Setelah agak lama, Ruka, Sena, dan Reo akhirnya sampai di gerbang desa. “Oke! Kita sudah sampai.”(Ruka). Reo terlihat turun dengan senang. “Haaahhhh...senang rasanya bisa pulang...”(Reo). Sena yang masing shock, terlihat turun dengan lemas dan agak terhuyung-huyung. “Syukurlah kita selamat...”(Sena). Reo terlihat mendekati Ruka. “Terima kasih, paman. Sekarang kami permisi pulang dulu.”(Reo). “Ya, tolong sampaikan salamku pada adikmu juga, ya.”(Ruka). “Baik.”(Reo). Reo terlihat merangkul Sena. “Bagaimana? Sudah baikkan?”(Reo). “Ya...lumayan...”(Sena). “Oke, ayo kita pulang!”(Reo). “Ya...”(Sena). Sena dan Reo pun berjalan melewati jalan setapak menuju rumah Reo. “Kangen juga rasanya. Sudah lebih dari satu bulan aku tidak pulang. Kira-kira bagaimana kabar Azrea, ya?”(Reo). “Dia itu anak yang kuat. Ya, kelihatannya dia akan baik-baik saja.”(Sena). “Ya, aku juga berharap begitu.”(Reo). Sena dan Reo pun akhirnya sampai di depan rumah Reo. Terlihat Reo mengetuk pintu. “Iya! Tunggu sebentar.”(Azrea). “Kalau dari suaranya, kelihatannya dia benar-benar sehat.”(Sena). Terlihat Azrea membuka pintu. “Yo, kakak pulang.”(Reo). “Hei.”(Sena). Azrea yang melihat Reo dan Sena terlihat terkejut. “Ka...kakak? Dan...Se...Sena?”(Azrea). “Iya, ini kami. Masa kau sudah lu...”(Reo).
Dengan spontan, Azrea memeluk Reo sambil menangis. “Syukurlah...syukurlah. Aku kira sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakak. Aku...aku...”(Azrea). Reo terlihat tersenyum. “Maaf ya...kakak jadi membuatmu cemas.”(Reo). “Tidak...tidak apa-apa...kakak kembali dengan selamat saja, itu sudah membuatku sangat senang.”(Azrea). “Ano...”(Sena). “Oh ya, sebaiknya kita semua masuk dulu. Tidak bagus kalau malam begini bicara di luar.”(Reo). Di dalam rumah, terlihat Sena dan Reo sedang duduk santai di kursi ruang tamu. “Benar-benar tidak berubah, ya?”(Sena). Azrea terlihat datang membawakan makanan. “Ini makanlah, aku tau kakak dan Sena pasti sedang lapar, kan?”(Azrea). “Wah...terima kasih banyak, ya.”(Sena). “Ayo kita makan. Selagi masih hangat.”(Reo). “Ya.”(Azrea). Sena, Reo, dan Azrea terlihat duduk bersama sambil memakan hidangan buatan Azrea dan saling bercengkramah melepas rindu. Senyuman dan tangisan itulah penyemangatnya selama ini. Sejenak melepas beban untuk kembali ke tempatnya berada.
Malam telah larut, terlihat Reo sedang berjalan ke bagian belakang rumah. Reo terlihat naik ke atap gudang rumahnya. “Memang hanya tempat ini yang bisa membuatku tenang.”(Reo). Tak lama berselang, terlihat Azrea datang menghampiri Reo. “Ternyata benar, kakak pasti belum tidur.”(Azrea). “Azrea...”(Reo). Azrea terlihat duduk di samping Reo. “Kakak pasti sedang memikirkan apa yang akan terjadi di babak terakhir, kan?”(Azrea). “Ya...seperti itulah. Aku juga sama sekali tidak menyangka kalau aku bisa sampai babak ini. Itu...benar-benar sesuatu yang mengejutkan bagiku.”(Reo). “Tapi, aku senang...”(Azrea). “Eh?”(Reo). “Kakak sudah baikkan dengan Sena, dan bahkan sampai berjuang bersama hingga saat ini. Akulah yang justru sangat bersyukur karena itu.”(Azrea). Reo teringat kembali dengan perjuangannya bersama Sena sewaktu di babak-babak sebelumnya. “Dari awal...aku memang sangat kagum padanya. Dia itu orang yang hebat. Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi menolong orang lain. Dan itulah yang membuatku sangat senang.”(Reo). Azrea sejenak teringat dengan pertengkaran antara Reo dan Sena dulu. “Walaupun, Sena punya kegelapan itu? Apa kakak juga akan tetap mempercayainya?”(Azrea). “Kalau itu...”(Reo).
Terlihat Sena sedang berjalan-jalan, dan tidak sengaja lewat di samping gudang. “Aku memang tau dia punya kegelapan itu...”(Reo). Sena yang mendengarnya langsung berhenti. Sena terlihat memperhatikan asal suara Reo dan Azrea, dan langsung terlihat murung. “Meskipun begitu...Sena tetaplah Sena, bukan orang lain, dan dialah orang yang aku percaya, bukan kegelapan itu...”(Reo). Sena terlihat terkejut mendengarnya. “Karena itu...aku ingin terus dan terus berjuang bersamanya...selalu...”(Reo). Sena akhirnya terlihat tersenyum lega. “Aku juga percaya...kakak dan Sena pasti bisa, karena kalian itu kuat. Kalian pasti bisa memenangkan event ini.”(Azrea). “Ya...aku juga berharap begitu...”(Reo). Azrea terlihat akan beranjak pergi. “Sebaiknya aku pergi tidur. Besok pagi, aku kan harus menyiapkan sarapan untuk semuanya. Kakak juga harus bangun pagi, kan?”(Azrea). “Ya, nanti aku akan segera tidur.”(Reo). Malam yang dingin perlahan mulai berganti dengan cahaya fajar dari ufuk timur. Terlihat Azrea sedang menyiapkan sarapan di dapur. Azrea terlihat menyicipi sup buatannya. “Bagus, rasanya semuanya sudah pas. Sekarang tinggal...”(Azrea).
Saat Azrea hendak mengambil bumbu, tiba-tiba Azrea seperti merasakan rasa sakit yang luar biasa di lengan kirinya. Azrea pun jatuh terduduk sambil menahan rasa sakit itu. “Gawat! Kenapa di saat begini...”(Azrea:Dalam Hati). Terlihat Sena yang baru saja bangun sedang mampir ke dapur. “Azrea!”(Sena). Sena yang melihat Azrea terjatuh langsung mendekat. “Kau kenapa?”(Sena). “Ti...tidak...tidak apa-apa, hanya agak keseleo saja, bukan masalah besar kok...”(Azrea). Reo yang mendengar teriakan Sena tadi juga datang ke dapur. “Apa yang terjadi, Azrea?”(Reo). “Dia tadi bilang hanya keseleo.”(Sena). “Ya...itu benar...karena mungkin kemarin pagi aku terlalu banyak bekerja, akhirnya tanganku jadi begini.”(Azrea). Azrea pun perlahan bangun. “Kelihatannya sudah tidak sakit lagi.”(Azrea). “Apa kau yakin?”(Sena). “Kalau kau kelelahan, sebaiknya kau istirahat saja dulu. Biar kakak dan Sena yang akan mengurus sisanya.”(Reo). “Tidak apa-apa...aku masih kuat kok.”(Azrea). “Begitu ya...”(Sena). Reo yang memperhatikan Azrea terlihat curiga dengan tingkah Azrea yang tidak biasa. Azrea pun meneruskan masakannya. “Kalau begitu, aku akan ke belakang dulu mencari air.”(Sena). “Ya, tolong ya...”(Reo). Sena pun pergi meninggalkan Reo dan Azrea. “Nah, Azrea...”(Reo). Azrea terlihat tegang. “Ada apa...kak?”(Azrea). Reo terlihat memperhatikan Azrea. “Apa yang tadi itu...benar-benar hanya sakit biasa?”(Reo). Azrea yang mendengarnya, langsung terdiam. Sesuatu yang tersembunyi. Sebuah rasa sakit yang tak bisa dibohongi.

Belum ada tanggapan untuk "The One I Believe"
Posting Komentar