Putri Alice yang sebelumnya juga ikut memejamkan mata, perlahan
akhirnya membuka matanya. “!!!”(Putri Alice). Putri Alice nampak
terkejut saat dia melihat jurang yang sangat dalam di hadapannya.
“Ke...kenapa kita bisa ada di sini?”(Putri Alice). “Nampaknya kita tadi
terkena ilusi dari jurang ini.”(Sena). “Ilusi?”(Putri Alice). “Iya.
Memang sulit ditebak, tapi untung saja kita tidak terperangkap terlalu
jauh. Jika kita tadi terus berjalan dalam ilusi itu, mungkin kita akan
jatuh ke jurang ini.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). Sena perlahan
menengok ke dasar jurang. “Kelihatannya, kabut yang kemarin juga efek
dari jurang ini.”(Sena). Putri Alice menunjuk sesuatu. “Sena, lihat itu!
Di sana ada jembatan.”(Putri Alice). Sena pun menoleh ke arah jembatan
yang dimaksud oleh Putri Alice. Sena terdiam sejenak dan terlihat
memikirkan sesuatu. “Ada apa? Ayo kita ke sana.”(Putri Alice).
“Tidak...”(Sena). “Kenapa? Kalau tidak cepat, mungkin akan ada
monster-monster lain yang akan mengejar kita.”(Putri Alice). “Bukan ke
sana, tapi ke bawah jurang ini.”(Sena). Putri Alice terlihat bingung.
“Apa maksudmu?”(Putri Alice). “Coba kau ingat-ingat lagi. Aku pernah
cerita padamu, kalau aku sama sekali tidak bisa menemukan menara pulau,
kan?”(Sena). “Iya sih, tapi apa hubungannya?”(Putri Alice). “Kemarin,
kita terjebak dalam kabut ilusi, dan hari ini kau hampir saja mati
karena monster di sungai, serta tadi kita sempat terjebak ilusi dan
hampir jatuh ke jurang ini.”(Sena). Putri Alice semakin bingung. “Aku
sama sekali tidak mengerti.”(Putri Alice). “Singkatnya, ini semua adalah
ilusi sejak awal, tapi bukan ilusi biasa...”(Sena). “Artinya?”(Putri
Alice). “Kita akan tau jika kita mampu menemukan asal ilusi itu, dan
jurang ini adalah jawabannya.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice).

Sena
perlahan berjalan menuju jembatan dan mengamatinya. “Sudah
kuduga...”(Sena). Sena pun memanggil Putri Alice. “Hei! Coba kau ke
sini!”(Sena). Putri Alice pun berjalan ke arah Sena. “Ada apa?”(Putri
Alice). “Seperti dugaanku...”(Sena). Sena melemparkan sebuah batu ke
jembatan itu dan batu itu menembus jembatan, seolah-olah jembatan itu
hanya bayangan. “Kenapa bisa?”(Putri Alice). “Karena jembatan ini juga
ilusi.”(Sena). “...”(Putri Alice). “Ilusi-ilusi yang sebelumnya adalah
pemancing agar kita tidak bisa menyadari ilusi yang sebenarnya, yaitu
pulau ini.”(Sena). “Ilusi sebenarnya? Jangan-jangan...”(Putri Alice).
“Iya, ini adalah jebakan yang dipasang oleh kerajaan untuk mencegah
orang yang tidak berkepentingan masuk seenaknya, seperti yang kau
ceritakan padaku sebelumnya.”(Sena). “Sekarang aku mengerti, itu
sebabnya kita tidak menyadarinya.”(Putri Alice). “Tepat sekali, tapi
ilusi yang kita alami tadi bukan sekedar ilusi biasa. Jika kita bisa
memahaminya dengan jelas, maka kita akan tau bahwa seluruh pulau ini
hanyalah ilusi, dan kita akan dituntun menuju tempat yang sebenarnya,
yaitu pulau yang asli.”(Sena). “Yang asli?”(Putri Alice). “Benar, dan
itu ada di bawah sana...”(Sena). Sena menunjuk ke dasar jurang. “Tapi,
bagaimana kita bisa ke sana?”(Putri Alice). Sena lalu menunjuk ke
pinggir jembatan. “Bukankah kau bilang kalau jembatan itu ilusi?”(Putri
Alice). “Coba perhatikan baik-baik...”(Sena).
Putri
Alice memperhatikan pinggir jembatan itu dengan seksama, dan di sana
nampak melihat sesuatu. “Itu kan...”(Putri Alice). “Itulah jalan yang
sebenarnya.”(Sena). Ternyata ada semacam anak tangga yang transparan di
pinggir jembatan. “Ayo kita pergi!”(Sena). “Iya...”(Putri Alice). Sena
dan Putri Alice pun mendekati anak tangga itu. “Karena transparan, kita
harus berhati-hati. Sebaiknya aku yang turun duluan.”(Sena). Sena
perlahan menuruni satu per satu anak tangga, lalu diikuti oleh Putri
Alice. “Hati-hati, kelihatannya kabut di sini mulai tebal.”(Sena). Kabut
di jurang itu perlahan semakin tebal dan mulai mengganggu padangan Sena
dan Putri Alice. “Bagaimana ini, aku tidak bisa fokus memperhatikan
anak tangganya.”(Putri Alice). Sena pun mengulurkan tangannya. “Pegang
tanganku, dan usahakan kau juga berpegangan ada dinding jurang, jadi kau
bisa memperkirakan anak tangganya.”(Sena). “Ba...baiklah...”(Putri
Alice). Saat Putri Alice hendak memegang tangan Sena, tiba-tiba dia
terjatuh karena salah pijak. “!!!”(Sena). Anak tangga yang menuntun ke
kebenaran. Mereka mulai berpacu dengan waktu.
Sena yang mengetaui Putri Alice jatuh, langsung menangkap tangan
Putri Alice. “Bertahanlah!”(Sena). “Sena...”(Putri Alice). “Jangan
banyak bergerak, aku akan coba menarikmu.”(Sena). Saat Sena berusaha
menarik Putri Alice, pijakan Sena semakin meleset. “Sial! Kalau
begini...”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice yang mengetaui Sena yang juga
terancam bahaya, perlahan tersenyum. “Tidak apa-apa...”(Putri Alice).
Sena terkejut. “Apa maksudmu?”(Sena). “Kalau kau tetap berusaha
menarikku, kau juga akan terjatuh juga. Lebih baik aku saja yang jatuh,
daripada kau juga harus menanggung kelalaianku juga...”(Putri Alice).
Sena yang mendengar perkataan Putri Alice mulai terlihat kesal. “Kau ini
bicara apa?!”(Sena). Putri Alice menatap Sena. “Bukannya kau ingin
mengembalikan kerajaan ayahmu?! Lalu sekarang kau mau menyerah dan mati
di tempat ini, tanpa bisa melakukan hal itu?!”(Sena). Putri Alice tidak
bisa berkata-kata. Sena terus berusaha menarik Putri Alice. “Aku sudah
berjanji...aku pasti akan mengembalikan dunia ini seperti semula...jadi
aku tidak akan kubiarkan diriku ataupun kau mati sia-sia di tempat
ini!”(Sena). Sena hampir berhasil menarik Putri Alice. “Sedikit
lagi...”(Sena). Tiba-tiba anak tangga yang dipijak Sena longsor, hingga
Sena dan Putri Alice terjatuh dari ketinggian puluhan meter.
“Gawat!!”(Sena:Dalam Hati). “Sena!”(Putri Alice). Sena yang melihat
Putri Alice langsung mendekapnya. “...”(Putri Alice). Sena membisikkan
sesuatu pada Putri Alice. “Kita pasti tidak akan mati...aku
janji...”(Sena). Mereka terus terjun bebas dan akhirnya menghilang dalam
tebalnya kabut.
Di suatu tempat, terlihat
Azrea sedang berada di depan sebuah pohon. “Semoga saja mereka baik-baik
saja...”(Azrea). Azrea dengan wajah khawatir memandang ke arah langit
biru. Di tempat lain, Reo terlihat terengah-engah karena kelelahan. “Apa
kau sudah selesai?!”(Melven). Terlihat Melven berada jauh di belakang
Reo. “Tentu saja belum! Aku masih kuat!”(Reo). Melven terlihat tersenyum
mendengar Reo. “Lebih...harus lebih dari ini!!”(Reo:Dalam Hati).
Sementara itu, tiga orang misterius yang sebelumnya berada di bar tempo
hari, terlihat berjalan menuju suatu tempat. “Kali
ini...pasti...”(Unknow 2). Tiga orang itu terlihat tersenyum
merencanakan sesuatu. Kembali ke hutan pulau, Sena perlahan membuka
matanya. “Aku...”(Sena). “Lagi-lagi kau ke sini...”(Unknow). Sena yang
terkejut mendengar suara itu, langsung bangun. “Tempat ini
kan...”(Sena). Sena kembali berada di padang rumput sebelumnya dan
terlihat seseorang sedang duduk jauh di depannya dan membelakanginya.
“Kau pasti, orang yang waktu itu?”(Sena). “Iya...itu aku.”(Unknow).
“Sebenarnya, ini di mana?”(Sena). Orang itu terdiam sejenak. “Di mana,
ya? Aku juga agak bingung...”(Unknow). “Apa maksudmu?”(Sena). “Kaulah
yang menciptakan tempat ini, tentu kau yang seharusnya tau.”(Unknow).
Sena terlihat bingung. “Menciptakan? Jangan main-main!”(Sena). “Tidak,
aku serius. Kau yang telah menciptakan tempat ini.”(Unknow). “Kau
ini...sebenarnya siapa?”(Sena).
Orang
misterius itu perlahan menoleh ke arah Sena. Sena terlihat sangat
terkejut. “Tidak mungkin...”(Sena). “Tempat ini...adalah dimensi
tersembunyi yang secara tidak sadar sudah kau ciptakan di pikiranmu yang
paling dalam. Bisa dibilang, tempat ini adalah alam bawah
sadarmu.”(Unknow). Orang misterius itu perlahan mendekati Sena yang
seakan tidak bisa bergerak. “Dan asal kau tau, akulah penghuni tempat
ini...”(Unknow). Orang misterius itu berhenti tepat di hadapan Sena, dan
ternyata orang itu adalah Sena. “Ya, aku adalah dirimu yang
lain...dirimu yang sebenarnya...”(Sena 2). Sena benar-benar tidak
percaya. “Diriku...yang sebenarnya?”(Sena). “Benar, aku adalah perasaan
yang selama ini kau pendam jauh dalam dirimu Sena, aku lah
kenyataanmu.”(Sena 2). “Tapi, bagaimana bisa?”(Sena). Sena yang lain
perlahan tersenyum. “Karena aku punya satu tujuan...”(Sena 2).
“Tujuan?”(Sena). Sena yang lain terlihat membisikkan sesuatu pada Sena.
“Aku akan...mengambil tubuh ini...”(Sena 2). Sena yang mendengar itu,
tiba-tiba langsung membuka matanya dan dia tersadar di jurang
sebelumnya. Jauh di dalam dirinya, dia telah menenunjukkan dirinya yang
sebenarnya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 20 Traps and The Real Me"
Posting Komentar