Sena seakan tidak percaya dengan apa yang diceritakan Suto.
“Itu...mustahil kan?”(Sena). “Itulah kenyataannya...Sena...”(Suto).
Ryuto terlihat memikirkan sesuatu. “Kau pasti juga tau tentang hal ini,
kan?”(Suto). Terlihat Suto melihat ke arah Ryuto yang hanya terdiam.
“Ryuto...”(Sena:Dalam Hati). Suto sejenak memperhatikan pertarungan
Kira. “Posisi itu...dia pasti akan melakukannya.”(Suto:Dalam Hati). Sena
kembali melanjutkan pertanyaannya. “Lalu, apa alasan Kuroda mengincarku
waktu itu?”(Sena). Suto kembali meneruskan ceritanya. “Dulu...Kira
hanyalah seorang anak yatim piatu, sama sepertimu.”(Suto).
“Eh...”(Sena). “Dia kehilangan kedua orangtuanya saat masih kecil. Dan
selama itu juga, dia hanya tinggal bersama dengan kakeknya, jauh di
daerah terpencil.”(Suto).

Sena terlihat teringat dengan Kira. “Pada
pertarungan terakhir
Domination State...”(Suto). Langit yang
tadinya cerah mulai tertutup awan gelap. “Tepat pada saat itulah, dia
bertemu denganmu, Sena.”(Suto). Pertarungan antara Kira dengan Kuroda
mulai menunjukkan perubahan dengan apa yang dilakukan Kira. “Tidak
mungkin, seharusnya dia sudah tidak punya tenaga untuk
melakukannya.”(Kuroda:Dalam Hati). “Ada apa dengan ekspresi itu?
Kelihatannya kau sudah tau apa yang akan aku lakukan.”(Kira).
“Cih...”(Kuroda). Kuroda pun juga mengeluarkan kekuatan yang luar biasa.
Sena
merasakan kekuatan mereka berdua semakin besar. Perlahan Sena mengingat
apa yang terjadi waktu dulu. “Kira...”(Sena). “Sejak saat itu dan
sampai detik ini, dia selalu percaya padamu.”(Suto).
“...”(Sena). “Dia
percaya...bahwa kaulah satu-satunya orang yang akan membawa perubahan di
masa depan, Sena.”(Suto). Sena hanya bisa terdiam mengetaui kenyataan
itu. “Kenapa? Padahal...padahal aku...aku hanya bisa menyusahkannya,
tapi kenapa?”(Sena). “Dia itu orangnya memang aneh...”(Ryuto). “Apa
maksudmu?”(Sena). Ryuto terdiam sejenak. “Dialah yang telah membuatku
berani untuk mengambil langkah ini, dan aku juga tidak menyangka dengan
apa yang aku ketaui ini. Hanya saja...”(Ryuto). Suto terlihat
memperhatikan Ryuto. “Walau kesal, entah kenapa aku tidak bisa mengelak
dari apa yang telah dia berikan. Hanya itu...”(Ryuto). Dari kejauhan,
Hana dan yang lainnya melihat apa yang dilakukan Kira.
“Cahayanya...”(Hana). “Terang sekali...”(Tora).
“Bukannya, dia belum
bisa menyempurnakannya?”(Tetsu). “Memang benar, tapi mungkin dengan
dirinya yang sekarang, mungkin akan terjadi sesuatu.”(Kouta). “Jadi,
kalian tau apa yang akan dilakukannnya?”(Uno). “Seperti
itulah...”(Kouta). “Lalu apa yang akan dia lakukan?”(Mayumi). Kouta
terdiam sejenak. “Mengakhiri segalanya...”(Kouta). “!!!”(Hana dan
teman-temannya).
Kira dengan sekuat tenaga mengerahkan
kekuatannya. “Tinggal sedikit lagi...”(Kira:Dalam Hati). “Jangan
bercanda...”(Kuroda). Saat Kira tengah melakukan sesuatu, tiba-tiba
Kuroda menusuk jantung Kira dengan cepat. “Tidak akan
kubiarkan...”(Kuroda). Sena, Ryuto, dan Suto terlihat terkejut dengan
apa yang dilihat oleh mata mereka. “Ke...kenapa...aku...tidak
bisa...mengelak dari...serangannya...”(Kira). “Inilah
akhirnya...Kira...”(Kuroda). “Kira!!”(Sena). Sena berteriak dengan
sangat keras. Kira hanya terdiam dan teringat dengan masa lalunya.
“Dulu...dulu sekali...kakek pernah bilang padaku...”(Kira). Kira
teringat saat dia berbincang-bincang dengan kakeknya sewaktu kecil. Saat
itu langit terlihat mendung. “Langitnya mendung, mungkin sebentar lagi
akan hujan ya, Kek?”(Kira). “Kira, apa kau tau apa arti awan itu di
kehidupan ini?”(Kakek Kira). “Memang apa?”(Kira). “Awan hitam itu,
adalah perasaan dendam, kebencian, dan amarah manusia...”(Kakek Kira).
Hujan perlahan turun. “Wah...hujan.”(Kira). “Pada akhirnya, semua itu
hanya akan menciptakan hujan kesedihan, penderitaan, dan rasa sakit yang
berkepanjangan...”(Kakek Kira). “Lalu, bagaimana caranya untuk
menghentikan itu?”(Kira). Kakek Kira pun terdiam cukup lama. Tak lama
berselang, hujan pun reda dan cahaya perlahan menembus awan hitam itu
hingga memancarkan pelangi. “Lihat kek! Pelanginya...indah sekali,
ya?”(Kira). “Hanya cahaya, Kira...”(Kakek Kira). “Cahaya?”(Kira). “Sama
seperti dengan yang kau lihat sekarang, kakek percaya...suatu hari
nanti, cahaya itu akan kembali dan menyinari hujan itu menjadi pelangi
kebahagiaan, kebersamaan, dan perdamaian. Karena itu, kakek ingin kau
menemukan cahaya itu, Kira.”(Kakek Kira). Kira terlihat memikirkan
sesuatu. “Percayakan saja padaku! Aku pasti akan menemukannya, lalu akan
kutunjukkan pada kakek!”(Kira). “Hahahaha...kau memang mirip dengan
mereka, Kira.”(Kakek Kira). “Tentu saja! Aku kan anak mereka
berdua.”(Kira). Seakan menangis. Hujan deras mulai membasahi medan
pertempuran ini.
Kira terlihat tidak berkutik dengan
Skarb milik Kuroda yang
menancap di jantungnya. “Semuanya yang kau percaya, hanya akan
membuatmu tidak berdaya. Itulah kelemahanmu.”(Kuroda). Sena kembali
berteriak dengan keras. “Jangan menyerah! Kira!”(Sena). Kira terlihat
merespon Sena. “Kau sudah berjanji pada kakak, kan?! Kau akan membantuku
untuk menjadi lebih kuat, hingga menjadi sepertimu! Karena itu, jangan
kalah olehnya!”(Sena). Kuroda terlihat terganggu dengan teriakan Sena.
“Berisik sekali. Kurasa aku harus benar-benar melenyapkannya
juga.”(Kuroda). Saat Kuroda tidak memperhatikan, Kira memegang
Skarb
milik Kuroda yang menancap di jantungnya. “Kau salah besar...jika
menganggap itu adalah kelemahanku...”(Kuroda). Kuroda terlihat terkejut
melihat Kira yang masih bisa bergerak. “Justru itulah, yang membuatku,
tidak pernah menyerah hingga akhir...”(Kira). Hujan terlihat berhenti
dan cahaya perlahan mulai membus gelapnya awan. Tubuh Kuroda terlihat
juga mengeluarkan cahaya. “Tidak bisa bergerak!”(Kuroda:Dalam Hati).
“Aku mungkin tidak bisa melenyapkanmu sepenuhnya...”(Kira). Kuroda
terlihat panik. “Mustahil! Seharusnya kau sudah...”(Kuroda). “Cahaya
ini...”(Ryuto:Dalam Hati). “Tidak salah lagi...”(Suto:Dalam Hati). Dari
tempat Hana dan yang lainnya, terlihat mereka melihat pancaran cahaya
itu. “Itu?”(Hana). “Terang sekali.”(Tora). “Cahaya ini jauh lebih kuat
dari yang sebelumnya. Apa benar dia akan melakukannya?”(Uno). Saat Uno
tengah bertanya, terlihat Kouta dan Tetsu meneteskan air mata.
“Kalian...”(Mayumi).
Kembali ke tempat Sena. “Ayo kita pergi dari
sini.”(Suto). “Kenapa?”(Sena). “Dia telah mempercayakan semuanya padamu,
kan? Karena itu, dia sudah tidak punya keraguan lagi dalam
hatinya.”(Suto). “Apa maksudmu?”(Sena). Ryuto terlihat mulai berdiri.
Suto terlihat memperhatikan Ryuto. “Kau pasti tau yang akan
dilakukannya, jadi aku sarankan kau juga harus pergi sekarang.”(Suto).
“Tak perlu kau beritau pun, aku juga sudah tau, lagi pula urusanku di
sini juga sudah selesai.”(Ryuto). Ryuto terlihat akan pergi. “Kau
temannya, kan? Pastikan Sena tidak menangis lagi setelah ini. Aku yakin
Kira juga memikirkan hal yang sama.”(Ryuto). “Iya...”(Suto). Ryuto pun
menghilang.
“Ayo, kita juga pergi sekarang.”(Suto). “Tapi...”(Sena).
“Kau sudah melakukan lebih dari cukup, setelah ini masih akan ada banyak
hal yang harus kau lalui.”(Suto). Suto pun menarik Sena pergi dari
tempat itu. “Oi! Tunggu dulu!”(Sena). Dengan raut wajah terpukul, Suto
hanya bisa pergi membawa Sena ke tempat Hana dan yang lainnya. “Selamat
jalan...kawan...”(Suto:Dalam Hati). Kira yang sedari tadi memperhatikan
Sena dan Suto. “Dengan kondisimu yang sekarang, kau sama saja dengan
bunuh diri.”(Kuroda). “Memang itu rencanaku sejak awal...”(Kira). Cahaya
itu pun perlahan semakin terang dan menerangi seluruh tempat di hutan
itu. Dalam cahaya itu, Kuroda terlihat kesakitan, sedangkan Kira hanya
tersenyum. “Kau memang hebat, Kira...”(Kuroda). “Aku masih belum ada
apa-apanya...”(Kira). Cahaya itu terus bersinar. “Karena kelak, kau
pasti akan menemukan orang yang jauh lebih kuat dariku.”(Kira). Kira
teringat dengan Sena. “Sena...kau...pasti bisa menemukannya...aku
percaya itu...”(Kira:Dalam Hati). Kilatan cahaya itu perlahan mulai
menghilang, begitu juga dengan Kira dan Kuroda. Setelah semuanya sudah
kembali normal, Sena dan semua yang ada di sana perlahan kembali ke
tempat pertarungan Kira dan Kuroda.
Sama sekali tidak ada
siapa-siapa di sana, hanya ada puing-puing pepohonan yang berserakan.
Sena yang melihat itu langsung lemas dan seakan tidak percaya.
“Dia...mengorbankan dirinya...untuk kita...”(Sena). Semua yang ada di
sana hanya bisa terdiam dan terlihat menahan kesedihannya. Sena hanya
bisa menagis dan meratapi apa yang terjadi. Sena teringat dengan saat di
mana dia diselamatkan oleh Kira dulu. “Kau pasti akan jadi orang yang
kuat, aku percaya padamu.”(Kira). Keesokkan harinya, Sena dan yang
lainnya terlihat berada di kuil di hutan itu. Terdapat sebuah tugu di
sana. Sena terlihat meletakkan karangan bunga di sana. “Dia adalah orang
yang telah mendorongku sejauh ini...”(Sena). Tora dan yang lainnya
berada di belakang Sena. “Aku sudah berjanji...tak akan kubiarkan hal
seperti ini terjadi lagi. Aku pasti akan melindungi semuanya dan menjadi
lebih kuat.”(Sena). Tora terlihat mendekati Sena dan menepuk pundaknya.
“Ayo kita pergi, Sena.”(Tora). “Iya...”(Sena). Dengan menundukkan
kepala, mereka semua pergi meninggalkan tempat itu. Sena terus teringat
saat-saat di mana dia berlatih bersama Kira di hutan itu. “Selamat
jalan...Kira...”(Sena:Dalam Hati). Kepergian Sang Pahlawan telah membawa
luka pada mereka semua.
Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 2 : The Hero"
Posting Komentar