Ketua Panitia terlihat mengumumkan empat nama yang akan melaju ke
babak terakhir. Semua peserta terlihat tegang penuh harap. “Dari
kelompok satu...yang akan melaju adalah...”(Ketua Panitia). Reo teringat
dengan rekan-rekan satu kelompoknya tadi sebelum kembali ke kuil. “Aku
tidak akan mundur!”(Reo:Dalam Hati). “Reo Larchcriel!”(Ketua Panitia).
Reo yang mendengarnya terlihat tidak mampu berkata apa-apa. Sena
terlihat merangkul Reo dengan senang. “Hebat! Sudah kukira, kau pasti
akan menang.”(Sena). “A...aku...”(Reo). Para peserta dari kelompok satu
yang lain terlihat mendekati Reo. “Kau memang hebat!”(Peserta 1).
“Selamat ya.”(Peserta 2). Reo terlihat tersenyum sekaligus seakan tidak
percaya. “Ya...sama-sama. Aku juga sangat berterimakasih, karena kalian
semua telah membantuku selama tujuh hari ini.”(Reo). Reo terlihat
membungkukkan badannya. Terlihat salah satu peserta memegang pundak Reo.
Reo pun menegakkan badannya. “Berjuanglah...kawan...”(Peserta 3).
“Tentu!”(Reo). Sena terlihat menepuk pundak Reo dari belakang. “Kau
memang luar biasa. Tidak kusangka kau bisa mendapatkan dukungan sebesar
itu. Kau pasti sudah banyak berjasa bagi mereka...”(Sena). “Tidak
juga...aku hanya melakukan apa yang memang harus aku lakukan.”(Reo).
Ketua
Panitia terlihat menunjuk ke arah Reo. “Reo Larchcriel, silahkan maju
ke depan.”(Ketua Panitia). “Baiklah, aku akan menunggumu di sana.”(Reo).
“Ya...”(Sena). Reo terlihat maju dan Ketua Panitia kembali meneruskan
pengumumannya. “Dan untuk kelompok dua...yang akan melaju
adalah...”(Ketua Panitia). Putri Alice terlihat memperhatikan Ketua
Panitia bersama Naria. “Aku rasa, namamu yang akan muncul.”(Putri
Alice). Naria terlihat terdiam sejenak. “Tidak...itu bukan
aku...”(Naria). “Kenapa?”(Putri Alice). “Baron Jakhavis!”(Ketua
Panitia). Semua peserta terlihat terkejut. “Dia kan...”(Peserta 4).
“Tidak mengherankan juga. Dia itu memang orang yang bukan hanya sekedar
tangguh.”(Peserta 5). Sena terlihat agak serius. “Jadi, dia tidak
menang, ya? Walau aku belum terlalu tau tentang dia, tapi sebenarnya dia
cukup punya potensi. Tidak kusangkan dia kalah.”(Sena:Dalam Hati).
Putri Alice terlihat bingung. “Kenapa bisa?”(Putri Alice). “Aku sudah
berada dalam satu area selama tujuh hari bersamanya, dan...”(Naria).
Naria terlihat memperhatikan Baron yang perlahan maju. “Dia bukanlah
lawan yang bisa dijatuhkan.”(Naria).

Ketua Panitia kembali
melajutkan pengumumannya. “Selanjutnya, untuk kelompok tiga...yang akan
melaju adalah...”(Ketua Panitia). Alex dari kejauhan terlihat
memperhatikan Sena. “Awalnya, aku memang meremehkan dia,
tapi...”(Alex:Dalam Hati). Reo dari depan juga memperhatikan Sena. “Saat
aku bersamanya, aku tau seperti apa dirinya...dan karena
itu...”(Reo:Dalam Hati). “Dia tidak mungkin kalah!/ Miyazaki Sena!”(Reo
dan Alex:Dalam Hati/ Ketua Panitia). Sena terlihat sangat senang dan
bersemangat. “Selamat ya...”(Unknow). Terlihat seseorang mendekati Sena.
“Ya...”(Sena). Sena yang menoleh pun terkejut saat mengetaui bahwa
orang itu adalah Stevan. Putri Alice yang juga berada tidak jauh dari
Sena, juga ikut terkejut. “Kau...”(Sena). “Stevan?”(Putri Alice:Dalam
Hati). “Senang ya rasanya, bisa mengetaui bahwa kau dan temanmu itu juga
maju ke babak terakhir.”(Stevan). “Apa maksudmu?”(Sena). Ketua Panitia
melanjutkan pengumunannya. “Yang terakhir, untuk kelompok empat...yang
akan melaju adalah...”(Ketua Panitia). Stevan terlihat melewati Sena dan
mendekati Putri Alice. Putri Alice terlihat tegang. “Karena yang akan
maju dari kelompok empat itu...”(Stevan). Stevan perlahan memengang dagu
Putri Alice bersamaan dengan pengumuman Ketua Panitia. “Stevan
Rogue!/Adalah aku...”(Ketua Panitia/Stevan). Ke empat nama telah
berkibar. Bersiap untuk genderang babak penghabisan.
Sena, Reo dan Naria terlihat terkejut mendengarnya, sedangkan Putri
Alice hanya bisa terdiam. “Tidak mungkin! Bagaimana mungkin kau yang
menang?”(Sena). Naria terlihat menampik tangan Stevan yang memegang dagu
Putri Alice. “Aku tidak tau apa maksudnya, tapi tak kan kubiarkan kau
menyentuh putri.”(Naria). “Hei...hei...hei, jangan kasar begitu. Aku kan
hanya menyapa tuan putri saja.”(Stevan). Putri Alice masih terdiam
seakan sulit untuk berbicara. “Kalau begitu...”(Stevan). Stevan terlihat
mendekati Sena. “Ayo, kita selesaikan ini
secepatnya...Sena...”(Stevan). Stevan pun berjalan melewati Sena menuju
ke tepat Reo dan Baron. “Sena.”(Putri Alice). Sena pun mendekati Putri
Alice. “Kau tidak apa-apa, kan?”(Sena). “Ya...Sena, boleh aku minta kau
berjanji satu hal padaku?”(Putri Alice). “Janji apa?”(Sena). Putri Alice
menatap Sena dengan pandangan sayu. “Tolong...jangan mati...apapun yang
terjadi...”(Putri Alice). Sena yang melihat Putri Alice terlihat agak
kesal, namun berganti dengan ekspresi serius. “Ya! Akan ku menangkan
event ini, karena itu tidak mungkin aku akan mati sekarang.”(Sena).
Putri Alice terlihat sedang menahan kesedihan yang amat sangat.
“Putri...”(Naria:Dalam Hati).
Sena pun melangkah maju.
“Entah apa itu, tapi...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan
kenangannya bersama Putri Alice. “Sekarang ini, aku...”(Sena:Dalam
Hati). Sena teringat dengan kata-kata Stevan setiap kali mereka bertemu.
Sena pun berhenti dan berdiri tepat di hadapan Stevan. “Sangat ingin
sekali menang!”(Sena:Dalam Hati). Stevan terlihat memperhatikan sorot
mata Sena yang tajam menatap dirinya. Stevan hanya tersenyum, dan Sena
terlihat berdiri sejajar dengan Reo, Baron, dan Stevan. “Dengan ini, ke
empat peserta yang menjadi juara di masing-masing kelompok telah
ditentukan...”(Ketua Panitia). Para peserta yang tersisa terlihat ada
yang lega dan sedih dengan keputusan dari Ketua Panitia. “Setelah ini,
semua yang ada di pulau ini akan kembali ke pulau utama di kerajaan,
untuk selanjutnya diteruskan ke babak terakhir. Jadi, semuanya bisa
beristirahat sejenak, lalu mempersiapkan diri untuk pelayaran.”(Ketua
Panitia). Ketua Panitia lalu pergi meninggalkan para peserta. Para
peserta terlihat banyak yang langsung duduk atau pun berbaring untuk
melepas penat dan ketegangan setelah tujuh hari bergulat dengan para
monster.
“Hoi!”(Sena). Sena terlihat langsung menarik baju
Stevan. “Apa yang sebenarnya terjadi di kelompok empat? Katakan yang
sebenarnya!”(Sena). Reo yang melihatnya langsung melerai Sena dan
Stevan. “Hentikan Sena! Tidak ada gunanya kau lakukan ini.”(Reo). “Tidak
bisa! Mana bisa aku diam setelah melihat temanku yang jadi seperti itu!
Dia ini pasti tau apa yang terjadi selama tujuh hari ini.”(Sena).
“Bukankah dulu sudah kubilang. Kalau kau melakukan tindakan seperti ini,
kau akan didiskualifikasi, dan itu hanya akan menghancurkan apa yang
sudah kau raih sekarang.”(Reo). Sena terlihat melepaskan Stevan sambil
menahan emosi. Baron yang hanya diam melihat kekacauan itu, terlihat
acuh. “Benar-benar bocah yang menyusahkan...”(Baron). Stevan terlihat
tersenyum. “Kalau kau memang ingin tau...”(Stevan). Para peserta lain
terlihat memperhatikan pertengkaran Sena dan Stevan. “Kau harus
mengalahkanku terlebih dulu...”(Stevan). Sena terlihat sangat kesal.
“Itu pun kalau kau masih punya nyali...”(Stevan). “Sial!!”(Sena:Dalam
Hati). Putri Alice terlihat menangis di dekapan Naria. Naria yang
melihat Putri Alice, terlihat sangat terpukul. Tantangan dari pihak yang
paling dia benci. Ketakutan, kesedihan, amarah, dan ambisi.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "The Four Name and I Have To Win"
Posting Komentar