Sena sedang terjebak dalam situasi yang gawat. Taring-taring dari
monster itu berusaha untuk melahapnya. “Bagaimana ini? Aku sudah tidak
kuat lagi...”(Sena:Dalam Hati). Di saat dalam keadaan yang sangat
kritis, tiba-tiba Sena mendengar ada seseorang yang berbicara pelan
padanya. “Dasar lemah...”(Unknow). Sena yang terkejut membuka matanya.
“Di mana ini? Apa aku sudah mati?”(Sena). Sena tiba-tiba berada di
sebuah tempat yang terlihat seperti padang rumput yang sangat luas.
“Tentu saja kau belum mati...bodoh...”(Unknow). Sena pun menoleh ke arah
asal suara itu. “Siapa itu?”(Sena). Saat Sena baru saja akan menoleh,
tiba-tiba seseorang telah menepuk bahu kanannya sambil berjalan
melewatinya. “Biar aku saja...yang menanganinya...”(Unknow). Tiba-tiba
muncul cahaya terang, dan Sena membuka kembali matanya perlahan. Tatapan
mata Sena berubah, seakan bukan dirinya lagi. Sena kembali ke keadaan
di mana dia akan di makan oleh monster tadi, namun tiba-tiba dia
tersenyum. “Payah...”(Sena:Dalam Hati). Dalam sekejap, Sena menghilang
tanpa jejak. Suasana jadi hening. Setelah beberapa saat, tiba-tiba
bagian atas kepala monster itu sudah terbelah, dan Sena keluar dari sana
dengan membawa sesuatu. Monster itu terlihat tidak berdaya, sedangkan
Sena terus berenang ke permukaan.

Di tempat
lain, kakek tua sedang menunggu di tepi sungai dengan Putri Alice yang
masih tak sadarkan diri. Tiba-tiba kakek tua itu merasakan sesuatu.
“Hebat juga...”(Kakek Tua:Dalam Hati). Sena pun akhirnya muncul dari
dalam sungai. “Apa kau mendapatkannya?”(Kakek Tua). Dengan
terengah-engah Sena mulai berdiri. “Tentu saja...”(Sena). Sena menatap
kakek tua itu, tatapan Sena telah kembali seperti biasa. Sena perlahan
mendekat ke arah Putri Alice yang masih tak sadarkan diri. “Kalau
begitu, kau harus segera mengembalikannya.”(Kakek Tua). Kakek tua itu
terlihat memberikan sebuah kertas pada Sena. “Tempelkan itu dadanya,
lalu dekatkan benda itu pada kertas yang kau tempelkan.”(Kakek Tua).
Sena terlihat terkejut. “Apa? Tapi kan...”(Sena). “Tidak masalah, dia
kan tidak sadar...lagipula hanya ini cara satu-satunya untuk
menyelamatkannya.”(Kakek Tua). “Ba...baiklah...”(Sena). Dengan
berdebar-debar, Sena berusaha menempelkan kertas itu di dada Putri
Alice. “Tenang...tenang...ini juga demi menyelamatkannya...”(Sena:Dalam
Hati). Sena pun berhasil menempelkan kertas itu, namun Sena seperti
melihat sebuah kilasan tentang sebuah kejadian. “Apa itu
tadi?”(Sena:Dalam Hati). “Sekarang dekatkan benda itu, pada
kertasnya.”(Kakek Tua). “Baiklah.”(Sena). Sena perlahan mendekatkan
benda itu pada kertas yang sudah ditempelnya tadi. Benda itu bersinar,
lalu menyusut hingga akhirnya menghilang.
“Bendanya...menghilang?”(Sena). “Tentu saja, karena itu adalah
rohnya.”(Kakek Tua).
Putri Alice perlahan
mulai sadar. “Aku...”(Putri Alice). “Putri! Syukurlah kau bisa
selamat.”(Sena). “Sena...”(Putri Alice). Sena terlihat sangat senang.
“Apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Ceritanya panjang, tapi
pertama-tama...”(Sena). Saat Sena menoleh ke arah kakek tua itu,
ternyata kakek tua itu sudah menghilang. “Eh?”(Sena). “Ada apa,
Sena?”(Putri Alice). “Tidak, tadi itu ada seorang kakek tua yang
membantuku untuk menolongmu, tapi dia sudah tidak ada.”(Sena). “Begitu
ya...”(Putri Alice). “Padahal aku belum sempat berterima
kasih...”(Sena). Putri Alice terlihat senang. “Terima kasih, Sena. Kau
sudah menolongku.”(Putri Alice). “Iya sama-sama...”(Sena). Saat Putri
Alice berusaha untuk berdiri. “Kau sudah tidak apa-apa?”(Sena). “Tidak
apa-apa, aku hanya...”(Putri Alice). Putri Alice melihat kertas yang
sebelumnya ditempelkan oleh Sena. “Apa ini?”(Putri Alice). Sena mulai
terlihat panik. “I..itu...kertas yang kugunakan untuk
menolongmu...”(Sena). “Oh begitu...tapi, kenapa bisa ada di...”(Putri
Alice). Wajah Putri Alice terlihat memerah. “Jangan bilang kau...”(Putri
Alice). Sena benar-benar menjadi tegang. “Tu...tu...tunggu dulu. Hanya
cara ini yang bisa kulakukan untuk menolongmu. Aku tidak bermaksud
untuk...”(Sena). “Dasar genit!!”(Putri Alice). Dengan satu pukulan, Sena
terpental sampai ke sungai. Di padang rumput di mana Sena tadi sempat
ada di sana, terlihat seseorang tengah duduk sambil tersenyum dengan
angin berhembus perlahan. “Kurasa...hanya tinggal sedikit
lagi...”(Unknow). Perjuangan yang berat, tapi perlahan dia mulai
menyadari suatu hal itu.
Di suatu tempat, terlihat Melven dan Reo sedang berjalan dari
kejauhan. “Berapa lama lagi kita akan sampai?”(Reo). “Sebentar
lagi.”(Melven). Mereka terus berjalan. Saat Reo memperhatikan keadaan
sekeliling, tiba-tiba Reo teringat dengan sesuatu. “Kalau tidak salah,
tempat ini...”(Reo). Reo terus memperhatikan dengan seksama setiap sudut
pemandangan itu. Setelah berjalan cukup lama, Melven pun berhenti.
“Kita sudah sampai.”(Melven). Reo terlihat sangat terkejut. “Tempat
ini...”(Reo). Sementara itu, di hutan pulau, Sena dan Putri Alice terus
melanjutkan perjalanan menuju menara pulau. Sena terlihat masih merasa
sakit akibat pukulan Putri Alice sebelumnya. “Kau ini, tidak kusangka
pukulanmu keras juga...”(Sena). Putri Alice masih terlihat kesal. “Siapa
suruh kau genit?!”(Putri Alice). “Kan aku sudah bilang, aku melakukan
itu untuk menolongmu!”(Sena). “Iya...iya...”(Putri Alice). Sena berbisik
perlahan. “Hmmm...dasar perempuan galak...”(Sena). “Kau bilang
apa?!”(Putri Alice). Sena terlihat panik. “Tidak, tidak ada
apa-apa...”(Sena). Sena dan Putri Alice terus berjalan. Sena terus
teringat dengan orang asing yang sebelumnya dia temui di padang rumput
misterius. “Sebenarnya orang itu siapa ya? Dari suaranya, seperti tidak
asing, dan bagaimana bisa aku ada di tempat itu?”(Sena:Dalam Hati).
Putri Alice yang memperhatikan Sena, mulai memanggilnya. “Hei, Sena!
Sena!”(Putri Alice). Sena yang sebelumnya melamun menjadi kaget.
“I..iya.”(Sena). “Kau ini...apa sejauh itu kau masih memikirkan masalah
tadi?”(Putri Alice). “Itu...”(Sena). “Kalau begitu aku minta maaf...aku
sebenarnya tidak bermaksud begitu...”(Putri Alice). “Tidak, bukan
itu...”(Sena). “Lalu?”(Putri Alice).
Sena
mulai menceritakan apa yang dia alami sebelumnya. “Orang
misterius?”(Putri Alice). Putri Alice terlihat bingung. “Iya, bukan
hanya itu. Saat aku hampir mati saat berusaha melawan monster itu,
tiba-tiba aku seperti berada di sebuah padang rumput yang sangat luas,
tapi aku tidak tau tempat itu dan tidak tau kenapa aku bisa ada di
sana.”(Sena). “Aneh sekali...”(Putri Alice). “Aku juga berpikir begitu,
dan saat orang itu menepuk bahu kanan ku, tiba-tiba pandanganku dipenuhi
oleh cahaya terang hingga aku tidak bisa melihat apa-apa, dan saat aku
mulai bisa melihat, aku sudah berdiri di tengah sungai.”(Sena). Putri
Alice teringat dengan kejadian saat Sena juga menyelamatkannya dari tiga
monster pemburu di tengah hutan. “Apa mungkin, dia sudah mulai
bergerak?”(Putri Alice). “Dia? Siapa maksudmu?”(Sena). Putri Alice
berhenti sejenak, dan melihat ke depan. “Kenapa bisa?”(Putri Alice).
“Ada apa?”(Sena). Sena juga melihat ke depan, dan juga ikut terkejut
saat mereka menyadari bahwa mereka kembali ke tempat di mana mereka
bertemu pertama kali. “Bukankah ini tempat kita bertemu pertama
kali?”(Putri Alice). “Kenapa kita bisa kembali?”(Sena). “Jangan-jangan
kita sudah salah jalur dan tersesat?”(Putri Alice). Sena dengan sigap
memperhatikan sekeliling dengan penuh konsentrasi. “Sama sekali tidak
ada tanda-tanda ilusi...tapi bagaimana bisa?”(Sena:Dalam Hati). Sena
terlihat bingung. “Bagaimana kalau kita coba jalur lain?”(Sena).
“Baiklah.”(Putri Alice).
Sena dan Putri
Alice berjalan dengan menempuh jalur lain. “Di bagian sini ternyata
pepohonannya cukup banyak.”(Putri Alice). Setelah berjalan cukup lama,
Sena dan Putri Alice ternyata kembali ke tempat semula. Putri Alice
kembali terkejut. “Apa?!”(Putri Alice). “Lagi-lagi...”(Sena:Dalam Hati).
Putri Alice perlahan menjadi panik. “Bagaimana ini?”(Putri Alice). Sena
terlihat kebingungan. “Apa mungkin ilusi? Tapi dari mana?”(Sena:Dalam
Hati). Saat Sena tengah berpikir, Sena merasakan angin yang sangat
tipis. “Angin?”(Sena). “Ada apa, Sena?”(Putri Alice). Sena menatap Putri
Alice dengan seksama. Putri Alice terlihat bingung. “Ke...kenapa kau
melihatku seperti itu?”(Putri Alice). Sena lalu memperhatikan
sekelilingnya. “Begitu ya...”(Sena). Sena perlahan tersenyum.
“Eh?”(Putri Alice). Sena dengan spontan memegang tangan Putri Alice.
“Hei! Kau ini apa-apaan?!”(Putri Alice). “Tahan nafasmu...”(Sena).
“Apa?”(Putri Alice). Dengan cepat Sena menarik nafas dalam-dalam dan
memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba sebuah gelombang tidak terlihat
keluar dari Sena. Sena perlahan membuka kedua matanya. “Hampir
saja...”(Sena). Tiba-tiba, Sena dan Putri Alice sudah berdiri tepat di
bibir jurang yang sangat dalam. Semakin dekat. Selangkah lagi untuk
mengetaui kebenaran.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 19 Someone In There and Illusion"
Posting Komentar