Sesuatu itu terus mendekat ke arah Sena. Sena
terlihat dalam posisi siaga. “Oh...ternyata anak muda, ya?”(Unknow).
“Eh?”(Sena). Ternyata yang mendekat adalah seorang kakek tua.
“Kelihatannya banyak sekali yang terjadi, ya?”(Kakek Tua). Sena terlihat
memperhatikan kakek tua itu. “Kakek ini siapa? Seingatku tidak ada
peserta yang seumuran kakek.”(Sena). “Bagaimana menjelaskannya, ya? Aku
sendiri juga tidak tau.”(Kakek Tua). “Kenapa dengan kakek
ini?”(Sena:Dalam Hati). Kakek tersebut terlihat memperhatikan Sena
dengan seksama. “Wajahmu terlihat tidak asing anak muda...”(Kakek Tua).
Sena terlihat bingung. “Benarkah? Apa itu artinya kita pernah
bertemu?”(Sena). “Aku tidak yakin...tapi aku merasa pernah melihatmu di
suatu termpat.”(Kakek Tua). “Begitu ya...tapi maaf, aku tidak terlalu
ingat soal itu.”(Sena). Sena terlihat mulai berpikir. “Tapi...bagaimana
bisa kakek ini datang dari tempat yang kemungkinan adalah jebakan. Apa
ini perangkap? Atau memang ada sesuatu dari kakek ini?”(Sena:Dalam
Hati). Kakek tua itu memperhatikan sekeliling. “Tempat ini sangat
sempit, aku sampai tidak bisa melihat jalan keluarnya.”(Kakek Tua).
“Tentu saja, ini adalah labirin dan kita sekarang sedang
terkurung.”(Sena). “Labirin?”(Kakek Tua). “Iya, jadi...”(Sena). Kakek
tua itu terlihat bingung. “Labirin itu apa, ya?”(Kakek Tua).
Sena
yang mendengarnya langsung jungkir balik. “Jadi, kakek benar-benar
tidak tau di mana kakek berada sekarang?”(Sena). “Iya begitu
lah...hehehehehehe.”(Kakek Tua). “Kakek Tua yang aneh...”(Sena:Dalam
Hati). Di sisi lain labirin, terlihat Naria sedang berjalan menyusuri
sebuah jalur. “Kelihatannya lewat sini. Ya, semoga saja benar.”(Naria).
Naria terus berjalan hingga sampai di sebuah persimpangan. “Setelah ini
pilih jalur mana. ya?”(Naria). Tiba-tiba, Naria merasakan hembusan angin
dari salah satu jalur. “Angin? Bukannya tempat ini di dalam
ruangan?”(Naria). Naria pun menoleh ke arah jalur di mana angin itu
berasal. “Apa mungkin...”(Naria). Kembali ke Sena. Sena masih terlihat
bingung dengan kakek tua itu. “Lalu, bagaimana kakek bisa sampai di
sini?”(Sena). “Entahlah, aku juga tidak tau?”(Kakek Tua). “Hah! Terus
kenapa kakek di sini? Ini bukan tempat main-main, kek.”(Sena). Kakek tua
itu terlihat berpikir. “Seingatku...aku melihat cahaya yang sangat
terang, dan saat aku membuka mata, aku sudah ada di sini.”(Kakek Tua).
“Cahaya?”(Sena). “Iya...semacam itulah.”(Kakek Tua). Sena justru semakin
bingung dengan penjelasan kakek tua itu. “Sebenarnya apa yang terjadi?
Apa kakek ini adalah jebakan yang dimaksud? Atau memang kakek ini
tersesat dan sampai di labirin ini?”(Sena:Dalam Hati).
Sena
terlihat terdiam sejenak. “Bagaimana pun juga, kita tetap harus keluar
dari sini. Jika tidak, kita tidak akan bisa menyelesaikan
tantangannya.”(Sena). “Hei, anak muda, coba kemari sebentar.”(Kakek
Tua). “Ada apa, kek?”(Sena). Sena terlihat mendekati kakek tua itu. “Aku
harus tetap waspada. Tidak menutup kemungkinan jika kakek ini adalah
jebakan yang dimaksud.”(Sena:Dalam Hati). “Tolong...”(Kakek Tua).
“Tolong apa, kek?”(Sena). “Tolong garuk punggungku.”(Kakek Tua). Sena
jungkir balik tidak karuan mendengar permintaan kakek tua itu. “Jangan
main-main, kek! Kita ini sedang terkurung! Masih bisa-bisanya kakek
memintaku untuk menggaruk punggung kakek!”(Sena). “Tapi, punggungku
benar-benar gatal...tanganku sulit menjangkaunya, jadi aku minta tolong
padamu, anak muda.”(Kakek Tua). “Tapi, tolong lihat dulu situasinya.
Kita ini sedang dalam keadaan terdesak, kek.”(Sena).
“Iya...tapi...”(Kakek Tua). Sena yang mendengar kakek tua itu terus
memohon akhirnya menyerah. “Haaahhh...apa boleh buat...”(Sena).
“Jadi...”(Kakek Tua). “Iya, aku akan menggarukkan punggung
kakek.”(Sena). Kakek tua itu terlihat senang. “Terima kasih! Terima
kasih banyak, anak muda! Kalau begitu, aku akan melepas bajuku
dulu.”(Kakek Tua). “Melepas baju?”(Sena). “Akan lebih enak, jika
langsung menggaruk di kulitnya. Aduh! Rasanya makin gatal saja.”(Kakek
Tua). Kakek tua itu perlahan melepas bajunya. “Baiklah, bagian mana
yang...”(Sena). Sena tiba-tiba terkejut saat melihat sesuatu yang ada di
punggung kakek tua itu. Kakek tua aneh dan labirin. Di balik tubuh
renta nya, tersimpan sesuatu yang mengejutkan.
Dengan penuh rasa tidak percaya, Sena
dihadapkan dengan hal yang mengejutkan. “Ada apa, anak muda?”(Kakek
Tua). “Mu...mustahil! Bagaimana bisa...”(Sena:Dalam Hati). “Hei, apa
sebegitunya kau harus terkejut dengan tubuhku, anak muda?”(Kakek Tua).
Sena perlahan berusaha menenangkan dirinya. “Kakek...kau
ini...sebenarnya siapa?”(Sena). Kakek tua itu terlihat bingung. “Apa
maksudmu, anak muda?”(Kakek Tua). “Kalau kakek ini hanya orang biasa,
maka tidak mungkin kakek punya lambang itu di punggung kakek.”(Sena).
Ternyata di punggung kakek tua itu terdapat sebuah lambang aneh yang
tidak asing bagi Sena. “Oh...lambang ini, ya?”(Kakek Tua). Kakek tua itu
melihat raut wajah Sena yang terlihat penasaran. “Haaaahhh...mau
bagaimana lagi? Ternyata kau sudah tau tentang lambang ini rupanya.
Padahal aku pikir kau tidak tau apa-apa karena berasal dari dunia
luar.”(Kakek Tua). “Kakek tau, jika aku bukan berasal dari dunia
ini?”(Sena). “Ya...begitulah. Tapi, sebelum ku ceritakan, ada baiknya
kau tepati janjimu dulu. Pungguku semakin gatal ini.”(Kakek Tua).
“Ba...baiklah...”(Sena).
Di sudut lain
labirin, terlihat Reo berjalan di salah satu jalur. “Apa?”(Reo).
Ternyata jalur yang dilalui Reo buntu. “Buntu? Tapi,
bukannya...”(Reo:Dalam Hati). Tiba-tiba, sebuah dinding bergerak dan
menutup jalur kembali Reo. “Sial! Ternyata aku sudah kena
jebakan!”(Reo:Dalam Hati). Dinding yang berada di kedua sisi Reo mulai
terbuka. “Mau bagaimana lagi...”(Reo:Dalam Hati). Dalam sekejap, sebuah
tombak cukup besar meluncur dari arah kiri Reo, namun Reo berhasil
menghancurkannya. “Hadapi saja lah!”(Reo). Sedangkan di sudut lain,
Putri Alice terlihat berhenti di sebuah persimpangan.
“Persimpangan?”(Putri Alice). Putri Alice terlihat mengeluarkan
kartunya. “Sebaiknya aku tentukan dulu jalur yang sekiranya aman.”(Putri
Alice:Dalam Hati). Saat Putri Alice sedang memperhatikan denah di
kartunya, tiba-tiba lantai labirin di bawah Putri Alice terbuka.
“Eh?”(Putri Alice). Putri Alice langsung meluncur ke dalam lubang
jebakan yang langsung tertutup. Di tempat Naria. Naria terlihat terus
berjalan menyusuri jalur di mana angin itu berasal. “Anginnya semakin
kencang saja?”(Naria). Setelah berjalan cukup lama, Naria pun sampai di
ujung jalur. “Apa ini?”(Naria). Di ujung jalur itu hanya ada sebuah
jurang kosong yang cukup dalam. “Apa maksudnya ini?”(Naria). Tiba-tiba,
sebuah dinding melesat dari arah belakang dan mendorong Naria hingga
jatuh ke jurang.
Kembali ke Sena. Sena
terlihat sedang menggaruk punggu kakek tua itu.
“Haaaahhh...enaknya...”(Kakek Tua). “Benar-benar kakek tua yang
aneh...”(Sena:Dalam Hati). Kakek tua itu terlihat senang dengan garukkan
Sena. “Baiklah, aku rasa itu sudah cukup, kan?”(Sena). “Ya...rasanya
sudah jauh baik. Terima kasih sekali lagi, anak muda.”(Kakek Tua).
“Bagaimana dengan janji kakek yang tadi?”(Sena). “Janji?”(Kakek Tua).
“Iya.”(Sena). Kakek tua itu terlihat berpikir. “Itu...janji apa, ya? Aku
lupa.”(Kakek Tua). Sena yang mendengarnya langsung jungkir balik.
“Ternyata kakek ini sudah pikun!!”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan
menarik nafas panjang sambil memegang kepalanya. “Kelihatannya ini akan
jauh lebih sulit dari perkiraanku...”(Sena:Dalam Hati). Sena tiba-tiba
teringat dengan sesuatu. “Tunggu dulu! Perasaan ini...rasanya ada yang
tidak asing...”(Sena:Dalam Hati). “Kau sudah sadar, ya?”(Kakek Tua).
Sena pun melihat ke arah kakek tua itu. “Apa mungkin...kakek
ini...”(Sena). Kakek tua itu terlihat tertawa. “Kenapa?”(Sena). “Tidak
ada apa-apa...hanya saja benar-benar mengejutkan, jika kau memang tidak
ingat denganku.”(Kakek Tua). “Jadi...kakek ini yang...”(Sena). “Tepat
sekali. Aku adalah kakek tua yang sudah mengirimu ke dunia ini.”(Kakek
Tua). “Sudah kuduga...tapi kenapa?”(Sena). “Sudah kubilang ceritanya
panjang, jadi tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk
membicarakannya.”(Kakek Tua). “Lalu, kita harus bagaimana?”(Sena). “Akan
ku tunggu kau di luar. Nanti jika kau berhasil keluar, aku akan
menemuimu.”(Kakek Tua). “Tunggu dulu! Kakek sendiri, bagaimana cara
kakek akan keluar dari sini?”(Sena). “Bukannya sudah ku bilang, aku yang
mengirim mu ke sini, jadi...”(Kakek Tua). “Jadi...”(Sena). “Aku bisa ke
mana pun aku mau, dah...”(Kakek Tua). “Tung...”(Sena). Tiba-tiba, kakek
tua itu menghilang. “Kakek itu benar-benar menghilang...”(Sena:Dalam
Hati). Bertemu kembali. Ke mana pun dan kapan pun, dia bisa lakukan apa
saja.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : Old Man Again and Who You Are"
Posting Komentar