Putri Alice teringat saat Stevan membunuh satu per satu peserta di depan matanya, bahkan Redolf. “Dia bilang...hal itu memang tidak pernah tertulis, namun itu ada. Kita boleh membunuh sesama peserta sesuka hati, dan hal ini hanya diketaui oleh mereka yang sudah berhubungan dengan dunia gelap.”(Putri Alice). Sena, Reo, dan Naria terlihat seakaan tidak percaya. “Kenapa bisa? Kenapa hal sekejam ini ada?”(Naria). “Kalau begitu, itu artinya sejak awal event ini memang merupakan ajang saling membunuh?”(Reo). “Fiona, saat aku bertemu dia di babak labirin, dia juga membunuh salah satu peserta yang ingin membunuhku.”(Putri Alice). Sena sejenak teringat sesuatu. “Kalau begitu...apa mungkin ini artinya...”(Sena:Dalam Hati). Kembali ke waktu sekarang. Terlihat Sena yang sebelumnya menutup mata, perlahan membuka matanya. “Apa pun itu...hanya ada satu hal yang bisa dan harus aku lakukan saat ini...”(Sena:Dalam Hati). Reo terlihat sedang memandangi langit. “Hei...Reo...”(Sena). “Kenapa?”(Reo). “Aku tidak ingin kalah di babak ini, apapun yang terjadi, demi semuanya.”(Sena). Reo yang memperhatikan Sena terlihat tersenyum. “Ya, aku juga tidak akan kalah dari siapapun.”(Reo).
Sena terlihat mengulurkan tangannya ke Reo. “Kalau pun nantinya kita harus berhadapan, aku ingin kita bisa berjuang sekuat tenaga, sebagai sahabat sekaligus rival.”(Sena). Reo terlihat menjabat tangan Sena. “Tentu saja. Akan ku kerahkan semua yang ku punya, untuk melawanmu.”(Reo). Terlihat Ketua Panitia sedang mengawasi para peserta dari monitor di kabin. “Benar-benar nama-nama yang mengejutkan. Tak kusangka dia bisa berjuang sampai tahap ini. Dia memang bocah yang menarik.”(Ketua Panitia). Terlihat seseorang masuk ke tempat Ketua Panitia. “Setelah ini...akan kuserahkan dia padamu. Lakukan semua yang telah Yang Mulia katakan padamu.”(Ketua Panitia). Orang misterius itu terlihat tersenyum mengerikan. “Akan kubuat babak terakhir ini sebagai babak penghabisan. Akan kulihat, sejauh mana batas yang dia miliki...”(Ketua Panitia). Kembali untuk puncak yang siap didaki. Penghabisan dari semua hal yang telah mereka miliki.
Keesokkan harinya, terlihat kapal yang membawa para peserta telah sampai di pelabuhan kerajaan. “Akhirnya sampai juga.”(Sena). Terlihat satu per satu peserta mulai turun dari kapal. Ketua Panitia terlihat telah berdiri di pintu keluar pelabuhan. “Untuk ke empat peserta yang berhasil, tolong persiapkan diri kalian, karena besok akan jadi babak penentu dalam event ini. Jadi kami harap, kalian bisa menunjukkan kemampuan terbaik kalian.”(Ketua Panitia). Sena terlihat bersemangat. “Tenang saja! Tak akan kubiarkan siapa pun kecewa. Akan ku kerahkan semua yang ku bisa.”(Sena). Reo terlihat memperhatikan Baron dan Stevan. “Aku tidak boleh lengah...ini akan jadi babak penentuan yang sebenarnya.”(Reo:Dalam Hati). “Baiklah, berkumpulah di arena utama kerajaan besok pagi. Mengenai aturan selajutnya, akan kami jelaskan saat kalian semua sudah siap besok.”(Ketua Panitia). “Ya!/Mengerti./Oke.../Siap.”(Sena/Reo/Stevan/Baron). Ketua Panitia terlihat pergi meninggalkan pelabuhan. Sena dengan spontan menatap wajah Reo. “Hoi, kau ini kenapa?”(Sena). Reo terlihat terkejut. “Eh, ku kira ada apa...”(Reo). “Kenapa sekarang kau yang melamun? Bukankah kemarin kau yang sudah menyemangatiku?”(Sena). “Maaf, hanya saja rasanya aku jadi waspada.”(Reo). “Hmmmm...”(Sena).
Sena terlihat memperhatikan apa yang dilihat Reo, yang tidak lain adalah Baron dan Stevan. “Pasti mereka, ya?”(Sena). “Kalau bisa, aku ingin berhadapan dulu dengan salah satu dari mereka, sebelum akhirnya denganmu. Karena itu, aku jadi berpikir, kira-kira siapa yang akan aku hadapi dulu?”(Reo). Sena terlihat menepuk pundak Reo sambil menghela nafas panjang. “Ya...aku paham. Tapi kalau bisa, aku ingin kau yang menghadapi Si Besar itu, karena kau tau sendiri, kan? Aku sangat ingin memukul wajah Si Sombong itu...”(Sena). Sena terlihat memperhatikan Stevan yang ternyata juga melihat ke arahnya. “Ya...semoga saja bisa...”(Reo). Peserta yang lain, terlihat mulai pergi. Putri Alice dan Naria terlihat mendekati Sena dan Reo. “Kalian berdua berjuanglah.”(Putri Alice). “Walaupun pemenangnya hanya satu, tapi kalian berdua jangan sampai kalah, ya.”(Naria). “Serahkah semuanya pada kami!”(Sena). “Kalau begitu, sampai bertemu besok.”(Putri Alice). Putri Alice dan Naria terlihat meninggalkan Sena dan Reo. “Mereka pasti berhasil, kan?”(Naria). “Tentu saja...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat melihat ke arah langit. “Mereka itu kuat...”(Putri Alice).
Sena terlihat memperhatikan Putri Alice dan Naria dari kejauhan. “Sekarang bagaimana?”(Reo). “Entahlah...aku juga belum kepikiran...”(Sena). Reo terlihat memikirkan sesuatu. “Bagaimana kalau ke rumahku?”(Reo). “Boleh juga, tapi bukankah tempatnya jauh?”(Sena). “Tenang saja, aku tau cara cepatnya kok...”(Reo). Reo dan Sena terlihat berjalan di keramaian pasar. Reo terlihat menghampiri seseorang. “Paman...!”(Reo). Terlihat orang itu melihat ke arah Reo dan Sena. “Oh...kau kan...”(Unknow). “Iya, ini aku Reo.”(Reo). Orang itu terlihat sangat senang dan menepuk pundak Reo. “Sudah lama sekali, ya? Bagaimana event nya?”(Unknow). “Semuanya berjalan lancar kok. Oh ya, ini temanku Sena. Dia juga ikut event ini bersamaku.”(Reo). “Salam kenal...”(Sena). “Senang bisa mengenalmu, namaku Ruka Yatoi.”(Ruka). “Ngomong-ngomong, paman. Aku kan sudah lama tidak pulang, jadi aku berencana untuk minta tumpangan pada paman, bisa kan?”(Reo). “Tentu saja...kebetulan aku juga ingin pulang.”(Ruka). “Baguslah.”(Reo). “Memangnya kita mau menumpang apa?”(Sena). Reo terlihat tersenyum. “Sesuatu yang menarik...”(Reo). Pulang kembali. Mempersiapkan diri untuk babak penentuan.

Belum ada tanggapan untuk "Give Everything What You Can and Preparing"
Posting Komentar