Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Tactics and Heart Language

Di kelompok tiga, Sena terlihat sedang berjalan sambil mengamati sekitarnya. “Sepertinya ini akan cukup sulit, mengingat daerah ini sangat luas dan agak tertutup.”(Sena:Dalam Hati). Saat sedang mengamati dengan seksama, tiba-tiba Sena mendengar suara dari arah belakangnya. Sena yang menyadarinya langsung berhenti dan terlihat bersiaga. “Kelihatannya sudah langsung dimulai, ya...”(Sena:Dalam Hati). Suara tersebut makin jelas terdengar. Sena terlihat tenang, dan dalam sekejap mata, Sena sudah ada di tempat di mana sumber suara itu berasal. “Hah?”(Sena). Sena sama sekali tidak menemukan apapun di tempat itu. Sena terlihat agak kesal. “Ayolah...jangan bilang kalau ilusi juga dipakai dalam babak ini?”(Sena). Sena lalu menarik nafas dalam-dalam dan perlahan mulai tenang kembali. “Tidak, aku tetap tidak boleh lengah. Kalau memang ilusi juga berlaku, maka itu artinya tantangan kali ini akan lebih dari sulit...aku harus tenang dan fokus...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat menatap ke arah hutan di depannya. “Mungkin kalau masuk lebih dalam bisa bertemu dengan monster-monster itu, ya...semoga saja...”(Sena). Sena terlihat melanjutkan perjalanannya.

Di kelompok satu, terlihat Reo sedang berkonsentrasi. “Mungkin dengan insting yang telah kulatih, aku bisa mengetaui posisi mereka...”(Reo:Dalam Hati). Reo terdiam dengan penuh konsentrasi, lalu tiba-tiba Reo terlihat merasakan sesuatu. “Ini...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat membuka matanya. “Sebaiknya akan aku periksa lebih jelas.”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat berada di daerah seperti pedesaan sederhana yang tidak berpenghuni. “Di daerah seperti ini, setidaknya kemungkinan monster-monster itu bersembunyi sangatlah kecil...tapi...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat naik ke atas salah satu bangunan. “Tempat ini memang hampir mirip dengan yang ada di babak pertama, walau tidak secara keseluruhan.”(Reo). Di kelompok dua, terlihat Naria sedang melakukan sesuatu. “Baik, semuanya sudah beres...”(Naria). Ternyata Naria sedang memasang perangkap. “Dengan ini, walau mungkin tidak bisa menangkap monster-monster itu secara langsung, tapi paling tidak ini sudah cukup untuk menahan pergerakan mereka untuk sementara, jadi aku bisa dengan mudah memburu mereka dengan hati-hati...”(Naria:Dalam Hati). Naria terlihat memperhatikan sekelilingnya. “Seingatku, sudah ada sekitar dua puluh jebakan yang kusebar, selanjutnya hanya tinggal mengawasi dari sudut yang tepat...”(Naria:Dalam Hati).

Di kelompok empat, Putri Alice terlihat mengendap-endap dibalik lebatnya ilalang savana. “Sebaiknya aku juga harus mengatur strategi...kalau hanya mengandalkan kekuatan saja sepertinya tidak akan cukup...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice terlihat mendongak dan memperhatikan kondisi di sekitarnya. “Sepertinya belum ada tanda-tanda yang jelas...tapi untuk jaga-jaga...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice terlihat mengeluarkan sesuatu. “Dengan ini, semoga saja aku berhasil...(Putri Alice). Kembali ke kelompok tiga. Sena terlihat bersandar di sebuah pohon. “Haaaahhh...sudah hampir seharian aku berkeliling, tapi sama sekali tidak ada buruan...apa mungkin monster-monster itu sedang tidur?”(Sena). Sena mengangkat kepalanya dan melihat ke langit. “Cuacanya cukup cerah...dan sangat tenang...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat keras dari kejauhan. Sena yang menyadarinya langsung bangkit. Ternyata, Reo, Putri Alice, dan Naria yang berada di kelompok yang berbeda juga menemui hal yang sama dengan Sena. “Suara itu...”(Naria:Dalam Hati). “Tidak salah lagi...”(Putri Alice:Dalam Hati). “Perburuan di babak ini...”(Reo:Dalam Hati). Terlihat Ketua Panitia sedang berada di suatu tempat. “Sudah dimulai...”(Ketua Panitia). Jeritan yang menggema menembus ruang ini. Saatnya bagi para pemburu untuk bergerak.



Sena dengan cepat berusaha menuju ke arah asal jeritan itu. “Selagi belum lama, itu artinya monster itu pasti juga belum jauh...”(Sena:Dalam Hati). Sena terus berlari melewati pepohonan. “Ini dia...”(Sena). Sena melompat dan akhirnya sampai di tempat asal jeritan itu. Sena terlihat terkejut melihat tempat itu. “Hei...apa memang ini hanya sebuah permainan...”(Sena). Terlihat ceceran darah segar bersama beberapa potongan tubuh tersebar di tempat itu. Sena terlihat agak kesal. “Sial! Ternyata aku kalah cepat dari monster itu!”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dedaunan dari arah cabang-cabang pohon di atas Sena. “Tidak...mungkin aku masih sempat...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat memegang pedangnya. Dengan penuh waspada, Sena terlihat mengamati sekelilingnya. Dengan cepat, sesuatu terlihat meluncur ke arah Sena dari arah atas. “Jangan harap!”(Sena). Sena terlihat berhasil menahannya. “Heh?”(Sena). Ternyata yang meluncur ke arah Sena adalah salah satu peserta yang satu kelompok dengannya. Orang itu langsung mundur. “Ternyata manusia, ya?”(Unknow). “Hoi, seharusnya aku yang bilang begitu!”(Sena). Orang itu terlihat memperhatikan sekeliling. “Sepertinya monster itu belum jauh...”(Unknow). Sena terlihat jengkel karena diacuhkan. “Hei...dengarkan aku, kenapa?!”(Sena).

Orang itu terlihat memperhatikan sesuatu. “Kelihatannya kau cukup kuat. Boleh aku minta tolong sesuatu?”(Unknow). Mendengar hal itu membuat Sena semakin kesal. “Hah?! Sudah cuek, sekarang malah menyuruh orang seenaknya. Memangnya kau ini siapa? Raja?”(Sena). “Kan tadi aku bilang minta tolong? Kalau tidak mau ya sudah.”(Unknow). “Dia ini kenapa sih? Sikapnya sangat dingin sekali...”(Sena:Dalam Hati). Orang itu terlihat mengeluarkan sesuatu. “Kalau kau pikir aku ini orang yang dingin, ya mungkin ada benarnya...”(Unknow). Sena terlihat kaget mengetaui orang itu bisa mengetaui apa yang ada dipikirannya. “Dia...apa mungkin dia membaca pikiranku?”(Sena:Dalam Hati). “Alasannya mudah saja...”(Unknow). Orang itu terlihat melompat sangat tinggi, lalu melemparkan sesuatu ke arah pepohonan. Tiba-tiba terlihat sesosok makhluk jatuh. “Eh?”(Sena). Sena terlihat mendekati makhluk itu yang ternyata adalah salah satu monster, namun tidak terlalu besar. Orang itu juga terlihat mendekati monster itu. “Ternyata monster kecil, ya?”(Unknow). Sena yang mengetauinya terlihat tercengang. “Dia ternyata hebat juga...padahal tadi aku tidak terlalu merasakan hawa keberadaan monster ini...tapi...”(Sena:Dalam Hati).

Sena terlihat memperhatikan orang itu. “Orang ini...kelihatannya kemampuannya tidak main-main...”(Sena:Dalam Hati). Orang itu terlihat mengambil pisau yang dia lemparkan ke tubuh monster itu. “Sebaiknya kau berhati-hati dengan perkataanmu...”(Unknow). Sena terlihat bingung. “Mungkin mulutmu bisa mengucapkan apa yang memang harus kau katakan...”(Unknow). Orang itu menunjuk ke arah Sena. “Tapi, sejauh apa pun perkataan itu...kau tidak akan pernah bisa mengubah apa yang kau ucapkan dalam hatimu...”(Unknow). Sena yang mendengarnya langsung terdiam dan seakan tidak bisa berkata apa-apa. Orang itu lalu mengulurkan tangan ke arah Sena sambil tersenyum. “Jangan tegang begitu...namaku Alex Waish...kau pasti Miyazaki Sena, kan?”(Alex). Sena perlahan mulai tenang dan menjabat tangan Alex. “Ummm...ngomong-ngomong dari mana kau tau namaku?”(Sena). “Dari mana? Kau ini bagaimana...kau ini sudah dikenal oleh seluruh peserta...jadi mana mungkin aku tidak tau dirimu.”(Alex). “Begitu, ya...”(Sena). Sementara itu di kelompok empat, terlihat Putri Alice tengah babak belur penuh luka. “Kelihatannya kau tidak sekuat yang kau ucapkan...Putri...”(Unknow 2). Membaca hati yang terdalam. Serangan demi serangan terus berdatangan.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Tactics and Heart Language"

Posting Komentar