Salah satu monster berhasil menusuk Sena, sedangkan Putri Alice hanya bisa terpaku melihatnya. “Ti...tidak...”(Putri Alice). Perlahan Putri Alice terlihat lemas dan ketakutan melihat Sena. “Kenapa...kenapa harus terjadi lagi?? Kenpa??”(Putri Alice). Kedua monster yang lain perlahan mulai mendekati Putri Alice. Dengan sigap, para Furulu berusaha melindungi Putri Alice. “Tidak! Kalian cepat pergi! Kalian tidak akan bisa melawan mereka!”(Putri Alice). Salah satu monster perlahan mulai mengangkat cakarnya dan terlihat akan menyerang para Furulu dan Putri Alice. Tiba-tiba suara detakan yang cukup keras terasa ke seluruh penjuru. Krozen dan Sila yang berada di menara pulau merasakan detakan tersebut. “Ini...”(Krozen:Dalam Hati). “Aku rasa ada sesuatu yang terjadi.”(Sila). Di kota, Azrea juga merasakannya. “Sena...”(Azrea:Dalam Hati). Di tempat berbeda, Reo merasakan hal yang sama. “Tidak salah lagi...”(Reo:Dalam Hati). Di kerajaan, raja juga tersenyum saat merasakannya. “Sudah dimulai, ya...”(Raja). Kembali ke hutan, ketiga monster itu tiba-tiba diam tak bergerak. Putri Alice terlihat bingung. “Apa yang terjadi??”(Putri Alice:Dalam Hati). Suara detak tersebut ternyata berasal dari Sena yang ternyata masih hidup. Sena langsung menggenggam cakar monster yang menusuknya. Dengan satu genggaman, monster itu langsung hancur menjadi abu. Kedua monster yang sebelumnya akan menyerang Putri Alice langsung berbalik ke arah Sena. Sena perlahan berjalan mendekati kedua monster yang tersisa. Sena menunjukkan tatapan yang sangat tajam ke arah dua monster itu dan dengan satu tebasan, kedua monster itu langsung lenyap.
Putri Alice yang melihat hal tersebut seakan tidak percaya. “Kau...kau ini...siapa??”(Putri Alice). Sena terus berjalan ke arah Putri Alice. Para Furulu yang sebelumnya menjaga Putri Alice tidak berkutik saat Sena melewati mereka. Sena berdiri tepat di depan Putri Alice dengan seringai yang tajam sampai Putri Alice mulai ketakutan. “Kau...”(Putri Alice). Sena perlahan mengulurkan tangannya ke arah Putri Alice yang ketakutan. Saat tangan Sena hampir mencapai wajah Putri Alice, tiba-tiba Sena jatuh tak sadarkan diri. Putri Alice yang semula ketakutan langsung terkejut melihat Sena tersungkur di sampingnya dan berusaha membangunkan Sena. “Hei! Bangun! Hei!!”(Putri Alice). Setelah cukup lama, Sena perlahan mulai siuman. “Kau tidak apa-apa?”(Putri Alice). “Apa yang terjadi?”(Sena). “Kau tidak ingat?”(Putri Alice). “Memang ada apa??”(Sena). “Kau tadi berhasil melenyapkan ketiga monster itu, kau tidak ingat??”(Putri Alice). Sena terlihat bingung. “Mmmmm...aku tidak mengingatnya terlalu jelas, tapi yang aku ingat, aku ditusuk oleh salah satu monster itu dan setelahnya aku tidak ingat.”(Sena). “Aneh juga...”(Putri Alice). “Tapi, apa aku benar mengalahkan mereka?”(Sena). “Iya...tapi, kau terlihat aneh, kau mendekatiku lalu pingsan.” (Putri Alice). “Begitu ya...Aku tidak terlalu ingat, tapi yang aku rasakan...tubuhku seakan-akan menjadi ringan dan...seperti bergerak di luar kemauanku...”(Sena).
Sena perlahan teringat dengan apa yang dikatakan Reo dan Krozen dulu. “Apa mungkin...”(Sena:Dalam Hati). “Tapi, aku merasa kau sangat berbeda saat kau mendekatiku tadi, sekujur tubuhku langsung menggigil ketakutan entah kenapa.”(Putri Alice). “Maaf...aku jadi membuatmu takut.”(Sena). “Tidak apa-apa...Oh iya, ngomong-ngomong kau siapa?? Tadi kau bilang kau datang ke hutan ini untuk menjadi lebih kuat dan mengubah dunia ini, kan??”(Putri Alice). “Ya, begitulah...namaku Miyazaki Sena, sebenarnya aku berasal dari dunia lain. Aku datang ke dunia ini untuk mencari tau tentang orangtuaku, tapi aku dengar kalau dunia ini sedang dalam masalah, makanya aku memutuskan untuk mengembalikan dunia ini seperti seharusnya.”(Sena). Putri Alice terlihat teringat sesuatu. “Dunia lain...”(Putri Alice). “Iya...memang kenapa??”(Sena). “Lucifer...orang yang telah mengambil kerajaan, dia berasal dunia lain yang mungkin sama denganmu.”(Putri Alice). “Maksudmu?”(Sena). Dia yang membawa kehancuran adalah orang yang sama dengan Sena.
Putri Alice mengungkapkan hal yang benar-benar membuat Sena terkejut sekaligus bingung. “Tunggu dulu, aku memang sudah tau kalau dia berasal dari dunia lain, tapi apa kau yakin dia sama dengan ku?”(Sena). “Aku sudah berurusan dengannya bukan hanya sekedar satu atau dua hari, jadi aku tau seperti apa dia...dan saat kau kehilangan kesadaranmu tadi, itu benar-benar mengingatkanku pada hal yang selama ini telah membuat semuanya seperti sekarang.”(Putri Alice). Sena langsung diam tak berkutik mendengar pengakuan Putri Alice. Suasana menjadi hening, setelah sekian lama, Sena terlihat mulai bicara. “Mungkin kau benar...tapi...”(Sena). “...”(Putri Alice). Sena pun berdiri dan menepuk dadanya. “Aku sudah berjanji...aku pasti akan menghajarnya...jadi, aku tidak akan mungkin menjadi seperti dia...pasti!!”(Sena). Putri Alice terlihat kagum melihat tekad Sena. “Tidak kusangka...ternyata ada orang sepertimu...”(Putri Alice). “Mmmmm...”(Sena). “Aku rasa...dunia ini benar-benar beruntung karena kedatanganmu, walaupun itu belum sepenuhnya.”(Putri Alice). Sena yang mendengar itu langsung tersenyum. “Hehehehehe...Serahkan semuanya padaku!”(Sena). Mereka pun tertawa bersama.
Di sebuah bar di kota, ada beberapa orang yang sedang membicarakan sesuatu. “Jadi...tinggal satu bulan lagi, ya??”(Unknow 1). “Tahun ini pasti akan jadi menarik. Bagaimana menurutmu?”(Unknow 2). “Aku lebih tertarik pada mereka yang sudah mengalahkan monster di Hutan Minefield.”(Unknow 3). Terlihat salah satu dari orang itu sedang membaca surat kabar. “Mereka ya...memang sayang sekali, padahal monster itu cukup berharga, tapi apa boleh buat. Tujuan kita sekarang adalah dia.”(Unknow 2). “Benar juga, jika kita bisa mengalahkannya...dunia ini akan jadi milik kita.”(Unknow 1). Kembali ke hutan, Putri Alice terlihat melambaikan tangan ke arah para Furulu. “Semoga kita bisa bertemu lagi...”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice terlihat mulai bergerak, dan meninggalkan para Furulu yang menetap di tempat itu. “Baiklah, sebaiknya kita harus cepat menuju ke menara utama. Aku yakin Krozen sudah menunggu kita di sana.”(Sena). Putri Alice terlihat terkejut mendengar nama Krozen. “Tunggu dulu, kau tadi bilang Krozen?”(Putri Alice). “Iya, memang kau kenal dengannya?”(Sena). “Tentu saja, dia dulu adalah salah satu panglima terkuat yang merupakan tangan kanan ayahku. Saat Lucifer mengambil alih kerajaan, dia berjuang mati-matian bersama pasukan lain untuk menghentikannya dan ku kira dia sudah tewas bersama para pasukan itu.”(Putri Alice). “Dia masih hidup kok, dia justru yang membawaku ke tempat ini untuk latihan.”(Sena). Putri Alice terlihat senang mendengar bahwa Krozen masih hidup. “Begitu ya, syukurlah jika dia masih hidup.”(Putri Alice). “Kalau begitu, kita tidak boleh buang-buang waktu, kita harus segera bertemu dengannya dan memberitaunya.”(Sena). “Iya!”(Putri Alice). Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke menara pulau.
Di tempat lain. Terlihat Azrea sedang berhenti di depan sebuah pohon. “Apa yang harus aku lakukan?”(Azrea:Dalam Hati). Dari arah belakang, terlihat seseorang menepuk bahu Azrea. “!!!”(Azrea). Azrea pun dengan spontan menoleh dan ternyata orang tersebut adalah Reo. “Ka...kakak...”(Azrea). “Di mana mereka?”(Reo). “I...itu...”(Azrea). Reo terlihat menghela nafas. “Cepatlah kembali ke rumah, biar aku yang mengurus semuanya.”(Reo). “Ta...tapi kak?”(Azrea). “Tenang saja, aku pasti akan kembali. Sebaiknya kau istirahat saja, aku sudah buatkan makan malam, kau makanlah duluan.”(Reo). “Kakak...”(Azrea). Reo pun pergi meninggalkan Azrea. Kembali ke hutan, Sena dan Putri Alice terlihat sampai di sebuah rawa. “Rawa ini benar-benar menyusahkan.”(Sena). Putri Alice terlihat merasakan sesuatu. “Aku rasa, ada yang aneh dari rawa ini.”(Putri Alice). “Itulah hal yang aku rasakan dari tadi, tapi rasanya bukan hanya itu...”(Sena). Tiba-tiba kabut tebal menutupi mereka hingga mereka tidak bisa melihat satu sama lain dan hanya bisa mendengar suara masing-masing. “Sena!”(Putri Alice). “Iya, aku di sini!”(Sena). Sena langsung teringat dengan perkataan Sila sewaktu Sena baru sampai di pulau. “Putri! Apapun yang terjadi tutup matamu dan jangan bergerak!”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara aneh dari balik tebalnya kabut. Tantangan yang semakin menegangkan. Menembus kabut yang menyembunyikan ancaman.

Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 12 Resurrection and I Won’t Change"
Posting Komentar