(Something Important)
Azrea terlihat terdiam
saat mendapat pertanyaan dari Reo. “Kalau aku ingat-ingat lagi, bukankah
itu tempat di mana lukamu yang dulu itu berada? Apa telah terjadi
sesuatu dengan luka itu?”(Reo). Dengan berat, Azrea terlihat berusaha
mengelak. “Itu memang benar. Kan, aku tadi sudah mengatakan kalau aku
terlalu banyak bekerja akhir-akhir ini, jadi mungkin itu juga
berpengaruh ke lukanya.”(Azrea). Reo terlihat memperhatikan ekspresi
Azrea. “Hhmmm...tapi kau tau tidak?”(Reo). “Tau? Apa, kak?”(Azrea). Reo
terdiam sejenak. “Semenjak ayah dan ibu meninggal...bahkan saat kau
masih selalu menangis dulu sekali, aku sudah sangat hafal dengan
perilakumu.”(Reo). Azrea terlihat terkejut mendengarnya, sedangkan Reo
hanya menghela nafas panjang. “Kalau kau memang tidak mau mengatakannya,
ya tidak apa-apa. Tapi, jika kau ingin memberitauku sesuatu...”(Reo).
Reo terlihat memegang kepala Azrea. “Aku akan selalu ada kapan pun &
di mana pun kau butuhkan.”(Reo). Azrea terlihat mulai tenang.
“Iya...”(Azrea).

Sena terlihat baru saja kembali. “Ini
airnya.”(Sena). “Ya, terima kasih. Kau bisa taruh airnya di dekat
meja.”(Reo). “Kakak dan Sena sebaiknya juga segera sarapan dan bersiap.
Hari ini adalah babak terakhir, kan?”(Azrea). “Oke, kalau begitu...ayo
kita makan bersama!”(Reo). “Baiklah.”(Sena). Sementara itu. Di kerajaan,
terlihat seseorang sedang menghadap Raja Lucifer. “Yang
Mulia...”(Unknow). “Bagaimana kondisinya?”(Lucifer). “Semuanya sudah
siap. Tinggal memulai saja.”(Unknow). Raja Lucifer terlihat tersenyum.
“Baiklah...aku rasa, bagian klimaksnya akan bisa kita saksikan
secepatnya.”(Lucfer). Kembali ke rumah Reo. Setelah sarapan, terlihat
Sena dan Reo akan meninggalkan rumah. “Karena ini adalah acara yang
besar, mungkin hari ini kedai libur dan aku bisa melihat kakak dan Sena
berjuang secara langsung.”(Azrea). “Kalau begitu, kita tidak boleh
setengah-setengah nanti, Reo. Kita akan di saksikan banyak orang,
lo.”(Sena). “Ya, tapi kau nanti akan ke kerajaan pusat dengan
apa?”(Reo). “Mungkin aku akan meminta tumpangan bibi pemilik kedai, jadi
aku mungkin agak terlambat sampainya.”(Azrea). “Tidak masalah. Yang
penting kau sudah datang menonton, itu sudah cukup buat kakak.”(Reo).
“Ya.”(Azrea).
Sena dan Reo terlihat berjalan menuju ke
pusat desa. “Ngomong-ngomong, kita nanti mau ke sana naik apa?”(Sena).
“Kalau itu, aku sudah bilang ke paman kemarin, untuk mengantarkan kita
ke kerajaan pusat.”(Reo). Sena yang mendengarnya menjadi terlihat agak
cemas. “Hei, apa kau yakin kita akan naik hewan aneh itu lagi?”(Sena).
“Ya, mau bagaimana lagi? Satu-satunya kendaraan yang bisa membawa kita
ke tujuan tepat waktu, ya hanya itu.”(Reo). Sena terlihat terkejut.
“Kalau tau begini, lebih baik aku tadi bangun pagi-pagi dan berlari
saja.”(Sena). Reo yang mendengar perkataan Sena langsung tertawa. “Kau
ini bagaimana? Walau pun kau mau bangun sepagi apapun, kau tidak akan
mampu sampai ke sana dalam sehari hanya dengan berlari.”(Reo). Sena
terlihat jadi murung. “Akhirnya ketemu juga...”(Unknow). Terlihat
seseorang sedang berdiri di depan Sena dan Reo. “Kau kan...”(Sena).
Ternyata orang itu adalah Fiona. “Senang rasanya bisa bertemu kalian
lagi.”(Fiona). “Kau sendiri...kenapa kau bisa ada di sini?”(Sena). “Aku
kan tinggal di sini. Oh ya, selamat ya, aku dengar kalian telah lolos
sampai babak terakhir.”(Fiona). “Ya begitulah...”(Reo). Fiona terdiam
sejenak “Ngomong-ngomong Reo, ada hal yang ingin aku bicarakan
denganmu.”(Fiona). “Benarkah? Memang ada hal apa?”(Reo). “Sebaiknya kita
bicarakan ini di tempat biasanya, ini adalah hal yang sangat
penting.”(Fiona). “Penting?”(Sena). “Apa yang ingin kau
bicarakan?”(Reo). Fiona terlihat membisikkan sesuatu pada Reo. “Ini
tentang Azrea.”(Fiona). Reo terlihat terkejut mendengarnya. Dalam
perjalanan menuju babak penentuan. Telah berdiri tembok penghadang yang
menyimpan kunci kebenaran itu.
(What I Can Do)
Fiona terlihat membawa Reo ke
suatu tempat. “Baiklah...kita sudah sampai. Jadi, apa yang ingin kau
bicarakan tentang Azrea.”(Reo). Fiona terlihat teringat dengan sesuatu.
“Kau tentu masih ingat dengan luka yang dia dapat waktu kejadian lima
tahun lalu?”(Fiona). Reo sontak teringat dengan kejadian tadi pagi. “Ya,
tapi apa hubungannya?”(Reo). “Luka itu timbul lagi...bahkan terus
bertambah buruk. Apa kau tau itu?”(Fiona). Reo terlihat terkejut
mendengarnya. “Hei, aku sama sekali tidak paham dengan yang kau maksud.
Apa ini hanya sebuah gurauan?”(Reo). “Kalau aku memang bergurau, aku
tidak akan mungkin menarikmu ke sini dan bicara empat mata
denganmu.”(Fiona). Reo terlihat seakan tidak percaya. “Memang benar,
tadi pagi dia sempat terlihat kesakitan di lengan kirinya, tapi dia
hanya bilang kalau itu karena dia terlalu banyak bekerja akhir-akhir
ini.”(Reo). Fiona terlihat menatap Reo dengan tajam. “Itu bukan karena
dia terlalu banyak bekerja. Kau tentu tau seperti apa pekerjaannya, jadi
tidak mungkin pekerjaannya akan membuat luka di lengan kirinya
memburuk.”(Fiona). “Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?”(Reo).
Sena
terlihat sedang menunggu Reo dan Fiona di bawah sebuah pohon di pinggir
jalan. “Bagaimana ini? Kalau tidak cepat, kita bisa
ketinggalan.”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat memandang langit.
“Tapi...apa yang mereka bicarakan, ya? Kelihatannya serius
sekali...”(Sena:Dalam Hati). Sena tiba-tiba terpikir sesuatu.
“Ja...jangan-jangan...Fiona akan...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat
membayangkan hal yang aneh-aneh. “Tidak! Tidak! Tidak! Mana mungkin dia
begitu. Ini kan masalah serius. Mungkin saja soal yang hanya mereka
berdua yang tau...”(Sena:Dalam Hati). Kembali ke Reo. Reo terlihat
tercengang mendengar semua yang dikatakan Fiona. “Kenapa bisa
begini?”(Reo). “Aku tidak tau pasti...tapi ini bukanlah masalah yang
sepele. Ini sudah menyangkut hidup adikmu.”(Fiona). “Lalu, kenapa dia
tidak bilang padaku sejak awal?!”(Reo). “Kalau masalah itu...”(Fiona).
Reo terlihat akan berlari, namun Fiona menarik tangannya. “Jangan
sekarang...”(Fiona). “Tapi, aku ingin mendengarnya! Mendengar semua
kebenaran ini dari Azrea langsung!”(Reo). “Inilah alasannya dia tak mau
bilang padamu!”(Fiona). Reo terlihat terdiam. “Sebagai kakak, aku tau
kau mencemaskannya, tapi dia yang sebagai adikmu juga tau, kalau dia
tidak seharusnya membebanimu dengan hal seperti ini.”(Fiona).
Reo
terlihat menahan emosinya. “Dia hanya ingin kau bisa meraih apa yang
kau mau...meski itu harus mengorbankan nyawanya...”(Fiona).
“Lantas...”(Reo). Reo terlihat meneteskan air mata. “Kenapa kau harus
memberitauku soal ini?”(Reo). “Karena aku bukanlah orang yang egois
untuk membohongi sahabatku sendiri, ingat itu.”(Fiona). Reo terlihat
teringat sesuatu. “Satu-satunya cara agar adikmu bisa tetap hidup, hanya
dengan memenangkan event ini, walau aku tau itu berat.”(Fiona). Fiona
terlihat melepaskan tangan Reo. “Kita ini mungkin hidup di dunia yang
berbeda...tapi kita pernah tumbuh dan bermain bersama, itulah alasanku
memberitaumu agar kau tau yang sebenarnya dan segera membuat keputusan
tepat, karena dia itu adikmu.”(Fiona). “Ya...aku tau...”(Reo). Setelah
agak lama, terlihat Reo dan Fiona kembali ke tempat Sena. “Akhirnya
datang juga, ku kira kalian pergi ke mana...”(Sena). Reo terlihat
mendekati Sena. “Untuk bisa menyelamatkan Azrea...”(Reo:Dalam Hati).
“Kalian berdua berjuanglah!”(Fiona). “Ya!”(Sena). Reo terlihat
menunjukkan ekspresi yang serius. “Aku harus bisa menang di babak
terakhir ini!”(Reo:Dalam Hati). Rahasia sang adik telah mengubahnya.
Bukan demi dirinya, namun demi semua orang dan juga nyawa adiknya
tercinta.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Something Important and What I Can Do"
Posting Komentar