Azrea terkejut dengan yang dilakukan Krozen kepada Sena. “Tenang
saja, dia itu mahir berenang.”(Krozen). Sena pun muncul ke permukaan.
“Hei! Apa-apaan itu tadi? Aku belum siap tau!”(Sena). “Belum, ya? Tapi,
aku rasa kau harus siap sekarang...”(Krozen). Krozen menunjuk ke arah
belakang Sena. Sena berbalik dan melihat ke belakang. Terlihat ada
sesuatu yang bergerak menuju ke arah Sena. “Apa itu?”(Sena). “Itu ujian
pertamamu, berusahalah ya!”(Krozen). Sena terlihat panik. “Hei! Tunggu
dulu!”(Sena). Krozen membawa Azrea menaiki sebuah perahu. “Sayangnya ini
perahu terakhir dan hanya cukup untuk berdua, jadi kami putuskan untuk
menunggumu di pulau, ya?”(Krozen). “Apa-apaan itu! Jangan
seenak...”(Sena). Tiba-tiba seekor ikan monster muncul dari belakang
Sena dengan mulut terbuka lebar. Sena hanya bisa terpaku. “Sudah
kuduga...”(Sena). Monster itu pun melahap Sena dengan cepat, sedangkan
Azrea yang melihat Sena dari kejauhan langsung terkejut. “!!!”(Azrea).
“Tidak...dia masih hidup, tenang saja.”(Krozen). Dengan cepat, Sena
membuka dan menahan rahang monster itu. “Sial! Aku belum siap
tau!”(Sena). “Eh?”(Azrea). “Tuh kan...”(Krozen). Sena dengan keras
berusaha lepas dari monster itu. “Bagaimana ini? Mana mungkin aku bisa
menahan rahangnya seperti ini?”(Sena:Dalam Hati).

Sena
sontak teringat dengan kata-kata Reo saat berburu monster dulu. “Oh
iya!”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat memperhatikan mulut monster itu.
“Ketemu!”(Sena). Sena langsung menendang salah satu taring monster itu.
“Makan ini!”(Sena). Seketika monster itu merasa kesakitan dan membuka
mulutnya lebar-lebar hingga akhirnya Sena bisa keluar.
“Hehehe...bagaimana rasanya? Makanya kau harus rajin sikat gigi
tau!”(Sena). Dengan cepat monster itu kembali berusaha menyerang Sena.
“Cara yang sama tidak akan mempan.”(Sena). Sena berhasil menghindarinya.
“Tapi, aku tidak mungkin bisa bertahan lama di air, apa lagi aku juga
harus segera ke pulau.”(Sena:Dalam Hati). Monster itu kembali menyerang,
dan Sena terlihat memejamkan mata. Saat monster itu akan melahap Sena
untuk kedua kalinya, Sena langsung membuka matanya dan terlihat air
bergejolak dahsyat. Di pulau, setelah cukup lama, Krozen dan Azrea
akhirnya sampai. Azrea yang tadi melihat gelombang ledakan air itu sudah
menghilang hanya bisa terdiam. “Dari setiap orang yang aku temui, dia
adalah orang yang paling unik.”(Krozen). “Apa maksudnya?”(Azrea). “Dia
itu, punya sesuatu...walau belum terlihat jelas, tapi dia punya potensi
yang besar.”(Krozen). “Potensi?”(Azrea). “Iya...memang aku melihat ada
dua hal yang berlawanan ada dalam dirinya, tapi jika kedua hal itu bisa
bersatu, dia tidak akan terkalahkan.”(Krozen). “...”(Azrea).
Kembali
ke danau, gelombang besar sebelumnya sudah lama menghilang, namun tidak
ada tanda-tanda dari Sena mau pun monster itu. Tiba-tiba terlihat ada
gelembung-gelembung air yang bergerak mendekati pulau dan Azrea
menyadarinya. “Apa itu?”(Azrea). “Mungkin dia sedikit diluar
perkiraanku...”(Krozen:Dalam Hati). Gelembung-gelembung air itu terus
mendekat dan tiba-tiba Sena muncul dengan menaiki monster yang
sebelumnya berusaha menyerangnya. “Hei! Jangan seenaknya meninggalkan
orang begitu dong! Itu tidak adil tau!”(Sena). “Sena!”(Azrea). Krozen
terlihat tersenyum melihat Sena. “Wah...boleh juga ternyata, kau
ternyata bisa menaklukkan monster danau dengan mudah, ya?”(Krozen). Sena
pun sampai di pinggir pulau dan turun dari monster itu.
“Mudah
bagaimana? Aku hampir mati tau.”(Sena). “Kan baru hampir...”(Krozen).
Sena mendekati monster itu. “Terima kasih ya, sekarang kau bisa
pulang.”(Sena). Monster itu pun perlahan berenang menjauh dan
menghilang. “Enak sekali bicaramu, kalau aku tidak bisa menaklukkannya
bagaimana?”(Sena). “Ya kau mati.”(Krozen). Sena terlihat agak kesal.
“Ringannya dia bicara begitu...”(Sena:Dalam Hati). “Kau tidak apa-apa,
kan?”(Azrea). “Tidak apa-apa, monster itu sebenarnya baik kok, aku
bahkan mau diajak ke rumahnya. Ya...tapi, mana mungkin aku bisa ke sana,
benar kan?”(Sena). Azrea teringat dengan Reo dulu. “Begitu ya...mungkin
sekarang...aku mulai mengerti, apa yang dikatakan kakak.”(Azrea:Dalam
Hati). Sena akhirnya mampu melewati ujian pertama, namun pulau misterius
itu telah menantinya.
Sena kembali melanjutkan ujian yang diberikan Krozen. Kali ini Krozen
mengajak Sena dan juga Azrea menuju ke hutan. Saat mereka baru sampai
di tepi hutan, Krozen tiba-tiba berhenti. “Aku hampir lupa, tapi mulai
dari sini akan lebih berbahaya, jadi aku rasa aku harus mengantarmu
pulang.”(Krozen). “Tapi...”(Azrea). “Krozen benar, aku juga merasakan
kalau ada banyak hal yang akan terjadi, lagipula Reo pasti akan khawatir
jika kau tidak segera pulang.”(Sena). Azrea terlihat agak kecewa.
“Benar juga...”(Azrea). “Tidak perlu cemas. Aku pasti akan kembali, jadi
kau tunggulah bersama Reo, ya.”(Sena). “Baiklah...kalau begitu, semoga
berhasil.”(Azrea). “Iya, terima kasih.”(Sena). “Kalau begitu, biarku
antar.”(Krozen). “Lalu, apa yang akan aku lakukan?”(Sena). “Ada sebuah
menara tepat di tengah pulau. Pergilah, dan akan kutunggu kau di
sana.”(Krozen). “Menunggu...bukannya kau akan ke sini lagi? Lagipula,
kalau aku duluan sementara kau pergi, itu artinya yang sampai duluan kan
aku.”(Sena). “Jangan besar kepala dulu, hutan ini jauh lebih ekstrim
dari yang kau kira. Selain itu...”(Krozen).
Dari
kejauhan, terlihat ada sesuatu yang mendekat dari langit. “Apa
itu?”(Sena). “Sepertinya burung.”(Azrea). “Itu adalah patnerku
sekaliguskendaraanku.”(Krozen). “Kendaraan?”(Sena). Burung itu mendarat,
yang ternyata seekor burung garuda raksasa berwarna emas dengan pita
dikedua kakinya. Sena dan Azrea terlihat terkejut. “Besar
sekali!”(Sena). “Ya tentu saja, dia adalah penghuni asli hutan ini,
namanya Sila. Aku sudah lama bersamanya, jadi aku sudah menganggapnya
bagian dari diriku”(Krozen). “Hebat...”(Azrea). Tiba-tiba burung itu
berbicara. “Jadi...siapa mereka?”(Sila). Sena dan Azrea jadi tambah
terkejut. “Dia bisa bicara!!”(Sena dan Azrea). “Mereka adalah
teman-temanku, aku bermaksud untuk mengenalkan mereka pada hutan ini,
tapi anak perempuan ini harus segera pulang. Jadi, tolong ya.”(Krozen).
Garuda itu memandangi wajah Sena dengan dekat. “Kau...sepertinya cukup
menarik.”(Sila). “A...aku?”(Sena). “Di mana kau temukan anak
ini?”(Sila). “Kebetulan saja, jadi kau sudah tau alasannya,
kan?”(Krozen). Sila terdiam sejenak. “Ya...aku tau, tapi sebelum itu
akan kuberi tau dia sesuatu.”(Sila). “Sesuatu? Apa itu?”(Sena). “Kalau
kau berada dalam kabut, tutuplah matamu, jika kau melihat sungai,
tutuplah mulutmu, jika kau merasakan angin, tutuplah hidungmu, dan jika
kau melewati gua, tutuplah telingamu.”(Sila). Sena terlihat bingung.
“Apa maksudnya?”(Sena). “Kau akan tau saat kau masuk lebih dalam ke
hutan itu.”(Krozen).
“Mungkin juga...”(Sila). Krozen pun menaiki
punggung Sila. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”(Krozen). “Tidak
apa-apa, kan?”(Azrea). “Tenang saja...ayo naik.”(Krozen). Azrea pun ikut
naik ke punggung Sila. “Ingatlah apa yang dikatakan Sila. Setelah
mengantar Azrea, aku dan Sila akan menunggumu di menara pulau.”(Krozen).
“Ya!”(Sena).
Sila pun terbang
membawa Krozen dan Azrea. Sementara itu, Sena sendirian di dalam hutan.
“Baiklah, pertama-tama, tentukan lokasi menara itu.”(Sena). Sena pun
naik ke atas pohon. “Nah, dari sini pasti terlihat.”(Sena). Sena
memperhatikan ke semua penjuru. “Mana ya...kok tidak
kelihatan...”(Sena). Sementara itu, Azrea sedang bertanya pada Krozen.
“Sebelumnya maaf, tapi kalau tidak salah...hutan itu kan...”(Azrea).
“Kau sudah tau, ya?”(Krozen). “Sebenarnya hanya sebatas rumor.”(Azrea).
Krozen terlihat tersenyum. “Ya...kurang lebih seperti itu
kejadiannya.”(Krozen). “Jadi, kabar angin itu benar?”(Azrea). “Bisa
dibilang begitu, dan sampai saat ini, belum ada yang tau tentang
kebenarannya...”(Krozen). Kembali ke hutan, Sena benar-benar kebingungan
mencari menara itu. “Sebenarnya menaranya setinggi apa sih? Dari pohon
setinggi ini saja masa tidak kelihatan? Padahal dari sini, hampir
keseluruhan pulau kelihatan, tapi yang ada hanya pepohonan saja.”(Sena).
Sena pun turun dari pohon. “Kalau begitu, memang benar-benar harus
dicari dengan berjalan.”(Sena). Sena pun mulai berjalan menembus
lebatnya pepohonan hutan. Dari kejauhan, terlihat ada sesuatu yang
memperhatikan Sena dari balik pepohonan. Pohon-pohon ini telah
menyembunyikan rahasianya. Hutan lebat yang penuh tantangan telah
menanti di depan mata.
Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 10 : Not Fair"
Posting Komentar