Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

WRONG LIFE CHAPTER 2 : The Hero


Sena seakan tidak percaya dengan apa yang diceritakan Suto. “Itu...mustahil kan?”(Sena). “Itulah kenyataannya...Sena...”(Suto). Ryuto terlihat memikirkan sesuatu. “Kau pasti juga tau tentang hal ini, kan?”(Suto). Terlihat Suto melihat ke arah Ryuto yang hanya terdiam. “Ryuto...”(Sena:Dalam Hati). Suto sejenak memperhatikan pertarungan Kira. “Posisi itu...dia pasti akan melakukannya.”(Suto:Dalam Hati). Sena kembali melanjutkan pertanyaannya. “Lalu, apa alasan Kuroda mengincarku waktu itu?”(Sena). Suto kembali meneruskan ceritanya. “Dulu...Kira hanyalah seorang anak yatim piatu, sama sepertimu.”(Suto). “Eh...”(Sena). “Dia kehilangan kedua orangtuanya saat masih kecil. Dan selama itu juga, dia hanya tinggal bersama dengan kakeknya, jauh di daerah terpencil.”(Suto).

Sena terlihat teringat dengan Kira. “Pada pertarungan terakhir Domination State...”(Suto). Langit yang tadinya cerah mulai tertutup awan gelap. “Tepat pada saat itulah, dia bertemu denganmu, Sena.”(Suto). Pertarungan antara Kira dengan Kuroda mulai menunjukkan perubahan dengan apa yang dilakukan Kira. “Tidak mungkin, seharusnya dia sudah tidak punya tenaga untuk melakukannya.”(Kuroda:Dalam Hati). “Ada apa dengan ekspresi itu? Kelihatannya kau sudah tau apa yang akan aku lakukan.”(Kira). “Cih...”(Kuroda). Kuroda pun juga mengeluarkan kekuatan yang luar biasa.
Sena merasakan kekuatan mereka berdua semakin besar. Perlahan Sena mengingat apa yang terjadi waktu dulu. “Kira...”(Sena). “Sejak saat itu dan sampai detik ini, dia selalu percaya padamu.”(Suto).

“...”(Sena). “Dia percaya...bahwa kaulah satu-satunya orang yang akan membawa perubahan di masa depan, Sena.”(Suto). Sena hanya bisa terdiam mengetaui kenyataan itu. “Kenapa? Padahal...padahal aku...aku hanya bisa menyusahkannya, tapi kenapa?”(Sena). “Dia itu orangnya memang aneh...”(Ryuto). “Apa maksudmu?”(Sena). Ryuto terdiam sejenak. “Dialah yang telah membuatku berani untuk mengambil langkah ini, dan aku juga tidak menyangka dengan apa yang aku ketaui ini. Hanya saja...”(Ryuto). Suto terlihat memperhatikan Ryuto. “Walau kesal, entah kenapa aku tidak bisa mengelak dari apa yang telah dia berikan. Hanya itu...”(Ryuto). Dari kejauhan, Hana dan yang lainnya melihat apa yang dilakukan Kira. “Cahayanya...”(Hana). “Terang sekali...”(Tora).

“Bukannya, dia belum bisa menyempurnakannya?”(Tetsu). “Memang benar, tapi mungkin dengan dirinya yang sekarang, mungkin akan terjadi sesuatu.”(Kouta). “Jadi, kalian tau apa yang akan dilakukannnya?”(Uno). “Seperti itulah...”(Kouta). “Lalu apa yang akan dia lakukan?”(Mayumi). Kouta terdiam sejenak. “Mengakhiri segalanya...”(Kouta). “!!!”(Hana dan teman-temannya).
Kira dengan sekuat tenaga mengerahkan kekuatannya. “Tinggal sedikit lagi...”(Kira:Dalam Hati). “Jangan bercanda...”(Kuroda). Saat Kira tengah melakukan sesuatu, tiba-tiba Kuroda menusuk jantung Kira dengan cepat. “Tidak akan kubiarkan...”(Kuroda). Sena, Ryuto, dan Suto terlihat terkejut dengan apa yang dilihat oleh mata mereka. “Ke...kenapa...aku...tidak bisa...mengelak dari...serangannya...”(Kira). “Inilah akhirnya...Kira...”(Kuroda). “Kira!!”(Sena). Sena berteriak dengan sangat keras. Kira hanya terdiam dan teringat dengan masa lalunya. “Dulu...dulu sekali...kakek pernah bilang padaku...”(Kira). Kira teringat saat dia berbincang-bincang dengan kakeknya sewaktu kecil. Saat itu langit terlihat mendung. “Langitnya mendung, mungkin sebentar lagi akan hujan ya, Kek?”(Kira). “Kira, apa kau tau apa arti awan itu di kehidupan ini?”(Kakek Kira). “Memang apa?”(Kira). “Awan hitam itu, adalah perasaan dendam, kebencian, dan amarah manusia...”(Kakek Kira). Hujan perlahan turun. “Wah...hujan.”(Kira). “Pada akhirnya, semua itu hanya akan menciptakan hujan kesedihan, penderitaan, dan rasa sakit yang berkepanjangan...”(Kakek Kira). “Lalu, bagaimana caranya untuk menghentikan itu?”(Kira). Kakek Kira pun terdiam cukup lama. Tak lama berselang, hujan pun reda dan cahaya perlahan menembus awan hitam itu hingga memancarkan pelangi. “Lihat kek! Pelanginya...indah sekali, ya?”(Kira). “Hanya cahaya, Kira...”(Kakek Kira). “Cahaya?”(Kira). “Sama seperti dengan yang kau lihat sekarang, kakek percaya...suatu hari nanti, cahaya itu akan kembali dan menyinari hujan itu menjadi pelangi kebahagiaan, kebersamaan, dan perdamaian. Karena itu, kakek ingin kau menemukan cahaya itu, Kira.”(Kakek Kira). Kira terlihat memikirkan sesuatu. “Percayakan saja padaku! Aku pasti akan menemukannya, lalu akan kutunjukkan pada kakek!”(Kira). “Hahahaha...kau memang mirip dengan mereka, Kira.”(Kakek Kira). “Tentu saja! Aku kan anak mereka berdua.”(Kira). Seakan menangis. Hujan deras mulai membasahi medan pertempuran ini.
 Kira terlihat tidak berkutik dengan Skarb milik Kuroda yang menancap di jantungnya. “Semuanya yang kau percaya, hanya akan membuatmu tidak berdaya. Itulah kelemahanmu.”(Kuroda). Sena kembali berteriak dengan keras. “Jangan menyerah! Kira!”(Sena). Kira terlihat merespon Sena. “Kau sudah berjanji pada kakak, kan?! Kau akan membantuku untuk menjadi lebih kuat, hingga menjadi sepertimu! Karena itu, jangan kalah olehnya!”(Sena). Kuroda terlihat terganggu dengan teriakan Sena. “Berisik sekali. Kurasa aku harus benar-benar melenyapkannya juga.”(Kuroda). Saat Kuroda tidak memperhatikan, Kira memegang Skarb milik Kuroda yang menancap di jantungnya. “Kau salah besar...jika menganggap itu adalah kelemahanku...”(Kuroda). Kuroda terlihat terkejut melihat Kira yang masih bisa bergerak. “Justru itulah, yang membuatku, tidak pernah menyerah hingga akhir...”(Kira). Hujan terlihat berhenti dan cahaya perlahan mulai membus gelapnya awan. Tubuh Kuroda terlihat juga mengeluarkan cahaya. “Tidak bisa bergerak!”(Kuroda:Dalam Hati). “Aku mungkin tidak bisa melenyapkanmu sepenuhnya...”(Kira). Kuroda terlihat panik. “Mustahil! Seharusnya kau sudah...”(Kuroda). “Cahaya ini...”(Ryuto:Dalam Hati). “Tidak salah lagi...”(Suto:Dalam Hati). Dari tempat Hana dan yang lainnya, terlihat mereka melihat pancaran cahaya itu. “Itu?”(Hana). “Terang sekali.”(Tora). “Cahaya ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya. Apa benar dia akan melakukannya?”(Uno). Saat Uno tengah bertanya, terlihat Kouta dan Tetsu meneteskan air mata. “Kalian...”(Mayumi).

Kembali ke tempat Sena. “Ayo kita pergi dari sini.”(Suto). “Kenapa?”(Sena). “Dia telah mempercayakan semuanya padamu, kan? Karena itu, dia sudah tidak punya keraguan lagi dalam hatinya.”(Suto). “Apa maksudmu?”(Sena). Ryuto terlihat mulai berdiri. Suto terlihat memperhatikan Ryuto. “Kau pasti tau yang akan dilakukannya, jadi aku sarankan kau juga harus pergi sekarang.”(Suto). “Tak perlu kau beritau pun, aku juga sudah tau, lagi pula urusanku di sini juga sudah selesai.”(Ryuto). Ryuto terlihat akan pergi. “Kau temannya, kan? Pastikan Sena tidak menangis lagi setelah ini. Aku yakin Kira juga memikirkan hal yang sama.”(Ryuto). “Iya...”(Suto). Ryuto pun menghilang.

 “Ayo, kita juga pergi sekarang.”(Suto). “Tapi...”(Sena). “Kau sudah melakukan lebih dari cukup, setelah ini masih akan ada banyak hal yang harus kau lalui.”(Suto). Suto pun menarik Sena pergi dari tempat itu. “Oi! Tunggu dulu!”(Sena). Dengan raut wajah terpukul, Suto hanya bisa pergi membawa Sena ke tempat Hana dan yang lainnya. “Selamat jalan...kawan...”(Suto:Dalam Hati). Kira yang sedari tadi memperhatikan Sena dan Suto. “Dengan kondisimu yang sekarang, kau sama saja dengan bunuh diri.”(Kuroda). “Memang itu rencanaku sejak awal...”(Kira). Cahaya itu pun perlahan semakin terang dan menerangi seluruh tempat di hutan itu. Dalam cahaya itu, Kuroda terlihat kesakitan, sedangkan Kira hanya tersenyum. “Kau memang hebat, Kira...”(Kuroda). “Aku masih belum ada apa-apanya...”(Kira). Cahaya itu terus bersinar. “Karena kelak, kau pasti akan menemukan orang yang jauh lebih kuat dariku.”(Kira).  Kira teringat dengan Sena. “Sena...kau...pasti bisa menemukannya...aku percaya itu...”(Kira:Dalam Hati). Kilatan cahaya itu perlahan mulai menghilang, begitu juga dengan Kira dan Kuroda. Setelah semuanya sudah kembali normal, Sena dan semua yang ada di sana perlahan kembali ke tempat pertarungan Kira dan Kuroda.

Sama sekali tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada puing-puing pepohonan yang berserakan. Sena yang melihat itu langsung lemas dan seakan tidak percaya. “Dia...mengorbankan dirinya...untuk kita...”(Sena). Semua yang ada di sana hanya bisa terdiam dan terlihat menahan kesedihannya. Sena hanya bisa menagis dan meratapi apa yang terjadi. Sena teringat dengan saat di mana dia diselamatkan oleh Kira dulu. “Kau pasti akan jadi orang yang kuat, aku percaya padamu.”(Kira). Keesokkan harinya, Sena dan yang lainnya terlihat berada di kuil di hutan itu. Terdapat sebuah tugu di sana. Sena terlihat meletakkan karangan bunga di sana. “Dia adalah orang yang telah mendorongku sejauh ini...”(Sena). Tora dan yang lainnya berada di belakang Sena. “Aku sudah berjanji...tak akan kubiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Aku pasti akan melindungi semuanya dan menjadi lebih kuat.”(Sena). Tora terlihat mendekati Sena dan menepuk pundaknya. “Ayo kita pergi, Sena.”(Tora). “Iya...”(Sena). Dengan menundukkan kepala, mereka semua pergi meninggalkan tempat itu. Sena terus teringat saat-saat di mana dia berlatih bersama Kira di hutan itu. “Selamat jalan...Kira...”(Sena:Dalam Hati). Kepergian Sang Pahlawan telah membawa luka pada mereka semua.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 2 : The Hero"

Posting Komentar