Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Di apartementnya, Sena
terlihat baru saja bangun. Sena terbangun dengan menunjukkan ekspresi
yang berat. Sena keluar dari apartementnya untuk pergi sekolah. Terlihat
Tora sudah menunggunya. “Ayo berangkat!”(Tora). “Ah...”(Sena).
Sepanjang perjalanan, Sena hanya terdiam dan tak berbicara sepatah kata
pun. “Oi, kau kenapa?”(Tora). “Eh, tidak...tidak ada apa-apa.”(Sena).
Sena terus saja terdiam sementara Tora terus memperhatikannya dari tadi.
Setelah agak lama berjalan, mereka pun sampai di sekolah. “Hei Sena,
nanti jangan lupa traktir aku seperti biasa, ya.”(Tora). “Iya...”(Sena).
Tora yang melihat ekspresi Sena seperti itu sejak tadi mulai tidak
tahan dan mulai mengacak-acak wajah Sena. “Aaaahhhh...aku sudah tidak
tahan! Mana sih, ekspresi biasamu itu?”(Tora). “Hei, hentikan! Sakit
tau.”(Sena). “Habis, kau selalu saja seperti itu.”(Tora). “Maaf, aku
hanya sedang banyak pikiran akhir-akhir ini.”(Sena). “Selalu memberi
alasan itu. Aku tidak peduli! Kau harus benar-benar mentraktirku,
mengerti!”(Tora). “Iya...aku tau, sudah dulu, ya.”(Sena). Sena berjalan
menuju kelas. “Haaahhh...memang sulit ternyata.”(Tora).
Di dalam
kelas, Sena perlahan mendekati bangkunya. Hana yang sudah datang sedari
tadi mulai menyapa Sena. “Pagi, Sena.”(Hana). “Pagi...”(Sena).
“Bagaimana keadaanmu?”(Hana). “Ya beginilah, tidak ada yang
berubah.”(Sena). Sena duduk, dan terlihat melamun. “Sena! Sena!”(Hana).
“Eh, maaf, ada apa, Hana?”(Sena). “Lagi-lagi kau melamun. Kau masih
memikirkannya, ya?”(Hana). Sena terdiam sejenak. “Begitulah, tapi aku
sudah tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.”(Sena). “Maksudmu?”(Hana).
“Hanya saja, ada yang mengganjal dalam hatiku, entah apa itu?”(Sena).

“Begitu rupanya. Ngomong-ngomong, kau sudah bertemu dengan Kak Suto dan
yang lainnya, belum?”(Hana). “Tidak, aku sama sekali tidak tau di mana
mereka sekarang.”(Sena). “Benar juga...”(Hana). Saki yang baru saja
datang, perlahan mendekati Hana. “Sudah jangan pikirkan dia, Hana. Dia
memang seperti itu kok.”’(Saki). “Saki...”(Hana). Saki terlihat
memperhatikan Sena. “Oi, jangan melamun terus! Nanti kau bisa kerasukkan
tau.”(Saki). “Haaahhh...iya aku tau, cerewet.”(Sena). “Tuh kan, dia
baik-baik saja.”(Saki). “Ya, mungkin kau benar.”(Hana). “Tidak perlu
mengkhawatirkanku kok, aku baik-baik saja.”(Sena). Tak lama berselang,
Ryuto ikut masuk ke kelas. “Anak itu, ya?”(Saki). Ryuto terlihat
mendekati Sena. “Ada apa?”(Sena). “Ada hal yang ingin aku bicaraka
denganmu.”(Ryuto). “Apa? Soal yang waktu itu?”(Sena). “Temui aku di atap
sekolah seusai jam pelajaran nanti.”(Ryuto). Sena terlihat agak
bingung. “Baiklah...”(Sena). “Jangan bilang kau mau menantangnya lagi,
ya?”(Saki). “Tenang saja, aku sudah tidak tertarik untuk
melakukannnya.”(Ryuto). Saki terlihat kesal. “Apa?!”(Saki). “Jangan
sampai lupa, Sena.”(Ryuto). “Ya...iya...”(Sena). Ryuto pun pergi ke
bangkunya. “Dia itu memang aneh, seminggu dia tidak bicara apa-apa,
sekarang dia malah menyuruh orang lain.”(Saki). “Apa tidak
apa-apa?”(Hana). “Tenang saja, dia sudah berjanji kan, jadi aku rasa
tidak apa-apa.”(Sena).
Bel tanda akhir pelajaran pun berbunyi.
“Baiklah, jangan lupa untuk mengumpulkan tugas kalian besok
pagi.”(Yunoaki Sensei). “Baik!’(Semua Murid). Sena terlihat akan pergi.
“Hana, tolong bilang pada Tora untuk pulang duluan. Aku tadi lupa
memberitaunya.”(Sena). “Iya, kau juga hati-hati.”(Hana). “Ya.”(Sena).
Ryuto pun mendekati Sena. “Ayo...”(Ryuto). Sena dan Ryuto pun sampai di
atap sekolah. “Nah, sekarang...apa yang ingin kau bicarakan?”(Sena).
Ryuto terdiam sejenak. “Kau tau, apa yang aku temukan selama seminggu
ini?”(Ryuto). “Maksudmu?”(Sena). “Jujur saja, seminggu ini aku terus
berkomunikasi dengan mereka.”(Ryuto). “Mereka siapa?”(Sena).
“Teman-teman Kira. Orang-orang yang kau cari selama seminggu
ini.”(Ryuto). “Lalu, di mana mereka?”(Sena). “Mereka sekarang mungkin
sudah tidak di kota ini lagi.”(Ryuto). “Kenapa kau tidak memberitauku
lebih awal?”(Sena). “Mereka yang menyuruhku untuk merahasiakannya
darimu, dan lagi...mereka sekarang sedang melakukan sesuatu yang sangat
penting.”(Ryuto). “Memang, apa yang mereka lakukan?”(Sena). “Mereka
sedang mencaritau sebuah informasi yang aku juga sama sekali tidak
tau.”(Ryuto). “Begitu...”(Sena). “Tapi...”(Ryuto). Ryuto mengambil
sesuatu dari sakunya dan melemparkannya ke Sena. “Apa ini?”(Sena).
“Mereka ingin kau menjaganya.”(Ryuto). “Maksudnya?”(Sena). “Itu adalah
pecahan dari
Artefak...benda berharga yang selama ini telah di
jaga oleh orangtuamu.”(Ryuto). Sena terlihat terkejut. Satu lagi hal
yang mengejutkan telah muncul. Peninggalan dua orang yang sangat
berharga telah ada di genggaman tangannya.
Sena menerima sebuah benda yang sangat berhubungan dengan
orangtuanya. “Orangtuaku? Kenapa bisa?”(Sena). “Karena, orangtuamu
bukanlah manusia biasa.”(Ryuto). “Apa?”(Sena). “Mereka juga seorang
Hyper, sama seperti kita.”(Ryuto). Sena terlihat terkejut. “Mereka adalah
Hyper
khusus yang memang bertugas untuk menjaga benda itu sejak
dulu.”(Ryuto). Sena dengan rasa tidak percaya terlihat memperhatikan
dengan seksama benda itu dan mencoba mengingat-ingat kembali tentang
orangtuanya. “Apa aku bisa percaya padamu?”(Sena). “Terserah kau, mau
percaya atau tidak, tapi yang jelas itulah hal yang ingin mereka
beritaukan padamu.”(Ryuto). Sena terdiam sejenak. “Kalau memang
benar...lalu kenapa kau sekarang justru mau melakukan hal yang sama
sekali tidak ada kaitannya denganmu seperti ini?”(Sena). “Bukannya tidak
ada...”(Ryuto). “Apa maksudmu?”(Sena). “Kelak kau juga akan tau. Aku
hanya tidak mau berhutang budi pada siapa pun.”(Ryuto). Ryuto terlihat
melompat dan berdiri di pinggir atap. “Hei! Kau mau ke mana?”(Sena).
“Tugasku hanya itu saja, sisanya caritaulah sendiri.”(Ryuto). Ryuto pun
terjun dan menghilang. “Sebenarnya, apa yang ada
dipikirannya?”(Sena:Dalam Hati).
Sena pun akhirnya pulang, dan
terus terpikirkan dengan benda itu. “Mmmm...sebenarnya benda apa ini?
Kenapa ayah dan ibu menjaganya? Terlebih lagi, Kak Yuki tidak pernah
cerita soal ini. Tapi mungkin itu karena Kak Yuki memang takut aku
mengetauinya. Kan ini ada hubungannya dengan
Hyper, walau pun pada akhirnya Kak Yuki juga percaya padaku sebagai
Hyper.”(Sena:Dalam
Hati). Setelah lama berjalan, Sena sampai di apartementnya. Saat Sena
akan menuju ke kamarnya, terlihat Hana sudah berdiri di luar pintu. “Oh,
akhirnya kau pulang.”(Hana). “Hana? Kenapa kau ke mari?”(Sena).
“Sebenarnya, aku masih khawatir dengan keadaanmu akhir-akhir ini, jadi
aku putuskan untuk ke mari sambil membawakanmu makanan.”(Hana). “Terima
kasih, ya...maaf jika sudah merepotkanmu dan membuatmu khawatir,
terlebih lagi...kata-kataku waktu itu...”(Sena). “Tidak apa-apa kok.
Semuanya kan sudah berlalu, jadi aku sudah tidak terlalu
memikirkannya.”(Hana). Sen terdiam sejenak, lalu membuka pintu. “Kalau
begitu, ayo masuk.”(Sena). Sena dan Hana pun masuk ke dalam apartement
Sena. “Duduklah dulu, biarku buatkan teh.”(Sena). “I...iya.”(Hana). Sena
pun pergi ke dapur, sedangkan Hana duduk sambil memperhatikan kamar
Sena. “Memang sih...ini bukan pertama kalinya, tapi...”(Hana:Dalam
Hati). Wajah Hana terlihat agak gugup. Setelah agak lama, Sena pun
kembali sambi membawa teh. “Maaf telah membuatmu menunggu.”(Sena). Hana
terlihat terkejut. “Eh, tidak kok.”(Hana). “Kau kenapa?”(Sena). “Tidak,
itu...hanya lihat-lihat saja.”(Hana). “Hhhmmm...”(Sena). Sena pun
meletakkan teh di meja. “Ayo, diminum.”(Sena). “Iya...”(Hana). Sena dan
Hana pun meminum teh lalu diam seribu bahasa.
Hana memperhatikan
Sena yang sedari tadi terlihat memikirkan sesuatu. “Sena...”(Hana:Dalam
Hati). Sena pun tiba-tiba melihat ke arah Hana. Hana pun terkejut dan
langsung memalingkan wajahnya. “Kau masih khawatir, ya?”(Sena).
“Mmmm...iya.”(Hana). “Memang, sejak saat itu, aku agak sulit untuk
menjadi seperti biasanya, tapi bukan berarti aku terus bersedih karena
hal itu.”(Sena). “Lalu...kenapa kau selalu begitu seminggu ini? Jujur
kami semua selalu khawatir padamu.”(Hana). “Itu...aku hanya terpikir
dengan banyak hal yang selama ini terus menjadi pertanyaan dalam
diriku.”(Sena). “Pertanyaan?”(Hana). “Ya. Aku rasa...aku sendiri juga
tidak tau apa itu.”(Sena). Hana terlihat memperhatikan Sena. “Dan selama
seminggu ini juga, aku berusaha untuk mencari keberadaan Suto dan yang
lainnya, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil.”(Sena). “Benar juga,
aku juga sudah tidak mendengar kabar mereka semenjak kejadian
itu.”(Hana). “Dan kau tau apa lagi yang aneh?”(Sena). “Memang
apa?”(Hana). Sena menunjukkan benda yang sebelumnya diberikan oleh
Ryuto. “Benda apa ini?”(Hana). “Ryuto yang memberikannya saat kami
bertemu di atap sekolah tadi. Dia bilang, benda ini ada kaitannya dengan
kedua orangtuaku.”(Sena). Hana terlihat terkejut.
“Orangtuamu? Tapi
mereka...eh, ma...maaf, bukan maksudku untuk...”(Hana). “Tidak apa-apa,
tapi Ryuto bilang, dia hanya ditugaskan oleh Suto dan yang lainnya untuk
memberikan ini padaku.”(Sena). “Kenapa begitu? Bukannya akan lebih baik
jika...”(Hana). “Aku juga berpikir begitu, dan sampai saat ini, hal
itulah yang masih menjadi pertanyaan bagiku.”(Sena). Misteri demi
misteri kembali berdatangan dan mulai menghantuinya.
Belum ada tanggapan untuk "WRONG LIFE CHAPTER 3 : Just Alright"
Posting Komentar