersalah atas apapun, karena ini adalah kemauanku.”(Reo). “Terima kasih...karena kau sudah percaya padaku, Reo. Aku sudah lega sekarang.”(Sena). Sena terlihat menghela nafas dalam-dalam, lalu menatap Reo dengan penuh semangat. “Sekarang, aku semakin bersemangat untuk menepati janjiku, Reo.”(Sena). Reo terlihat tersenyum. “Baiklah...kalau kau juga berpikir begitu. Aku juga tidak akan setengah-setengah kali ini.”(Reo). “Aku terima itu.”(Sena). Reo terlihat beranjak meninggalkan Sena dan Putri Alice. “Kalau begitu...sampai bertemu lagi di final...Sena.”(Reo). Putri Alice terlihat memperhatikan Reo. “Hei, sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?”(Putri Alice). Sena hanya tersenyum. “Tidak ada...”(Sena). Di kabin, terlihat Ketua Panitia sedang memperhatikan seluruh peserta dari sebuah layar monitor. “Di antara semua peserta yang ada, hanya mereka berdua yang telah menarik perhatianku...”(Ketua Panitia). Terlihat seseorang mendekati Ketua Panitia. “Ternyata kau punya ketertarikkan yang sama denganku...”(Unknow). “Ternyata anda sudah datang...”(Ketua Panitia). Orang yang menghampiri Ketua Panitia ternyata adalah Raja Lucifer. “Tapi, bukankah masalah terbesar anda ada pada Putri Alice?”(Ketua Panitia). “Dia memang akan jadi pengganggu jika terus dibiarkan, tapi prioritas kita tetaplah pada anak itu.”(Lucifer). “Tenang saja, semuanya pasti berjalan sesuai rencana, kami jamin itu.”(Ketua Panitia).

Malam pun mulai menjelang. Seluruh peserta terlihat masih berada di dek kapal. Sena dan Putri Alice terlihat sedang duduk di salah satu sudut dek. “Mulai sekarang, kau harus lebih waspada...”(Sena). “Kenapa?”(Putri Alice). “Identitasmu sabagai seorang Putri sudah terbongkar. Tidak menutup kemungkinan kalau kau akan menjadi incaran utama para peserta.”(Sena). “Benar juga...tapi ini jelas-jelas salah orang itu! Kenapa dia berbicara sekeras itu?”(Putri Alice). “Kau tentu tau kalau aku tidak berasal dari dunia ini, kan?”(Sena). “Kalau itu aku sudah tau, tapi apa hubungannya?”(Putri Alice). Sena terdiam sejenak. “Dia adalah orang pertama yang aku temui di dunia ini.”(Sena). Putri Alice tampak terkejut. “Maksudmu...”(Putri Alice). “Dia adalah orang yang sudah menolongku dan menampungku sejak aku tersesat di dunia ini, tapi...”(Sena). “Tapi kenapa?”(Putri Alice). Sena kembali teringat dengan cerita Azrea dulu. “Kedua orang tuanya...dulu dibantai tepat di depan kedua matanya sendiri oleh orang itu ketika dia masih kecil.”(Sena). Putri Alice terlihat terkejut. “Dia juga merasakan apa yang kau rasakan dariku waktu itu, dan itulah yang membuat kami sempat berselisih hingga sekarang...”(Sena). Sena perlahan tersenyum. “Tapi, melihat ekspresinya tadi, jujur itu sudah membuatku lega...”(Sena). “Sena...”(Putri Alice:Dalam Hati).

Tiba-tiba, Ketua Panitia datang menghampiri seluruh peserta. “Berhubung tujuan masih jauh, semuanya bisa beristirahat di kamar masing-masing sesuai dengan nomor undian yang akan diambil nanti...”(Ketua Panitia). Terlihat ada salah satu peserta mengangkat tangannya. “Ada masalah apa?”(Ketua Panitia). “Soal kartu yang kami dapat ini, sebenarnya apa fungsinya?”(Unknow 1). “Soal kartu itu, nanti kami akan berikan kejelasannya begitu kita sampai. Jadi, usahakan kalian menjaga kartu itu baik-baik.”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat memperhatikan kartu yang dipegang mereka. “Kalau tidak ada pertanyaan lagi, Seluruh peserta bisa maju satu per satu untuk mengambil nomor undian masing-masing.”(Ketua Panitia). Satu per satu peserta terlihat maju untuk mengambil nomor undian mereka masing-masing. “Ternyata aku dapat nomor dua puluh empat, kalau kau berapa, Sena?(Putri Alice). “Aku dapat nomor tiga puluh enam.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Baiklah, sekarang seluruh peserta bisa menempati kamar sesuai dengan nomor undian masing-masing, dan selamat beristirahat.”(Ketua Panitia). Ketua Panitia pun pergi, lalu seluruh peserta mulai menuju kamar masing-masing. Putri Alice terlihat sedang mencari-cari nomor kamarnya. “Yang mana, ya?”(Putri Alice). Tak lama kemudian Putri Alice berhasil menemukan kamarnya. “Ini dia...tapi...”(Putri Alice). Terlihat seseorang mendekati Putri Alice. “Jadi, kau di kamar ini juga, ya?”(Unknow 2). Ternyata orang tersebut seorang perempuan yang seumuran Putri Alice. Pelayaran menuju negeri antah berantah. Demi janji itu, mereka akan melakukan segalanya.

Putri Alice dan perempuan itu pun masuk ke kamar mereka. “Kamarnya cukup besar juga, ya?”(Unknow). “Benar juga...”(Putri Alice). “Oh ya, namaku Naria Chanari, salam kenal.”(Naria). “Namaku Alice Charllona, senang bisa berkenalan denganmu.”(Putri Alice). Naria terlihat mengamati kamar itu. “Untuk ukuran seorang putri, kau ternyata jauh dari perkiraanku, ya.”(Naria). “Jadi, kau juga mendengarnya, ya?”(Putri Alice). “Semua peserta sudah tau kok, tapi bagiku tidak masalah, kan? Lagipula, kau pasti punya alasan tersendiri sampai-sampai ikut dalam event ini, benar kan?”(Naria). “Ya, bisa dibilang begitu.”(Putri Alice). Di tempat lain, Sena terlihat sedang berada di depan kamarnya. “Jadi, satu kamar untuk dua orang, ya?”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan membuka pintu kamarnya. “Kau kan...”(Sena). Terlihat orang yang tadi pagi berpapasan dengan Sena sedang duduk di kursi kamar itu. “Senang bisa bertemu denganmu lagi...”(Unknow 2). Di kamar lain. Terlihat Reo sedang bersantai di atas kasurnya. “Aku benar-benar terkejut, saat aku tau kalau yang jadi teman sekamarku adalah kau.”(Reo). “Lalu kenapa? Kita kan sudah lama tidak bertemu...”(Unknow 3). Ternyata Reo satu kamar dengan seorang perempuan yang ternyata teman masa kecilnya, yaitu Fiona Benevia. “Aku tau...tapi kenapa kau juga ikut dalam event ini?”(Reo). “Soalnya aku bosan, jadi lebih baik aku ikut saja.”(Fiona). Reo terlihat memperhatikan Fiona. “Jadi, kau masih melakukan hal itu, ya?”(Reo). “Ya begitulah...sekali-kali mencari selingan juga tidak ada buruknya.”(Fiona). “Mmmmm...”(Reo). “Ngomong-ngomong, temanmu tadi menarik juga, siapa namanya?”(Fiona). “Kau juga tertarik dengannya, ya?”(Reo). “Mungkin begitu...”(Fiona).

Kembali ke kamar Putri Alice. Putri Alice terlihat sedang berbincang-bincang dengan Naria. “Jadi begitu ya...aku tidak pernah tau kalau kerajaan jadi seperti itu.”(Naria). “Aku minta maaf karena sudah melibatkan kalian semua dalam masalah ini.”(Putri Alice). “Kau tidak salah kok...lagipula kita semua kan punya tujuan yang sama.”(Naria). Putri Alice terdiam sejenak. “Aku sudah bertekad untuk mengembalikan dunia ini seperti yang seharusnya, karena itu akan kulakukan apa pun untuk mencapainya.”(Putri Alice). “Kalau begitu, izinkan aku membantumu. Aku juga ingin mengubah dunia ini menjadi lebih baik.”(Naria). “Kau...”(Putri Alice). Tiba-tiba, terjadi guncangan keras yang membuat seluruh peserta panik. “Ada apa ini?”(Putri Alice). “Sepertinya ada yang menyerang kapal.”(Naria). “Ayo kita lihat!”(Putri Alice). Putri Alice dan Naria pun berlari menuju dek kapal. “Apa yang terjadi?!”(Putri Alice). Terlihat sebagian besar peserta sudah berada di dek kapal. “Itu kan...”(Unknow 4). Terlihat sesosok monster naga raksasa berada di sisi kapal. “Apa ini juga salah satu ujian?”(Unknow 5). “Entahlah...”(Unknow 6). “Mau ujian atau bukan...”(Sena). Seluruh peserta terlihat tegang. “Semua peserta diharap tenang.”(Ketua Panitia). Terlihat Ketua Panitia mendekati kerumunan peserta. “Soal ini biar kami yang urus...”(Ketua Panitia).

Monster naga itu tiba-tiba berusaha menyerang kapal lagi. “Tempatmu bukanlah di sini...”(Ketua Panitia). Saat monster itu hampir menyerang Ketua Panitia, tiba-tiba monster itu berhenti. Seluruh peserta tampak terkejut. “Apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Kekuatan ini...”(Sena:Dalam Hati). Ketua Panitia menatap monster itu dengan tatapan tajam. Monster itu pun mundur dan perlahan pergi meninggalkan kapal. “Baiklah...semua peserta bisa kembali sekarang.”(Ketua Panitia). Semua peserta hanya bisa terpaku saat Ketua Panitia melangkah pergi meninggalkan dek kapal. “Tidak heran, jika dia bisa jadi ketua panitia. Kekuatannya memang mengerikan.”(Unknow 4). “Baru kali ini aku merasakan kekuatan seperti itu...”(Unknow 6). “Yang tadi itu kan...”(Reo). “Tidak disangka masih ada orang seperti dia...”(Fiona). Putri Alice dan Naria terlihat mendekati Sena. “Sena...”(Putri Alice). “Kelihatannya ada yang aneh dalam event ini.”(Sena). Sang Pengatur yang sekaligus Eksekutor. Keanehan-keanehan mulai terasa dibenak mereka.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 26 Let’s Sailing and The Executor"

Posting Komentar