Putri Alice terlihat menjadi bersemangat. Ketua Panitia yang melihat para peserta yang berubah pikiran akhirnya melanjutkan pengumumannya. “Baiklah...kalau memang semuanya sudah siap, maka kita akan segera memulai babak ketiga. Para peserta bisa melihat nomor urutannya pada kartu dan bisa maju dalam satu kelompok sesuai undian.”(Ketua Panitia). Terlihat para peserta memperhatikan kartunya masing-masing. “Jadi, aku ada di kelompok tiga, ya?”(Sena). “Kalau aku dapat kelompok dua.”(Naria). “Aku dikelompok satu.”(Reo). “Kalau kau kelompok berapa?”(Sena). “Aku dapat kelompok empat.”(Putri Alice). “Begitu ya...”(Sena). “Jadi, ini artinya, mulai dari sini kita akan kembali berjuang sendiri-sendiri...”(Reo). “Kedengarannya boleh juga.”(Sena).Putri Alice terlihat terdiam sejenak. “Kalau begitu, kita hanya harus menang dari babak ini dan maju ke babak selanjutnya, kan?”(Sena). “Apa kalian tidak apa-apa dengan ini?”(Reo). “Kalau aku memang tidak terlalu berharap bisa menang, ditambah dengan kemampuanku yang masing belum sempurna, kelihatannya aku akan butuh usaha ekstra.”(Naria). “Tenang saja, kami pasti bisa...walau terlihat mustahil, tapi kami tidak ingin selalu bergantung pada kalian. Kalian juga punya tujuan kalian sendiri, kan? Karenanya, cepat atau lambat kita pasti akan tetap terpisah juga.”(Putri Alice).
Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Baiklah, kita bertemu lagi di babak selanjutnya, entah akan jadi kawan atau lawan, kita tetaplah sama, jadi...”(Sena). Sena terlihat mengulurkan tangan. “Ayo, kita berusaha sekuat tenaga...”(Sena). Reo terlihat tersenyum. “Kau itu memang polos, Sena.”(Reo). Putri Alice dan Naria yang mendengarnya langsung tertawa. “Hoi, aku kan hanya ingin menyemangati kalian...”(Sena).Reo terlihat juga mengulurkan tangannya. “Iya, aku tau...”(Reo). Putri Alice dan Naria juga mengulurkan tangan mereka. Sejenak, Sena teringat dengan Tora, Hana, dan yang lainnya. “Seandainya kalian juga ke sini...”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan tersenyum. “Kalian pasti juga akan menyukainya...dunia ini...”(Sena:Dalam Hati). “Baiklah...”(Naria). Sena dan yang lainnya mengangkat tangan bersama. “Ayo, bertemu di babak selanjutnya!”(Sena dan yang lainnya). Para sahabat yang dia temui. Dalam perjuangan, mereka akan tetap bersama dalam ikatan yang mereka bentuk.
Ketua Panitia terlihat memberikan arahan selanjutnya. “Baiklah, untuk yang pertama, yaitu kelompok satu, semuanya bisa maju ke lambang seperti babak sebelumnya.”(Ketua Panitia). Terlihat Reo akan berangkat. “Baiklah, aku duluan...”(Reo). “Ya...”(Putri Alice). “Pastikan kau menghajar semua monster itu, ya!”(Sena). Reo terlihat tersenyum. “Tentu saja...itu sudah jadi kebiasaanku...”(Reo). Reo terlihat pergi menuju ke lambang itu bersama para peserta kelompok satu. “Medan, cuaca, dan tipe monster di setiap kelompok akan berbeda-beda...jadi sebisa mungkin semua peserta di semua kelompok benar-benar mempersiapkan diri. Ini akan jadi ujian untuk menentukan kemampuan bertahan hidup kalian selama satu minggu ke depan...jadi selamat berjuang...”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat serius. “Satu minggu...kelihatannya waktunya cukup panjang untuk beradaptasi dan mengatur strategi berburu yang jitu...ini akan jadi kesempatan yang bagus bagi para peserta yang memang punya keahlian bertahan hidup yang tinggi...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat memperhatikan para peserta yang satu kelompok dengannya. “Dari ekpresi mereka...kelihatannya mereka sudah tau maksud dan cara untuk lolos dari babak ini...sebaiknya aku juga tidak boleh lengah...”(Reo:Dalam Hati).
Para peserta kelompok satu terlihat sudah berangkat. “Kelihatannya setelah ini kelompokku...”(Naria). “Apa pun yang terjadi, kau harus tetap hidup, Naria...”(Putri Alice). “Umm! Aku pasti akan kembali lebih dulu dan menunggu kalian.”(Naria). “Kau memang percaya diri, ya...”(Sena). Naria dan kelompok dua pun juga telah berangkat. Sena terlihat bersemangat. “Oke! Selanjutnya aku yang akan maju!”(Sena). Putri Alice terlihat serius. “Sena...ada yang ingin aku katakan padamu...”(Putri Alice). “Ada apa?”(Sena). Putri Alice terdiam sejenak. “Kalau aku gagal...berjanjilah kau akan tetap memenangkan event ini.”(Putri Alice). Sena terlihat agak bingung, lalu memegang kepala Putri Alice. “Kau itu kuat...kau pasti tidak akan kalah...”(Sena). Putri Alice terlihat terkejut serta agak malu. “Tapi, kalau kau memang gagal nantinya, akan kupastikan tanganku ini bisa memukul wajah orang itu hingga terpental jauh.”(Sena). Putri Alice terlihat lega. “Kalau begitu...aku pergi...”(Sena). Sena dan kelompok tiga akhirnya berangkat. “Aku memang lemah...dan hanya bisa sesumbar saja...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice terlihat melangkah ke lambang bersama peserta di kelompok empat. “Tapi kali ini...aku tidak ingin menangis lagi! Aku pasti akan meneruskan apa yang ayah percayakan padaku!”(Putri Alice).
Putri Alice pun berangkat bersama peserta lainnya di kelompok empat. Putri Alice perlahan membuka matanya. Putri Alice terlihat terkejut dengan yang dilihatnya. “Ini kan...”(Putri Alice). Ternyata Putri Alice berada di padang savana yang luas. “Padangnya luas sekali...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat memperhatikan sekelilingnya. “Dan lagi...peserta yang lain juga tidak ada...atau jangan-jangan...”(Putri Alice:Dalam Hati). Di kelompok tiga. “Setiap peserta ditaruh di sisi yang berbeda, sama seperti di babak kedua?”(Sena:Dalam Hati). Terlihat Sena berada di daerah pantai. “Tapi, kalau diperhatikan lagi...”(Sena:Dalam Hati). Di kelompok dua. “Tempat ini seperti yang ada di babak pertama.”(Naria:Dalam Hati). Naria memperhatikan sekitarnya yang merupakan bebatuan terjal di daerah pegunungan. “Meski begitu...”(Naria:Dalam Hati). Naria terlihat akan mengeluarkan sesuatu. Di kelompok satu. Reo terlihat bersiaga. “Aku tidak boleh lengah dan harus tetap fokus dengan apapun di sekitarku...”(Reo:Dalam Hati). Babak ketiga dimulai. Waspada dan bertahan hidup adalah kunci untuk lolos dari babak ini.

Belum ada tanggapan untuk "See You Again and Separated"
Posting Komentar