Hari sudah beranjak malam. Di hutan pulau, Sena dan Putri Alice memutuskan untuk beristirahat. “Sepertinya kita harus bermalam di sini.”(Sena). Sena mulai membuat api unggun. “Baik...sudah selesai.”(Sena). Sena mengeluarkan buah-buahan dan ikan hasil buruannya tadi siang. “Ini, ikannya sudah matang.”(Sena). “Tidak, terima kasih, aku akan makan buahnya saja.”(Putri Alice). “Kenapa? Kalau hanya buah mana bisa kenyang? Ingat, kita besok akan berjalan jauh lagi, jadi akan repot kalau kita kelaparan di tengah perjalanan.”(Sena). “Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak suka makan daging.”(Putri Alice). “Begitu ya...padahal enak sekali, tapi tidak apa-apa lah.”(Sena). Sena perlahan berdiri. “Kalau begitu aku akan coba berkeliling, siapa tau ada banyak buah-buahan di sekitar sini.”(Sena). “Kenapa? Bukannya ini sudah gelap? Akan susah mencarinya di kegelapan begini.”(Putri Alice). “Tidak apa-apa, lagipula kau hanya makan buah, kan? Jadi aku rasa buah ini belum cukup.”(Sena). “Sudah tidak apa-apa, ini saja sudah cukup.”(Putri Alice). “Sudah tidak perlu malu, daripada nanti kau kelaparan.”(Sena). Sena terlihat akan beranjak dari tempat itu. “Tu...tunggu du...”(Putri Alice). Putri Alice yang berusaha berdiri terpeleset dan hampir terjatuh, tapi Sena berhasil memegangnya. “Kau ini, sudah kubilang tidak perlu khawatir...”(Sena). Putri Alice melihat langsung ke wajah Sena, dan wajahnya mulai memerah karena malu. “Ma...maaf, aku tadi terpeleset.”(Putri Alice). Sena terlihat menghela nafas panjang. “Haaahhh...iya tidak apa-apa, lain kali hati-hati. Sekarang tunggulah di sini sebentar, aku akan coba mencari buah-buahan dulu.”(Sena). “I...iya...’(Putri Alice).
Sena pun mulai meninggalkan Putri Alice untuk mencari buah-buahan. Putri Alice masih teringat-ingat dengan yang baru saja terjadi. Putri Alice terlihat menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh, tidak boleh...”(Putri Alice:Dalam Hati). Setelah cukup lama, tiba-tiba Sena datang dengan terengah-engah. “Hei, kau kenapa?”(Putri Alice). Sena terlihat menoleh ke belakang, lalu melihat ke arah depan sambil menarik tangan Putri Alice. “Ayo pergi dari sini!”(Sena). “Eh?”(Putri Alice). Sena tiba-tiba berlari sambil menarik tangan Putri Alice. “Hei! Sebenarnya apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Sudah, tidak ada waktu! Ayo cepat kabur!”(Sena). “Kabur? Kabur dari apa?”(Putri Alice). Tiba-tiba dari arah belakang terlihat sebuah monster badak besar yang mengejar mereka. “Apa itu?!”(Putri Alice). “Sekarang kau sudah tau alasannya, kan?!”(Sena). Sena dan Putri Alice terus berlari menghindari monster itu. Makhluk demi makhluk aneh terus bermunculan. Hutan misterius yang penuh kejutan.
Sena dan Putri Alice yang semula dikejar oleh monster badak besar akhirnya berhasil lolos. Sena dan Putri Alice terlihat terengah-engah. “Untung saja...”(Sena). “Sebenarnya...apa yang kau lakukan...sampai dia mengejarmu?”(Putri Alice). Sena perlahan mengeluarkan sebuah bungkusan. “Itu...mungkin karena aku masuk wilayahnya sembarangan, tapi untunglah aku dapat banyak buah.”(Sena). “Begitu rupanya...”(Putri Alice). Sena memberikan bungkusan itu pada Putri Alice. “Ini, makanlah. Aku mau cari kayu bakar dulu untuk api unggun.”(Sena). “Baiklah...terima kasih.”(Putri Alice). Sena pun pergi untuk mencari kayu bakar. Hari sudah gelap. Setelah agak lama, akhirnya Sena kembali dan membuat api unggun. Sena dan Putri Alice terdiam memandangi api unggun. “Maaf, mungkin ini sedikit mengganggumu, tapi aku mau tau, orang yang bernama Lucifer itu seperti apa?”(Sena). Putri Alice memandang Sena sejenak dan mulai bercerita. “Dia...entah mengapa saat pertama datang, dia sangat mirip denganmu.”(Putri Alice). “...”(Sena). “Dia...begitu baik, dan sering membantu pasukan kerajaan. Dia juga pernah menolongku sekali saat aku dalam bahaya, tapi...entah apa yang merasukinya, dia jadi berubah seperti sekarang.”(Putri Alice). “Begitu ya...lalu bagaimana reaksi penduduk saat pertama kali dia datang?”(Sena). “Sebenarnya, sejak dia pertama kali datang, dia sama sekali tidak pernah keluar ke pemukiman penduduk. Dia selalu berada di kerajaan dan hanya sesekali keluar, tapi hanya sekedar menjalankan tugas, setelah itu dia pasti kembali dan tidak pernah ke mana-mana, jadi para penduduk tidak terlalu mengenal dia.”(Putri Alice). “Dia pasti tipe orang yang tertutup, ya?”(Sena). “Tidak juga, dia dikenal ramah dikalangan kerajaan, tapi...”(Putri Alice).
Angin malam berhembus cukup kencang dan raut wajah Putri Alice menjadi terlihat murung. “Dia berubah...sejak kejadian itu...”(Putri Alice). “Kejadian?”(Sena). “Kau pasti tau, jika pulau ini disebut pulau mitos, kan?”(Putri Alice). “Kalau itu aku tau, tapi memang mitos seperti apa? Bukankah kau tadi bilang siapa saja yang masuk tidak akan bisa kembali, iya kan?”(Sena). “Sebenarnya bukan itu. Kami para anggota kerajaanlah yang tau kebenaran pulau ini, dan kami hanya menyebarkan kabar burung untuk mencegah orang-orang yang tidak berkepentingan masuk ke sini.”(Putri Alice). “Lalu, apa sebenarnya mitos itu? Kenapa kau memberitauku?”(Sena). “Karena kau...pasti akan ikut turnamen Olympic Union, benarkan?”(Putri Alice). “Itu memang benar, tapi maksudnya?”(Sena). “Olympic Union adalah turnamen yang dulu di adakan di pulau ini untuk satu tujuan...”(Putri Alice). “Tujuan...maksudmu untuk mencari orang terhebat di dunia ini, kan?”(Sena). “Bukan sekedar itu, tapi ada maksud lain...”(Putri Alice). “Maksud lain?”(Sena). “Maksud sebenarnya dari turnamen itu adalah...untuk mengambil sedikit demi sedikit kekuatan mereka yang berpartisipasi di pulau ini.”(Putri Alice).
Sena yang mendengarnya langsung tercengang. “Mengambil...kekuatan...?”(Sena). “Benar, tapi tidak sekaligus semuanya. Bisa dibilang, hanya menimbun kekuatan yang terlepas di saat mereka bertarung atau melakukan kegiatan apapun dengan kekuatan mereka.”(Putri Alice). “Tapi, untuk apa?”(Sena). Putri Alice menekuk kedua lututnya dan mendekapnya erat. “Karena pulau ini punya legenda...”(Putri Alice). Sena terlihat penasaran. “Di pulau ini, konon setiap terjadi gerhana matahari...pulau ini akan menghubungkanmu ke dimensi lain.”(Putri Alice). “Dimensi lain?”(Sena). “Iya...dimensi di mana menurut legenda, kau akan menemukan sebuah benda istimewa yang para anggota kerajaan menyebutnya sebagai Pecahan Surga...”(Putri Alice). Sena langsung terkejut mendengarnya. “Tapi, tidak hanya sekedar gerhana matahari saja...dikatakan dalam legenda, kau harus mengumpulkan energi yang sangat besar untuk bisa menghubungkan kedua dimensi.”(Putri Alice). “Jadi, itu alasannya, kenapa turnamen itu diadakan di sini?”(Sena). “Iya...dan semua berubah sejak saat itu...”(Putri Alice). “...”(Sena). Kenyataan dan permulaan dari segalanya baru dimulai. Di dalam hati Sang Putri yang menangis, tersimpan ketakutan yang luar biasa.

Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 14 So Close and Since Then..."
Posting Komentar