Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

The Four Name and I Have To Win

Ketua Panitia terlihat mengumumkan empat nama yang akan melaju ke babak terakhir. Semua peserta terlihat tegang penuh harap. “Dari kelompok satu...yang akan melaju adalah...”(Ketua Panitia). Reo teringat dengan rekan-rekan satu kelompoknya tadi sebelum kembali ke kuil. “Aku tidak akan mundur!”(Reo:Dalam Hati). “Reo Larchcriel!”(Ketua Panitia). Reo yang mendengarnya terlihat tidak mampu berkata apa-apa. Sena terlihat merangkul Reo dengan senang. “Hebat! Sudah kukira, kau pasti akan menang.”(Sena). “A...aku...”(Reo). Para peserta dari kelompok satu yang lain terlihat mendekati Reo. “Kau memang hebat!”(Peserta 1). “Selamat ya.”(Peserta 2). Reo terlihat tersenyum sekaligus seakan tidak percaya. “Ya...sama-sama. Aku juga sangat berterimakasih, karena kalian semua telah membantuku selama tujuh hari ini.”(Reo). Reo terlihat membungkukkan badannya. Terlihat salah satu peserta memegang pundak Reo. Reo pun menegakkan badannya. “Berjuanglah...kawan...”(Peserta 3). “Tentu!”(Reo). Sena terlihat menepuk pundak Reo dari belakang. “Kau memang luar biasa. Tidak kusangka kau bisa mendapatkan dukungan sebesar itu. Kau pasti sudah banyak berjasa bagi mereka...”(Sena). “Tidak juga...aku hanya melakukan apa yang memang harus aku lakukan.”(Reo).

Ketua Panitia terlihat menunjuk ke arah Reo. “Reo Larchcriel, silahkan maju ke depan.”(Ketua Panitia). “Baiklah, aku akan menunggumu di sana.”(Reo). “Ya...”(Sena). Reo terlihat maju dan Ketua Panitia kembali meneruskan pengumumannya. “Dan untuk kelompok dua...yang akan melaju adalah...”(Ketua Panitia). Putri Alice terlihat memperhatikan Ketua Panitia bersama Naria. “Aku rasa, namamu yang akan muncul.”(Putri Alice). Naria terlihat terdiam sejenak. “Tidak...itu bukan aku...”(Naria). “Kenapa?”(Putri Alice). “Baron Jakhavis!”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat terkejut. “Dia kan...”(Peserta 4). “Tidak mengherankan juga. Dia itu memang orang yang bukan hanya sekedar tangguh.”(Peserta 5). Sena terlihat agak serius. “Jadi, dia tidak menang, ya? Walau aku belum terlalu tau tentang dia, tapi sebenarnya dia cukup punya potensi. Tidak kusangkan dia kalah.”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice terlihat bingung. “Kenapa bisa?”(Putri Alice). “Aku sudah berada dalam satu area selama tujuh hari bersamanya, dan...”(Naria). Naria terlihat memperhatikan Baron yang perlahan maju. “Dia bukanlah lawan yang bisa dijatuhkan.”(Naria).

Ketua Panitia kembali melajutkan pengumumannya. “Selanjutnya, untuk kelompok tiga...yang akan melaju adalah...”(Ketua Panitia). Alex dari kejauhan terlihat memperhatikan Sena. “Awalnya, aku memang meremehkan dia, tapi...”(Alex:Dalam Hati). Reo dari depan juga memperhatikan Sena. “Saat aku bersamanya, aku tau seperti apa dirinya...dan karena itu...”(Reo:Dalam Hati). “Dia tidak mungkin kalah!/ Miyazaki Sena!”(Reo dan Alex:Dalam Hati/ Ketua Panitia). Sena terlihat sangat senang dan bersemangat. “Selamat ya...”(Unknow). Terlihat seseorang mendekati Sena. “Ya...”(Sena). Sena yang menoleh pun terkejut saat mengetaui bahwa orang itu adalah Stevan. Putri Alice yang juga berada tidak jauh dari Sena, juga ikut terkejut. “Kau...”(Sena). “Stevan?”(Putri Alice:Dalam Hati). “Senang ya rasanya, bisa mengetaui bahwa kau dan temanmu itu juga maju ke babak terakhir.”(Stevan). “Apa maksudmu?”(Sena). Ketua Panitia melanjutkan pengumunannya. “Yang terakhir, untuk kelompok empat...yang akan melaju adalah...”(Ketua Panitia). Stevan terlihat melewati Sena dan mendekati Putri Alice. Putri Alice terlihat tegang. “Karena yang akan maju dari kelompok empat itu...”(Stevan). Stevan perlahan memengang dagu Putri Alice bersamaan dengan pengumuman Ketua Panitia. “Stevan Rogue!/Adalah aku...”(Ketua Panitia/Stevan). Ke empat nama telah berkibar. Bersiap untuk genderang babak penghabisan.
Sena, Reo dan Naria terlihat terkejut mendengarnya, sedangkan Putri Alice hanya bisa terdiam. “Tidak mungkin! Bagaimana mungkin kau yang menang?”(Sena). Naria terlihat menampik tangan Stevan yang memegang dagu Putri Alice. “Aku tidak tau apa maksudnya, tapi tak kan kubiarkan kau menyentuh putri.”(Naria). “Hei...hei...hei, jangan kasar begitu. Aku kan hanya menyapa tuan putri saja.”(Stevan). Putri Alice masih terdiam seakan sulit untuk berbicara. “Kalau begitu...”(Stevan). Stevan terlihat mendekati Sena. “Ayo, kita selesaikan ini secepatnya...Sena...”(Stevan). Stevan pun berjalan melewati Sena menuju ke tepat Reo dan Baron. “Sena.”(Putri Alice). Sena pun mendekati Putri Alice. “Kau tidak apa-apa, kan?”(Sena). “Ya...Sena, boleh aku minta kau berjanji satu hal padaku?”(Putri Alice). “Janji apa?”(Sena). Putri Alice menatap Sena dengan pandangan sayu. “Tolong...jangan mati...apapun yang terjadi...”(Putri Alice). Sena yang melihat Putri Alice terlihat agak kesal, namun berganti dengan ekspresi serius. “Ya! Akan ku menangkan event ini, karena itu tidak mungkin aku akan mati sekarang.”(Sena). Putri Alice terlihat sedang menahan kesedihan yang amat sangat. “Putri...”(Naria:Dalam Hati).

Sena pun melangkah maju. “Entah apa itu, tapi...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan kenangannya bersama Putri Alice. “Sekarang ini, aku...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan kata-kata Stevan setiap kali mereka bertemu. Sena pun berhenti dan berdiri tepat di hadapan Stevan. “Sangat ingin sekali menang!”(Sena:Dalam Hati). Stevan terlihat memperhatikan sorot mata Sena yang tajam menatap dirinya. Stevan hanya tersenyum, dan Sena terlihat berdiri sejajar dengan Reo, Baron, dan Stevan. “Dengan ini, ke empat peserta yang menjadi juara di masing-masing kelompok telah ditentukan...”(Ketua Panitia). Para peserta yang tersisa terlihat ada yang lega dan sedih dengan keputusan dari Ketua Panitia. “Setelah ini, semua yang ada di pulau ini akan kembali ke pulau utama di kerajaan, untuk selanjutnya diteruskan ke babak terakhir. Jadi, semuanya bisa beristirahat sejenak, lalu mempersiapkan diri untuk pelayaran.”(Ketua Panitia). Ketua Panitia lalu pergi meninggalkan para peserta. Para peserta terlihat banyak yang langsung duduk atau pun berbaring untuk melepas penat dan ketegangan setelah tujuh hari bergulat dengan para monster.

“Hoi!”(Sena). Sena terlihat langsung menarik baju Stevan. “Apa yang sebenarnya terjadi di kelompok empat? Katakan yang sebenarnya!”(Sena). Reo yang melihatnya langsung melerai Sena dan Stevan. “Hentikan Sena! Tidak ada gunanya kau lakukan ini.”(Reo). “Tidak bisa! Mana bisa aku diam setelah melihat temanku yang jadi seperti itu! Dia ini pasti tau apa yang terjadi selama tujuh hari ini.”(Sena). “Bukankah dulu sudah kubilang. Kalau kau melakukan tindakan seperti ini, kau akan didiskualifikasi, dan itu hanya akan menghancurkan apa yang sudah kau raih sekarang.”(Reo). Sena terlihat melepaskan Stevan sambil menahan emosi. Baron yang hanya diam melihat kekacauan itu, terlihat acuh. “Benar-benar bocah yang menyusahkan...”(Baron). Stevan terlihat tersenyum. “Kalau kau memang ingin tau...”(Stevan). Para peserta lain terlihat memperhatikan pertengkaran Sena dan Stevan. “Kau harus mengalahkanku terlebih dulu...”(Stevan). Sena terlihat sangat kesal. “Itu pun kalau kau masih punya nyali...”(Stevan). “Sial!!”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice terlihat menangis di dekapan Naria. Naria yang melihat Putri Alice, terlihat sangat terpukul. Tantangan dari pihak yang paling dia benci. Ketakutan, kesedihan, amarah, dan ambisi.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "The Four Name and I Have To Win"

Posting Komentar