Tiba-tiba dari arah belakang Putri Alice muncul makhluk besar berjubah dengan membawa sabit besar berusaha menyerang Putri Alice. “Awas!!”(Sena). Dengan cepat, Putri Alice berhasil menghindar. “A...apa itu?”(Putri Alice). “Ternyata firasatku memang benar...”(Sena). Makhluk itu kembali berusaha menyerang Sena dan Putri Alice. “Sial! Dia cepat juga!”(Sena:Dalam Hati). Makhluk itu terus-menerus menyerang, namun Sena dan Putri Alice berhasil menghindarinya. “Kita berpencar! Dengan itu akan menyulitkan dia untuk menyerang kita sekaligus!”(Sena). “Baik!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice pun berpencar dan bersembunyi di balik puing-puing. “Dengan begini, setidaknya bisa memberi waktu untuk memikirkan cara mengalahkannya...”(Sena:Dalam Hati). Makhluk itu terlihat terdiam, namun tiba-tiba dia mengayunkan sabitnya hingga menciptakan tiupan angin yang sangat kuat untuk menerbangkan puing-puing yang ada. “Apa-apaan ini!”(Sena). Saat tiupan angin berhenti, jubah milik makhluk itu pun terbuka dan ternyata makhluk itu berwujud seperti tengkorak dewa kematian. “Dewa...kematian?”(Sena:Dalam Hati). Dengan cepat, makhluk itu langsung menuju ke arah Putri Alice. “Tidak akan...”(Putri Alice). Saat Putri Alice berusaha akan menghindar, tiba-tiba dia merasa tubuhnya tidak bisa bergerak. “Ke...kenapa ini...(Putri Alice). “Hei! Jangan hanya diam! Cepat lari!”(Sena). Makhluk itu pun kembali berusaha menebas Putri Alice. “Sial!!”(Sena:Dalam Hati).
Dengan
cepat Sena menebas makhluk itu dengan pedangnya. Makhluk itu pun
tersungkur dan Sena langsung mendekati Putri Alice. “Kau
kenapa?!”(Sena). “Tu...tubuhku...tidak bisa...bergerak...”(Putri Alice).
“Apa?”(Sena). Sena pun melihat ke arah kucing yang didekap oleh Putri
Alice. “Jangan-jangan...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba makhluk itu
kembali utuh dan bangkit kembali. “Ini buruk...”(Sena:Dalam Hati).
Makhluk itu kembali berusah menyerang Sena dan Putri Alice, namun Sena
berhasil menarik Putri Alice menjauh. “Berikan kucingnya padaku!”(Sena).
“Apa...maksudmu?”(Putri Alice) . “Cepat berikan saja!”(Sena). Sena pun
mengambil kucing itu dari dekapan Putri Alice. “Apa...yang akan...kau
lakukan...”(Putri Alice). Makhluk itu kembali mengejar Sena dan Putri
Alice. “Aku sudah tau trikmu!”(Sena). Sena lalu menusuk kucing itu
dengan pedangnya. “!!!”(Putri Alice). Putri Alice terlihat terkejut.
“Kenapa...kau...”(Putri Alice). Makhluk itu tiba-tiba berhenti dan
meronta-ronta seakan kesakitan. “Sudah kuduga...”(Sena). Tiba-tiba,
tubuh Putri Alice kembali bisa bergerak. “Tubuhku...tapi kenapa
bisa?”(Putri Alice). “Karena kucing yang kau dekap ini adalah jantung
dari makhluk itu.”(Sena). “Jantung?”(Putri Alice). “Benar, itulah
alasannya kenapa kau yang dikejarnya dan kenapa tubuhmu tidak bisa
bergerak.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Dan...”(Sena). Sena
kembali menarik pedangnya dan menebas makhluk itu, lalu makhluk itu
berubah menjadi debu. “Dengan ini...kita berhasil...”(Sena). Dewa
kematian telah dijatuhkan. Kemenangan pertama dalam event ini.Sena berhasil menaklukkan dewa kematian itu. “Tidak disangka kita akan berhadapan dengan makhluk seperti ini.”(Sena). Secara perlahan, tubuh kucing sebelumnya mulai bercahaya. “Sena! Kucingnya...”(Putri Alice). “...”(Sena). Cahaya itu pun semakin terang hingga menyilaukan Sena dan Putri Alice. Saat Sena dan Putri Alice membuka mata mereka, mereka sudah berada di depan sebuah gerbang besar. “Apa yang terjadi?”(Putri Alice). Terlihat seseorang sudah berdiri di depan gerbang itu yang ternyata adalah Ketua Panitia. “Selamat! Kalian telah berhasil lolos dari babak eliminasi awal.”(Ketua Panitia). Sena dan Putri Alice tampak bingung. “Apa?”(Putri Alice). “Jadi, kami lolos?”(Sena). “Tepat sekali!”(Ketua Panitia). “Tapi, yang tadi itu...”(Putri Alice). “Ilusi, benarkan?”(Sena). “Kalian bisa menganggapya begitu, tapi sebenarnya kartu kalianlah yang telah membawa kalian...”(Ketua Panitia). “Membawa kami?”(Putri Alice). “Benar, kalian tadi dikirim oleh kartu itu ke dimensi lain yang sudah kami buat menyerupai aslinya, dan kalian telah lolos dengan mengalahkan monster itu.”(Ketua Panitia). “Begitu rupanya...”(Putri Alice). Sena terlihat teringat dengan sesuatu. “Sudah kuduga itu bukan ilusi, tapi tempat tadi jelas-jelas bukan sekedar tempat biasa...”(Sena:Dalam Hati). “Ngomong-ngomong, kalian adalah dua orang terakhir yang lolos.”(Ketua Panitia). “Maksudnya, kami berdua yang lolos paling akhir?”(Putri Alice). “Sayangnya begitu, tapi untung saja kalian segera menyelesaikan misi itu, jika tidak kalian pasti sudah keduluan dan gugur.”(Ketua Panitia). “Lalu, di mana peserta lainnya yang lolos?”(Sena). “Mereka berada di dalam, sedangkan peserta yang gugur kami kembalikan.”(Ketua Panitia). Putri Alice terlihat lega. “Hampir saja...untung masih sempat...”(Putri Alice). “Nah, kalian berdua segeralah bergabung dengan peserta lainnya...”(Ketua Panitia).
Gerbang itu pun terbuka. Sena dan Putri Alice pun melangkah masuk. “Inilah...pelabuhan yang sebenarnya...”(Ketua Panitia). Terlihat sebuah kapal besar sudah berada di hadapan Sena dan Putri Alice. Sena dan Putri Alice tampak kagum melihat kapal besar itu. “Besar sekali!’(Putri Alice). “Jadi...kapal ini...”(Sena). “Benar, kapal inilah yang akan membawa kalian semua ke tempat selanjutnya.”(Ketua Panitia). Sena terlihat memperhatikan kapal itu. “Kalau begitu, kalian harus cepat naik, karena perjalanan akan segera dimulai.”(Ketua Panitia). “Baiklah...”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice perlahan naik ke kapal itu. “Kira-kira seperti apa ya peserta yang lolos?”(Putri Alice). “Entahlah, tapi mereka pasti orang-orang yang hebat.”(Sena). Putri Alice teringat dengan seseorang. “Apa mungkin Si Reo tadi juga lolos ya?”(Putri Alice). “Dia pasti lolos, aku yakin itu.”(Sena). “Begitu ya...kau pasti sangat yakin sekali.”(Putri Alice). “Karena aku tau dia bukan orang yang selemah itu, jadi dia pasti lolos.”(Sena). Sena dan Putri Alice akhirnya sampai di dek kapal. “Banyak sekali!”(Putri Alice). Terlihat banyak peserta berkumpul di dek kapal itu. “Jadi, kalian berdua yang terakhir?”(Unknow 1). “Kelihatannya dua lagi orang lemah sudah datang.”(Unknow 2). Terlihat seseorang datang menghampiri Sena dan Putri Alice yang tak lain adalah Reo. “Selamat, karena sudah lolos dari babak eliminasi, Sena...dan, Putri Alice.”(Reo). Seketika semua peserta lain terkejut mendengar kata putri tersebut. “Putri?”(Unknow 3). “Yang benar saja?”(Unknow 4).
Putri Alice terlihat tegang. “Kenapa kau bicara sekeras itu?”(Putri Alice). “Tapi, anda memang benar seorang putri, kan? Jadi apa salahnya? Toh, cepat atau lambat mereka juga akan tau.”(Reo). Putri Alice mulai terlihat kesal dengan sikap Reo. “Kau...”(Putri Alice). Sena pun menepuk pundak Putri Alice. “Reo, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.”(Sena). “Apa itu?”(Reo). “Apa kau masih memikirkan kejadian itu?”(Sena). Reo hanya tersenyum. “Tidak juga, aku tau kau sudah mendengar semuanya dari Azrea, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mempermasalahkan hal itu.”(Reo). “Jadi begitu...”(Sena). Reo terlihat menatap langit di atasnya. “Memang sangat menyebalkan rasanya, tapi aku sudah tau ini akan terjadi...”(Reo). “Reo...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan cerita Azrea dulu. “Aku tau kau memikirkan hal yang sama, tapi jangan salah sangka. Ini adalah kompetisi, jadi walaupun kita punya tujuan yang sama, tapi kita tetap bermain dengan cara masing-masing, jadi jangan buat hal itu sebagai alasan untuk mengalah dariku, Sena.”(Reo). “Ya...aku tau itu...”(Sena). Tujuan yang sama dengan jalan yang berbeda. Perlahan berlayar menuju ambisi masing-masing.
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 25 Death Angel and Same Will"
Posting Komentar